Rabu, 03 Januari 2018

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Al-Qur’an secara bahasa berasal dari bahasa arab, yaitu qara’a-yaqra’u-qur’aanan, artinya membaca. Dia adalah Kalam Allah. Kalam1 berarti bicara atau firman. Kalam Allah itu:
 “Tuntunan, yang merupakan harta terbesar manusia, telah diturunkan kepada umat manusia melalui wahyu ilahi, dan dikomunikasikan kepada seluruh manusia melalui utusan (Rasul) Allah.”2 “Al-Qur’an merupakan kita suci bagi umat Islam yang menjadi petunjuk bagi manusia untuk memperoleh kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat”3
Bila kita gabungkan 2 (dua) definisi di atas  dapatlah kita ambil suatu kesimpulan bahwa Al-Qur’an baru bisa dianggap sebagai harta terbesar yang mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat  ketika Al-Qur’an dijadikan sebagai petunjuk. Di sinilah letak keunikan Al-Qur’an, yang berbeda dari buku-buku atau literatur lain. Bahwa dia harus diimani dan mendekatinya benar-benar untuk dijadikan pedoman dalam menempuh kehidupan.
Maka pada hakekatnya Al-Qur’an telah mendidik Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sendiri telah mengakuinya dalam sabdanya:
أَدَّبَنِيْ رَبّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ
Tuhanku telah mendidikku maka Dia telah membaikkan pendidikanku.”4
Keberhasilan Allah (Al-Qur’an) dalam mendidik Nabi Muhammad SAW –sehingga menjadikannya manusia terbaik sepanjang sejarah manusia dimana Michael H. Heart5 dalam bukunya, menempat Muhammad SAW sebagai orang nomor satu dari seratus tokoh yang berpengaruh di dunia- menjadi penulis berminat untuk mengkaji tentang apakah tujuan pendidikan manusia dalam Al-Qur’anul karim. Sehingga Nabi Muhammad SAW dimuliakan/dido’akan umat Islam dalam shalawatnya.
B.  Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu apakah tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an?
C.  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tujuan pendidikan dalam Al-Qur’anul karim.
D.  Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan manfaat untuk:
1.      Memenuhi tugas penulis pada mata kuliah Paradigma pendidikan dalam Al-Qur’an di Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana IAIN Bukittinggi
2.      Sebagai khazanah keilmuan Islam khususnya dalam hal tujuan pendidikan dalam Al-Qur’anul karim


BAB II
PEMBAHASAN

Allah SWT berfirman:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”6
Ayat diatas menegaskan bahwa ‘ad daar’, yang berarti kampung atau negeri, ada dua, yaitu kampung atau negeri akhirat dan negeri dunia. Maka Allah SWT menyuruh setiap hamba-Nya untuk mencari kebahagiaan pada dua dunia itu.
Dengan demikian dapatlah dipahami dan diambil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an itu adalah agar manusia terdidik dan dapat mencapai kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.
Oleh karenanya, dapatlah kita buatkan bahwa tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an itu ada dua, yaitu: pertama, tujuan jangka panjang yakni kampung akhirat, dan kedua, tujuan jangka pendek yakni kehidupan di dunia ini.

Selanjutnya Ibnu Katsir menuliskan tafsir ayat di atas7 dengan menyebutkan bahwa apa yang Allah berikan bagimu berupa harta dan kenikmatan yang tak terhaingga hendaklah dipergunakan untuk taat kepada-Nya. Sebab dengan itulah kamu dapat pahala di akhirat. Dan jangan lupa kehidupanmu di dunia, sebab bagi Allah ada hak atas dirimu,  dirimu ada hak atasmu, bagi istrimu ada hak atas dirimu, keluargamu ada hak atas mu maka datangkanlah bagi mereka hak-haknya.
Demikianlah ibnu Katsir menguraikan tentang kandungan ayat 77 Surat Al-Qashash ini. Diman intinya adalah bahwa dunia merupakan alat untuk taat kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya agar dapat bahagia di akhirat kelak.
Zakiah Daradjat menerjemahkan tujuan pendidikan itu ada 4 (empat)8, yakni: Tujuan umum, tujuan akhir, tujuan sementara, dan tujuan operasional. Penulis akan menguraikan empat hal ini:
A.    Tujuan Umum Pendidikan dalam Al-Qur’an
Tujuan umum dalam Al-Qur’an didasarkan tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”9

Menurut al-Qurthubi, liya’buduni dimaknai dengan liyuwahhiduni dalam arti meng-Esa-kan Allah.10 Al-Qurthubi juga mengutip pernyataan ‘Ali Radiyallahu ‘anh, ayat ini menunjukkan perintah untuk beribadah kepada Allah bagi umat manusia. Serta mengutip pernyataan Mujahd bahwa ayat ini menunjukkan agar jin dan khususnya manusia lebih mengenal Allah
Dari tiga pendapat di atas dapatlah dikaitkan bahwa dengan mengenal Allah hendaknyalah manusia itu dapat beribadah kepada Allah sehingga pengesaan Allah benar-benar melekat pada diri manusia. Penegasan yang ditetapkan dalam kandungan ayat ini bahwa kehidupan manusia mulai dia lahir sampai wafatnya hendaklah dalam kategori mengibadahi Allah.
Tujuan umum ini menghendaki tujuan-tujuan yang lain, seperti:
1.      Mengenalkan manusia akan peranannya di antara sesama makhluk dan tanggung jawab pribadinya di dalam hidup ini.
Tanggung jawab pribadinya yang utama adalah sebagai khalifah Allah di muka bumi. Seperti diungkapkan dalam firman Allah berikut:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”11
Demikian pula firman Allah, seperti di bawah ini:

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”12
Untuk mewujudkan tugas sebagai khalifah maka Allah memerintahkan agar manusia itu menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik. Sesuai dengan isyaratnya dalam Al-Qur’an:
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”13

Hanyalah dengan akhlak yang agung tugas kekhalifahan akan dapat diwujudkan secara maksimal dan optimal. Peribadi yang tanpa cacat dan celalah yang bisa memberikan    kemakmuran di bumi serta lingkungannya.
Selain akhlak yang agung juga seorang khalifah memiliki identitas sebagai umat terbaik. Sebagaiman firman-Nya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.14
Umat terbaik dalam ayat di atas memiliki 3 ciri, yaitu: 1. Menyuruh kepada yang ma'ruf, 2. mencegah dari yang munkar, dan 3. beriman kepada Allah. Dengan demikian akhirnya dapatlah dimengerti bahwa kekhalifahan merupakan alat untuk taat dan patuh dalam penegakan syariat Allah.
Kemudian dalam upaya menjadi umat terbaik maka -perlu dalam penerapannya- seorang hamba Allah hendaklah melestarikan nilai-nilai budaya yang telah melembaga pada masyarakat yang tidak bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang tersirat dalam firman Allah:

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.15
Aplikasi seorang muslim yang sebagai rahmat bagi alam adalah berupa perilaku yang menenteramkan kehidupan masyarakat. Ini bisa dibuktikan salah satunya dengan memelihara nilai budaya masyarakat.
Untuk mewujudkan perilaku baik haruslah didasari oleh keseimbangan. Kesimbangan visi hidup untuk meraih akhirat dan dunia. Allah menegaskan:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.16
Perhatikan pulalah ayat Al-Qur’an berikut:

Negeri akhirat17 itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik)18 itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.19
Sesungguhnya dasar ibadah, akhlak, dan menjadi umat terbaik adalah ketika seorang hamba memiliki fokus utama dalam hidupnya berupa sejahtera di akhirat. Dan baginya dunia adalah alat untuk mencapai bahagia di akhirat.
2.      Mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat
Berinteraksi sosial merupakan maksud keberagaman masyarakat. Keberagaman itu misalnya berupa bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Allah berfirman:

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.20

Hidupnya seorang muslim di tengah keberagaman itu hendaknya tetap memelihara kedekatannya kepada Allah. Kedekatan itu berupa baik dalam akhlak yang baik ataupun lainnya.
Hal yang demikian terkandung dalam  firman Allah berikut:

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.21

Di tengah bermacamnya bentuk fisik, tingkah laku, dan perilaku manusia tentulah ada di antara mereka yang jahat. Kejahatan itu hendaklah dibalas dengan kebaikan, sebagai seorang yang memiliki akhlak yang agung. Bila mereka menyapa dengan kata tidak senonoh, hendaklah dijawab dengan kata yang mengandung doa keselamatan bagi mereka.

3.      Mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberikan kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat dari alam tersebut.
Allah telah menundukkan alam semesta untuk pemenuhan kebutuhan manusia, sebagaimana dalam firman-fiman-Nya di bawah ini:

32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. 33. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. 34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).22

Juga firman-Nya:

“12. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya), 13. Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. 14. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. 15. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.23

Seperti firman Allah:
Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.24

B.     Tujuan Akhir Pendidikan Islam
Tujuan akhir pendidikan Islam adalah agar mereka bahagia di kampung akhirat. Kampung akhirat adalah kehidupan setelah kematian. Mulai dari alam barzakh/kubur, ba’ts/berbangkit, mahsyar/berkumpul, hisab/perhitungan amal (ketika di dunia), fil jannah aw finnar (di dalam surga atau neraka).
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya25:

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’”

Ini menunjukkan bahwa tujuan hakiki dari kehidupan ini adalah kebahagian sampai di kehidupan akhirat kelak. Diman setiap hamba Allah harus dan wajib mengupayakannya dengan beramal di dunia ini. Dengan kata lain: dunia adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat menerima balasannya

C.    Tujuan Sementara Pendidikan Islam
Akhir kehidupan dunia ini adalah detik terakhir nafas sebelum ruh berpisah dari jasad manusia. Ketika ruh berpisah dari jasad, itu merupakan batas pisah antara kehidupan dunia dengan akhirat. Ketika tujuan akhir manusia itu adalah bahagia (masuk surga) di akhirat, maka tujuan sementara itu adalah bagaiman seorang muslim detik terakhir kehidupannya adalah dalam husnul khatimah (baik di akhirnya)
Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam".26

Firman Allah di atas menegaskan supaya kematian kita itu sebagai kematian yang husnul khatimah. Kematian yang tetap dalam ajaran agama Islam. Oleh karena itu, Allah menyuruh orang yang beriman untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Maka inilah tugas seorang mukmin supaya mempertahankan ketakwaan dalam tiap denyut nafasnya.
D.    Tujuan Operasional Pendidikan Islam
Pendidikan Islam tertuang dalam bentuk lembaga-lembaga. Lembaga-lembaga memiliki tujuan berjangka-jangka. Mulai dari program kerja harian,  per semester, per tahun. Disebut  program jangka pendek. Kemudian program jangka menengah sekitar 5 tahun. Kemudian program jangkap panjang 10 tahun ke atas.
Jangka-jangka dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam menegaskan adanya aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan dalam tiap nafas kehidupan. Yang dengan itu manusia sebagai peserta didik dapat memelihara dirinya agar tetap mendekatkan diri pada Allah.


BAB III
KESIMPULAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis  menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an terangkup dalam Surat Al-Qashas ayat 77 yang menunjukkan bahwa: Pertama tujuan untuk kebahagiaan jangkap panjang,  yaitu hidup di kampung akhirat/setelah kematian. Kedua tujuan untuk kebahagiaan jangka pendek, yakni hidup di dunia.
Dunia adalah alat untuk kebahagiaan memperoleh kebahagiaan di kampung akhrat. Dengan kata lain, dunia bukan  tujuan, tapi dia adalah sarana dalam mencapai sukses akhirat.

B.     Penutup
Penulis menyadari kekurangan dan kekhilafan dalam makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca penulis harapkan agar sempurna makalah ini


Catatan kaki:

1  Kamus Bahasa Arab Mahmud Yunus
2  Thomas Ballantine Irving dkk,  Al-Qur’an tentang Aqidah & Segala Amal – Ibadah Kita, Buku asli: The al-Qur’an: Basic Teacings diterjemahkan oleh A. Nashir Budiman, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), Cet. ke-2, Hal. 3
3 HM. Ashaf Shaleh, Takwa Makna dan Hikmahnya dalam Al-Qur’an, Editor: Setya Bhawono dan Sayed Mahdi, (Jakarta: Erlangga), Hal. ix
4 Hadits
5  Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, http://pakdenono.com file zip, soft copy
6  Q.S Al-Qashash (28): 77
7 Ismail bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi Ad-Dimasqi, Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, Tahqiq: Musami bin Muhammad As-Salamah. Juz ke-6: Nur – Yasin, (Saudi Arabia: daarul Tahyyibah lin-Nasyri wat-Tauzii’, 1999) Cet. ke-2, Hal. 253-254
8  Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000), Cet. IV, Hal. 30-33
9   Op.Cit. Adz-Dzariayat (51): 56
10  As’aril Muhajir, Tujuan Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an al-tahrir ( 2011) vol.11, no. 2, hal. 13
11  Ibid. Al-Baqarah (2): 30
12  Ibid. Al-An’am (6): 165
13 Ibid, Al-Qalam (68): 4
14  Ibid. Ali Imran (3): 110
15 Ibid. Al-Anbiya’ (21): 107
16 Ibid. Al-Qashash (28): 77
17 Yang dimaksud kampung akhirat di sini ialah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat.
18  Maksudnya: syurga.
19 Op.Cit. Al-Qashash (28): 83
20 Ibid. Al-Qashash (28): 77
21 Yang dimaksud kampung akhirat di sini ialah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat.
22 Maksudnya: syurga.
23 Op.Cit. Al-Qashash (28): 83
24 Ibid. Al-Hujurat (49): 13
25 Ibid. Al-Baqarah (2): 201
26 Ibid. Ali Imran (3): 102




DAFTAR PUSTAKA

Al-Quranul Karim dan Terjemahannya

Ad-Dimasqi, Ismail bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, Tahqiq: Musami bin Muhammad As-Salamah. Juz ke-6: Nur – Yasin, (Saudi Arabia: daarul Tahyyibah lin-Nasyri wat-Tauzii’, 1999) Cet. ke-2

Daradjat, Zakiah Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000), Cet. IV,

Hart,  Michael H. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, http://pakdenono.com file zip, soft copy
Irving dkk, Thomas Ballantine  Al-Qur’an tentang Aqidah & Segala Amal – Ibadah Kita, Buku asli: The al-Qur’an: Basic Teacings diterjemahkan oleh A. Nashir Budiman, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), Cet. ke-2,[1] HM. Ashaf Shaleh, Takwa Makna dan Hikmahnya dalam Al-Qur’an, Editor: Setya Bhawono dan Sayed Mahdi, (Jakarta: Erlangga), Hal. Ix
Muhajir,  As’aril Tujuan Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an al-tahrir ( 2011) vol.11, no. 2

Yunus, Mahmud,  Kamus Bahasa Arab

Catatan: Makalah ini disampaikan dalam mata kuliah Paradigma Pendidikan dalam Al-Qur’an Jurusan PAI di Pascasarjana IAIN Bukittinggi tanggal 19 November 2017

Diposkan oleh HM Farid Wajri RM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar