https://youtu.be/ga2HazMlEuU
Kamis, 13 Juli 2017
KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP PENDIDIKAN
Hampir semua orang dikenai pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dari kehidupan manusia. Tidak dibedakan apakah sudah tua atau anak-anak, dewasa atau remaja, sudah uzur atau balita. Semuanya sama. Sama-sama dilibatkan atau melibatkan diri dalam pendidikan.
Keterlibatan ini berawal sejak ia dilahirkan, dan berakhir tatkala kematian merenggut jiwanya. Ada 3 peran pendidikan yang harus digapai oleh anak manusia seoptimal dan semaksimal mungkin selama hidup:
1. Setiap insan haruslah mampu memanusiakan dirinya.
Setiap insan hendaklah dapat meninggikan harkat kemanusiaan. Menunjukkan secara nyata bahwa mereka manusiawi.
a. Kebenaran dan makhluk yang bernama manusia
Al insaanu hayawaanun ‘aaqil, manusia adalah hewan yang berakal, begitu kata orang bijak. Dengan akalnyalah manusia dapat berpikir. Dengan berpikir manusia bisa membedakan yang baik dan buruk. Dapat pula memisahkan mana yang bermanfaat buat dirinya dan mana yang tidak, atau yang membahayakan dirinya.
Kata hewan dipermisalkan oleh Allah bagi manusia dengan firman-Nya: ulaa’ika kal an’aam,manusia-manusia itu seperti hewan. Manusia yang manakah? Yaitu mereka yang punya mata tapi tak dapat melihat kebenaran dengan mata itu, mereka punya telinga tapi tak bisa mendengar kebenaran dengan telinga itu, dan mereka punya hati tapi tak mampu memahami kebenaran dengan hati itu. Dengan arti kata akal mereka belum berfungsi dengan benar.
Kemiripan manusia dengan hewan pada kepemilikan bentuk-bentuk fisik. Keduanya sama-sama memiliki telinga, kulit, mata, hati dan lain-lain. Apakah bermanfaat pada hewan tatkala disampaikan kebenaran kepada mereka? Seperti berbuat adillah sesamamu!
Tidak. Sekali-kali tidak. Karena yang ada pada mereka tubuh kasar tanpa dibekali akal, tempat mereka berpikir.
Berbeda dengan manusia. Bila diminta mereka untuk berlaku adil, akan mengerti. Karena akal dan pikiran yang dilebihkan kepada mereka atas binatang.
Pendidikan dimaksud untuk menjadikan mereka benar-benar sebagai manusia dan berkemanusiaan. Manusia dan kemanusiaan itu hendaknyalah sejalan. Sama langkah dalam melalui tahap-tahap kehidupan sepanjang hayat.
Kemanusiaan identik dengan budi pekerti, akhlak, atau moralitas. Keterlibatan manusia dalam pendidikan mestilah diarahkan untuk peningkatan budi pekerti dan akhlak. Kalau tidak belumlah berhasil manusia itu menamai dirinya sebagai manusia sejati.
b. Memanusiakan anak manusia.
Anak manusia akan menjadi manusia hanya bila ia menerima pendidikan. Anak manusia bila dibesarkan oleh seekor binatang di tengah hutan akan bertingkah seperti binatang sebab tingkah laku binatang itulah yang sempat ia tiru. Dalam hal ini jelaslah bahwa ia tidak menjadi manusia baik ditinjau dari segi penampilan maupun dari segi kejiwaan. Oleh sebab itu, untuk membuat anak manusia menjadi manusia mutlak diperlukan pendidikan.
Binatang hidup dengan insting, atau naluri. Insting, atau naluri adalah suatu pembawaan sejak lahir yang tidak perlu dipelajari terlebih dahulu. Yang termasuk insting manusia antara lain sikap melindungi anak, rasa cinta terhadap anak, bayi menangis, kemampuan menyusu air susu ibu, dan merasakan kehangatan dekapan ibu.
Seiring dengan perkembangan pikiran anak manusia tersebut, semakin berkembang pulalah sikapnya terhadap keluarga dan lingkungan. Orang tua sangat berperan mengarahkan anak ini menuju kesempurnaan pada tiap tahap kehidupannya, dan juga sangat dominan meningkatkan hidup sang anak dari cara yang alamiah menjadi berbudaya.
2. Setiap insan harus berhasil membudayakan dirinya.
Sebenarnya manusia itu memiliki perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan ke arah yang lebih baik yang dipunyai manusia merupakan modal utama menuju cara hidup yang lebih layak. Cara hidup yang sudah berhasil dikembangkan oleh manusia itu dinamakan budaya.
Prof. Dr. Made Pidarta menyatakan bahwa budaya adalah segala hasil pikiran, perasaan, kemauan, dan karya manusia secara individual atau kelompok untuk meningkatkan hidup dan kehidupan manusia.
Manusia sebagai subjek dan sekali gus objek kebudayaan memiliki beragam dimensi selain dimensi pikiran, perasaan, kemauan, dan karya sebagai diungkapkan oleh Prof. Dr. Made Pidarta di atas.
Prof. Hj. Zakiah Daradjat, dalam bukunya pendidikan islam dalam keluarga dan sekolahmenyebutkan bahwa bila dikaitkan dengan pendidikan maka dimensi-dimensi manusia itu ada tujuh ragam, yaitu dimensi fisik, akal, iman, akhlak, kejiwaan, keindahan, dan sosial-kemasyarakatan.
Masih banyak lagi dimensi-dimensi manusia yang lain. Mulai dari perkembangan kesehatan, keterampilan, motivasi, niat dan macam-macam yang lain.
Begitulah manusia dibebani tanggung jawab pada tiap dimensi tubuhnya. Tanggung jawab itu berupa mengisi tiap dimensi agar tumbuh ke arah kesempurnaan. Supaya tujuan tanggung jawab ini tercapai secara baik maka tiap dimensi mestilah didasari oleh kebudayaan.
Ada lima komponen utama kebudayaan, yaitu gagasan, ideologi, norma, teknologi, dan benda. Komponen satu sampai empat bersifat abstrak, sedangkan terakhir bersifat konkrit. Komponen gagasan misalnya tentang penegakan syariat islam dan kembali ke surau. Komponen ideologi misalnya ideologi Pancasila, Pluralisme, dan Islam. Contoh-contoh norma antara lain sikap hormat kepada orang tua, menghargai pendapat orang lain. Teknologi misalnya teknologi hujan buatan, prinsip pembanguan jalan layang, prinsip membuat kendaraan yang digerakkan oleh energi matahari.
Kebudayaan erat kaitannya dengan pendidikan. Kebudayaan diwujudkan setelah adanya pendidikan. Pendidikan yang baik menghasilkan kebudayaan yang baik. Sebaliknya pendidikan yang tidak berkualitas berdampak pada kebudayaan yang bobrok. Jadi Pendidikan membuat orang berbudaya.
Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan. Makin banyak orang menerima pendidikan makin berbudaya orang itu. Dan makin tinggi kebudayaan makin tinggi pula pendidikan atau cara mendidik orang tersebut.
Mendidik orang berarti meningkatkan mutu jasmani dan rohani orang tersebut menuju kondisi yang lebih sempurna lagi bermartabat. Disamping itu mendidik orang sekali gus berarti mempertahankan kebudayaan yang telah ada. Berbicara mengenai mempertahankan kebudayaan ini menyangkut memelihara kelanjutan hidup manusia.
3. Setiap insan harus berupaya memelihara kelanjutan hidupnya.
Cara hidup yang sudah ada diupayakan untuk dipertahankan. Yang dipelihara itu adalah kuantitasnya. Jika seorang menejer yang baru diangkat sudah mempunyai aset perusahaan senilai sembilan ratus juta rupiah. Tugas pokoknya yaitu memelihara aset ini agar tidak mengalami penyusutan.
Disamping kuantitas, yang tidak kalah penting untuk dipertahankan yaitu kualitasnya. Kualitas ialah mutu hidup dan kehidupan. Bila dalam bulan ini seorang anak dapat makan empat sehat lima sempurna, dimana selain daging, sayur, nasi, dan buah, ditambah pula dengan susu, sehingga dengan susu mutu makanan yang masuk lebih terjamin, pada bulan-bulan mendatang ini sebaiknya terus dipelihara.
Jika buku-buku seorang guru dirapikan, kebersihan ruangan dan perangkat mengajarnya terjaga, keindahan tata letak barang-barang dan benda-bendanya diatur, maka semua ini lanjut diterapkan.
Manakala pelaksanaan kegiatan seorang pemimpin sudah tepat waktu dan sasaran sesuai dengan program kerja yang telah direncanakan, maka pengabadian mutu hidup serupa ini layak dan harus dipertahankan.
Segala bentuk ril kuantitas dan kualitas hidup apabila dipandang dari aspek pendidikan modern ada dua paradigma:
1. manusia yang belum sampai ke taraf seperti itu dibekali dengan ilmu, baik ilmu mengenai aspek kejasmanian ataupun aspek kerohanian, dan
2. yang telah berjalan di atasnya, agar terus mengembangkan.
Dimensi apapun dari dimensi-dimensi manusia berupayalah selalu agar apa yang sudah ada dapat pula dikembangkan. Sehingga semakin tercipta keadaan yang lebih bagus, budaya yang lebih baik pada dimensi yang bersangkutan. Dimensi yang sudah mapan diupayakan untuk terus dimekarkan, sementara yang belum mapan perlu dibekali dengan alat berupa ilmu. Pemekaran dimaksud supaya tercipta ilmu baru. Ilmu baru artinya budaya yang makin berkemajuan. Pembekalan dengan ilmu ditujukan agar tercapai titik kemapanan. Kemapanan dan budaya yang makin berkemajuan adalah sasaran akhir pada tiap pendidikan di setiap dimensi manusia. Tak dibedakan manusia jenis apakah ia. Selagi ia bernama manusia dan dilahirkan dari perut manusia maka ia berhak memperoleh hasil pendidikan seperti ini.
Kata John Dewey, makhluk hidup memelihara kelanjutan hidupnya agar tercipta pembaruan dalam dirinya. Pembaruan hanya dapat berlaku, manakala manusia sebagai subjek kehidupan berani try and try, coba dan mencoba. Hal yang baru yang didapati dari pengalaman yang banyaklah yang akan menghasilkan pembaruan yang berkualitas. Pengalaman yang banyak adalah akibat sering melakukan percobaan, tidak sedikit mengembangkan pengamatan dan penelitian di samping tetap mempertahankan yang sudah dimiliki.
Penutup
Sesungguhnya keterlibatan manusia dalam pendidikan adalah suatu keniscayaan yang melekat pada dirinya. Manusia tidak dapat tidak mesti berpacu memupuk dirinya dengan pengalaman. The experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang paling baik. Pengalaman itu ada dua modelnya, pertama teoritis, kedua praktis. Pengalaman teoritis diperoleh melalui membaca, mendengar, serta melihat yang dilakukan oleh orang lain hingga diri sendiri pun berhasil menyimpulkan secara teori tentang cara atau metode pelaksanaannya. Pengalaman praktis didapati dengan amal diri. Amal diri yakni diri sendiri melakukan, mengalami kejadian, kemudian berinprovisasi dan menilai pengalaman itu dari segi kebenaran serta ketepatan, seterusnya menetapkan yang tepat serta yang benar dan mengabaikan yang keliru serta yang salah, untuk selanjutnya yang terakhir konsisten memelihara yang sudah ditetapkan itu dalam melakukan hal yang sama di lain tempat dan waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’aanul Karim
Daradjat, Zakiah, 1994, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, cet. 1 Ruhama, Jakarta
Pidarta, Made, 1997, Landasan Pendidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, Cet. 1 Rineka Cipta, Jakarta
Prasetya, 2002, Filsafat Pendidikan, Cet. 2 Pustaka Setia, Bandung.
Diposkan oleh HM Farid Wajri RM
Diposkan oleh HM Farid Wajri RM
KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Pengantar
Konsep pendidikan seumur hidup didasari dari
sabda Rasulullah s.a.w. yang artinya: “tuntutlah ilmu itu dari buaian sampai ke
liang lahad”
Bila kita kaitkan dengan sabda Nabi s.a.w yang
lain yang artinya: “setiap yang dilahirkan itu terlahir/dilahirkan dalam
keadaan fitrah/suci”. Suci maksudnya belum ternoda oleh dosa dan kesalahan
kepada sang khalik.
Maka dengan demikian ada isyarat dalam ajaran
agama islam itu bahwa manusia sejak ia bayi sudah harus mempertahankan
kefitrahannya/kesuciannya dari noda dan perbuatan dosa kepada Penciptanya
sampai ia meninggalkan dunia fana.
Pemertahanan kesucian itu terwujud dalam islam
berupa sebelum seseorang akil baligh (masa dimana beban tanggungjawabnya
sebagai hamba Allah sudah dipikul, bila berbuat taat mendapat pahala, dan jika
berbuat kemaksiatan mendapat dosa dari Allah) ia dianggap belum lagi ternoda
dan belum ditimpakan kesalahan yang ia perbuat kepadanya.
Oleh karenanya seorang manusia sebelum ia akil
baligh dituntut menyerap ilmu yang baik agar dapat kritis terhadap
lingkungannya termasuk ayah dan ibunya. Ketika seorang anak Sekolah Dasar sudah
menuntut ilmu tentang do’a sebelum makan dan saat pulang dirumah ia dapati
kedua orang tuanya belum lagi membaca do’a, anak ini diminta untuk menyampaikan
kepada orang tuanya sebab sang anak sudah berilmu. Ilmu yang baik dan sikap
kritis ini sejak dini harus diupayakan oleh setiap individu untuk persiapannya
dalam perjuangan yang lebih berat dan penuh resiko mulai ia akil baligh sampai
kehidupannya terakhir di dunia
Lima
Konsep Kunci dalam Pendidikan Seumur Hidup
1. Konsep pendidikan seumur hidup itu
sendiri
Konsep pendidikan seumur hidup diartikan sebagai
tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan
pengalaman-pengalaman pendidikan. Pengalaman pendidikan sang anak tentang ilmu
do’a yang ia peroleh haruslah ia bangunkan untuk pengejawantahan dan penerapan
ilmu itu bagi dirinya dan keluarganya serta lingkungannya, sebab untuk sebuah
‘penerapan lah’ suatu ilmu dituntut.
2. Konsep belajar seumur hidup.
Belajar seumur hidup diartikan bahwa seseorang
dapat belajar dan berkewajiban mengajar agar ia dapat ilmu baru karena
mengajarkan ilmu, tidak hanya di sekolah tapi juga dari orang-orang yang
berpengalaman di bidang ilmu yang kita butuhkan.
3. Konsep pelajar seumur hidup.
Pelajar seumur hidup diartikan sebagai bahwa
saat tiap nafas yang ia tarik dan hembuskan padanya ada kewajiban pada
peningkatan cara menghadapi dunia. Menghadapi dunia yang terus berkembang tidak
dapat kecuali hanyalah dengan penambahan ilmu beserta pengalaman kehidupan.
Menjadikan tiap gerak dan langkah guna penambahan ilmu serta pengalaman itulah
yang dimaksud dengan sebagai kesadaran bahwa ia adalah seorang pelajar seumur
hidup.
4. Konsep bahwa pendidikan seumur hidup
merupakan tanggung
jawab pribadi seseorang dari buaian sampai
ke liang lahat.
Dalam rangka mempertahankan kesuciannya
seseorang dituntut untuk aktif dalam setiap kesempatan. Sementara orang tua dan
keluarga serta lingkungan termasuk pemerintah berkewajiban untuk memfasilitasi
seseorang. Orang tua memasukkan anaknya ke sekolah yang baik, pemerintah
membangun sekolah yang baik, masyarakatpun demikian mengawasi pelaksanaan
Proses Belajar Mengajar (PBM) pada sebuah sekolah. Namun hakekat lebih luas
dari itu, sekolah bukan hanya sekolah formal yang kita alami tapi masyarakat
atau tingkah dan pola pemerintah merupakan sekolah yang tak ternilai harganya.
Menjanga kesucian tadi adalah dengan mengakrabi tiap individu yang berkompeten
dan berwenang, baik pada masyarakat, pemerintah dan keluarga.
5. Kurikulum yang membantu pendidikan
seumur hidup.
Orang tua, masyarakat dan pemerintah perlu
mendesain sebuah kurikulum dan situasi dimana dengan masing-masing keduanya itu
seorang individu bisa belajar bagaimana hidup dan menghadapi kehidupan masa
sekarang begitu pula untuk tujuan di masa mendatang.
Ciri-ciri
Pendidikan Seumur Hidup.
Prof. Dr. Umar Tirtarahadja dalam bukunya Pengantar Pendidikan (2005)
menuliskan tentang empat ciri-ciri pendidikan seumur hidup, yakni:
1. Memisahkan tembok pemisah antara pendidikan sekolah dengan
lingkungan nyata luar sekolah.
2. Pendidikan seumur hidup menempatkan belajar bagian integral dari
proses hidup.
3. Pendidikan seumur hidup lebih mengutamakan pembekalan hidup dan
metode dari pada isi pendidikan.
4. Pendidikan seumur hidup menempatkan peserta didik sebagai individu
yang menjadi pelaku utama di dalam proses pendidikan yang menyuruh pada
pendidikan diri sendiri, atau memiliki kepribadian yang aktif kreatif, tekun,
bebas dan bertanggung jawab, tabah, dan tahan banting serta yang sejalan dengan
penciptaan masyarakat gemar membaca (learning
society)
5. Pendidikan seumur hidup menegaskan dan menekankan bahwa tiap
individu adalah objek dan sekali gus subjek pendidikan. Objek karena ia
merupakan orang yang dikenai pengaruh oleh lingkungan dalam pandangan
pendidikan, oleh karenanya hendaklah ia selalu waspada untuk memanfaatkan
setiap informasi pengalaman positif dari tempat lingkungannya hidup. Subjek
karena ia dituntut untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik dan berkualitas
sesuai dengan tuntutan ilmu secara adil dan ideal.
6. Sejak seseorang sudah akil baligh, ada beban dosa yang akan ia
tanggung manakala ia belum berkompeten atau berkemampuan pada profesi yang ia
geluti. Sebab pada hakekatnya manusia sudah ditakdirkan memiliki peran
tertentu. Ketika itu sudah berlaku pada diri seseorang, ia dituntut untuk
profesional sesuai dengan peran yang ia geluti. Karena Muhammad bin Abdullah
ditakdirkan sebagai Nabi dan Rasul, dan ia sangat profesional dalam bidangnya.
7. Keluarga, masyarakat dan pemerintah senantiasa dituntut untuk
membuat dan mengarahkan sebuah fasilitas yang sudah ada agar dapat dimanfaatkan
oleh tiap individu guna mengembangkan dirinya ke arah personal yang aktif,
dinamis, dan terampil sesuai dengan bidang profesinya.
Berbagai
Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup
1. Pendidikan seumur hidup menegaskan dan menekankan bahwa tiap
individu adalah objek dan sekali gus subjek pendidikan. Objek karena ia
merupakan orang yang dikenai pengaruh oleh lingkungan dalam pandangan
pendidikan, oleh karenanya hendaklah ia selalu waspada untuk memanfaatkan
setiap informasi pengalaman positif dari tempat lingkungannya hidup. Subjek
karena ia dituntut untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik dan berkualitas
sesuai dengan tuntutan ilmu secara adil dan ideal.
2. Sejak seseorang sudah akil baligh, ada beban dosa yang akan ia
tanggung manakala ia belum berkompeten atau berkemampuan pada profesi yang ia
geluti. Sebab pada hakekatnya manusia sudah ditakdirkan memiliki peran tertentu.
Ketika itu sudah berlaku pada diri seseorang, ia dituntut untuk profesional
sesuai dengan peran yang ia geluti. Karena Muhammad bin Abdullah ditakdirkan
sebagai Nabi dan Rasul, dan ia sangat profesional dalam bidangnya.
3. Keluarga, masyarakat dan pemerintah senantiasa dituntut untuk
membuat dan mengarahkan sebuah fasilitas yang sudah ada agar dapat dimanfaatkan
oleh tiap individu guna mengembangkan dirinya ke arah personal yang aktif,
dinamis, dan terampil sesuai dengan bidang profesinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Ihsan, Fuad, Dasar
Dasar Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta
Mudyahardjo, Redja, Januari 2002, Filsafat Ilmu Pendidikan, Suatu Pengantar, Cet. 2
Remaja Rosda Karya
Tirtarahardja, Umar, dan S.L La Sulo 2005, Pengantar Pendidikan Ed.
Revisi Cet. 2 , Rineka Cipta Jakarta
Diposkan oleh HM Farid Wajri RM
Langganan:
Postingan (Atom)


