BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemikiran
Islam selalu menarik untuk dikaji. Menariknya disebabkan adanya ayat-ayat
Al-Qur’an yang mengisyaratkan untuk menggunakan akal pikiran dengan baik. Di
samping itu juga adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang perlu penafsiran rasional
karena tidak adanya penjelasan nyata dari hadits-hadits Rasulullah SAW.
Di
antara para pemikir itu yang sangat menonjol di dunia pemikiran adalah Ibnu
Rusyd dan Al-Ghazali. Bila Ibnu Rusyd populer di Barat maka Al-Ghazali
memasyarakat di dunia timur.
Lebih
menarik lagi antara kedua tokoh ini memiliki pemahaman yang bertolak belakang
tentang filsafat. Ketika Ibnu Rusyd mati-matian membela filsafat, maka
Al-Ghazali menolak mati-matian filsafat karena dalam pandangannya ada yang
bertolak belakang dengan nash-nash Al-Qur’an.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di
atas penulis merumuskan permasalahan yang dibahas sebagai berikut:
1. Siapakah
Ibnu Rusyd?
2. Apakah
pemikiran-pemikiran filsafat Ibnu Rusyd?
3. Siapakah
Al-Ghazali?
4. Bagaimanakah
pemikiran-pemikiran filsafat Al-Ghazali?
5. Bagaimanakah
jawaban Al-Ibnu Rusyd?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan
permasalaan di atas, tujuan penelitian
adalah untuk memahami bagaiman dialog filsafat yang terjadi antara Ibnu Rusyd
dan Al-Ghazali.
D. Manfaat
Penelitian.
1.
Secara
Teoretis
a.
Sebagai
upaya pengembangan ilmu pengetahuan di bidang filsafat Islam dalam upaya
pengembangan kreativitas mahasiswa.
b.
Sebagai
upaya menambah khazanah ilmu pengetahuan tentang perkembangan pemikiran Islam
khususnya di bidang filsafat.
2.
Secara
Praktis
a.
Manfaatnya
bagi penulis untuk menyelesaikan salah satu syarat memperoleh nilai pada mata
kuliah Pemikiran Islam di IAIN Bukittinggi.
b.
Manfaatnya
bagi masyarakat, sebagai sumbangan pemikiran untuk dalam kaitannya dengan
filsafat Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Ibnu Rusyd
Abu
al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn 'Muhammad ibn
Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520
H/1126 M. Keluarganya terkenal alim dalam ilmu Fiqh. Ayah dan kakeknya
pernah menjadi kepala Pengadilan di Andalusia. Latar belakang keagamaan
yang memberinya kesempatan untuk meraih
kedudukan tinggi dalam studi-studi keislaman. Al-Quran beserta
penafsirannya, Hadis Nabi, ilmu Fiqh, bahasa dan sastra Arab
dipelajarinya secara lisan dari seorang ahli ('alim). Dia merevisi buku
Malikiyah,al-Muwaththa, yang dipelajarinya bersama ayahnya abu al‑Qasim
dan dihapalnya. Dia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan.
Guru-guru dalam ilmu-ilmu tersebut tidak terkenal, tapi secara
keseluruhan Cordova terkenal sebagai pusat-studi filsafat.
Ibnu
Rusyd hidup dalam situasi politik yang sedang berkecamuk. Dia lahir pada masa
pemerintahan Almurafiah yang digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marrakusy
pada tahun 542 H/1147M, yang menaklukkan Cordova pada tahun 543 H/1148 M.
Ketika abu Ya'qub menjadi Amir, diperintahkannya ibn Rusyd
untuk menulis ulasan-ulasan mengenai Aristoteles. Hal ini dipaparkan oleh
al-Marrakusyi. Ibn Rusyd berkata: "Ketika aku menghadap, Pangeran Orang-orang Beriman, abu Ya'qub, aku dapati beliau sedang bersama ibn Tufail. Abu Ya'qub
mulai memuji-muji diriku,
menyebut-nyebut keluarga serta para leluhurku. Yang pertama dikatakan oleh Pangeran Orang-orang Beriman itu
adalah, 'Bagaimana pendapat mereka mengenai surge. Yang dimaksudkannya dengan 'mereka' yaitu para filosof. 'Apakah surga itu kekal atau tercipta. Aku merasa bingung
. . . . Tapi Pangeran Orang-orang
Beriman itu memahami kebingunganku, lalu
berpaling kepada ibn Tufail dan mulai membicarakan masalah yang baru diajukannya kepadaku, dengan
menyebutkan apa pun yang telah
dikatakan oleh Aristoteles, Plato dan semua filosof lainnya "' Dalam penjelasan lain penulis riwayat hidup yang sama, ibn Rusyd menyatakan bahwa pads
suatu hari ibn Tufail memanggilnya
dan mengatakan kepadanya bahwa Pangeran
Orang-orang Beriman itu mengeluh tentang kesulitan ungkapan dari Aristoteles dan para penerjemahnya, dan menyebutkan
kekaburan arah-arahnya dengan mengatakan: "Jika seseorang mau menyunting buku-buku ini, merangkum
dan menjelaskan maksud-maksudnya secara terinci setelah benar-benar memahaminya,
maka akan lebih mudah bagi banyak orang untuk memahami
buku-buku tersebut." Dan ibn Tufail teruzur tidak bisa memenuhi
tugas itu lantaran usianya yang telah lanjut dan kesibukannya dalam pemerintahan. Oleh karena itu, dia meminta ibn
Rusyd untuk menerima tugas itu.1
Maka mulailah ibn Rusyd menuliskan ulasan-ulasan atas buku-buku
Aristoteles. Untuk itu dia layak disebut sebagal "JuruUlas" dan
dengan sebutan itulah dia dikenal oleh
masyarakat Eropa abad pertengahan.
Dikisahkan bahwa dia menulis tiga macam ulasan: ulasan yang besar, menengah, dan kecil. Ulasan-ulasan besarnya
disebut tafsir, dan mengikuti pola tafsir
Al-Quran. Dia ,mengutip satu paragraf
dari tulisan Aristoteles dan kemudian memberikan penafsiran serta ulasan atasnya. Kini kita masih memiliki
ulasan besarnya dalam bahasa Arab yaitu Metaphysica.
Ulasan kecil disebut talkhis. Dalam
bahasa Arab talkhis berarti "rangkuman”. Orang mungkin mengatakan
bahwa ulasan-ulasan ini, walau lebih banyak mengemukakan filsafat
Aristoteles, tapi juga mengungkapkan
filsafat Rusyd. Suatu ringkasan yang berjudul majmu’ah atau
Jawami', yang terdiri atas enam buku (Physics, Caelo et Mundo, De Generations et Corruptions,
Meteoro. De Anima dan Metaphysica), kini telah diterbitkan
dalam Arab. Dalam ulasan-ulasan ini
ibn Rusyd tidak mengikuti asli dari
karya Aristoteles dan tahapan pemikirannya. “secara keseluruhan nilai
ulasan-ulasan ibn Rusyd bersifat historis, kecuali ulasan-ulasan kecilnya yang
mengungkapkan, sampai batas-batas tertentu, pemikirannya sendiri”2
Dia lebih dikenal dan dihargai di Eropa
Tengah daripada Timur
dikarenakan beberapa sebab. Pertama, tulisan-tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan ke
dalam bahasa Latin dan
diedarkan serta dilestarikan, sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa Arab dibakar atau dilarang diterbitkan lantaran mengandung semangat anti filsafat dan filosof. Kedua,
Eropa pada zaman Renaissance
dengan mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh ibn Rusyd, sedangkan di Timur ilmu dan filsafat mulai dikurbankan demi
berkembangnya gerakan-gerakan mistis
dan keagamaan. Sebenarnya, dia sendiri terpengaruh oleh adanya pertentangan ilmu dan filsafat dengan agama. Agama memenangkan pertikaian itu di Timur, dan ilmu
memenangkannya di Barat
Aib dan siksaan yang diterimanya serta
diusirnya dia dari tanah
kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M merupakan akibat dari pertentangan itu. Pertarungan antara kaum
agamawan filosof untuk
mendapatkan kekuasaan politik, tidak pernah reda sejak
abad ke-3 H/ke-9 M. Kaum agamawan membakar tulisan-tulisan ibn Rusyd di muka
umum. Di samping itu kaum agamawan juga menyebarkan manifesto yang menentang
filsafat dan para filosof.
Bukunya yang terpenting adalah Tahafut at-Tahafut. Kitab
ini ditulis untuk menyanggah kitab Tahafut al-Falasifah karya al-Ghazali
dan merupakan kitab yang paling terkenal dalam dunia filsafat.
B. Pemikiran-pemikiran filsafat Ibnu Rusyd
1. Jalan Menuju Tuhan
Menurut Ibnu Rusyd, agama didasarkan pada tiga prinsip, yang mesti
diyakini oleh setiap muslim: eksistensi tuhan, kenabian, dan kebangkitan.
a. Tentang Tuhan.
Ibn Rusyd berusaha dalam
bukunya: al-Kasyf 'an Manahij al-Adillah, menemukan jalan menuju Tuhan, yaitu metode-metode yang ada di dalam Al-Quran untuk mencapai kepercayaan akan eksistensi Tuhan
dan pengetahuan tentang sifat-sifat-Nya, menurut makna
yang tersurat itu, sebab pengetahuan pertama yang boleh dimiliki oleh setiap orang yang berakal ialah pengetahuan tentang
hal-hal yang
akan membuatnya yakin akan eksistensi Sang Pencipta.
Dua
cara disebutkan dalam Al-Quran, yang oleh
ibn Rusyd disebut sebagai pembuktian tentang adanya Tuhan dan pembuktian tentang penciptaan. Yang pertama bersifat teologis dan yang kedua bersifat kosmologis, keduanya
mulai dari manusia dan makhluk-makhluk lain, dan bukan dari alam raya
sebagai suatu keseluruhan.
Pembuktian tentang adanya Tuhan bertumpu pada dua prinsip: pertama, bahwa semua kemaujudan sesuai dengan
kemaujudan manusia; dan kedua, bahwa
kesesuaian ini dikarenakan oleh perantara
yang berkehendak berbuat begitu, sebab kesesuaian tidak
terjadi dengan sendirinya. Segala suatu diciptakan untuk kepentingan manusia: bintang-gemintang
bersinar di malam hari agar bisa menjadi penuntun bagi manusia,
anggota-anggota tubuhnya sesuai dengan kehidupan dan
eksistensinya. Seluruh teori nilai dapat dikembangkan dari pandangan
ini.
Pembuktian tentang penciptaan itu mencakup binatang, tumbuh-tumbuhan
dan angkasa. Pembuktian ini juga didasarkan pada dua prinsip: bahwa semua
makhluk tercipta dan bahwa segala yang tercipta itu pasti mempunyai Pencipta.
Contoh-contoh di atas berkenaan dengan makhluk-makhluk hidup. Kalau
kita melihat benda-benda mati yang menjadi bernyawa, maka akan tahulah kita
bahwa nyawa itu, tentu punya Pencipta, yaitu Tuhan.
Tuhan berfirman dalam Al-'Quran:
"Sesungguhnya yang selain
Tuhan tidak akan dapat menciptakan seekor serangga pun meski mereka
semua bersatu." Mereka yang ingin mengenal Tuhan harus mengetahui hakikat dan manfaat segala suatu agar bisa
mencapai pengetahuan yang sebenarnya tentang penciptaan.
Kedua cara itu lazim dipakai oleh golongan
terpelajar dan awam. Perbedaan pengetahuan mereka terletak
pada rinciannya. Orang awam cukup puas dengan hanya
pengetahuan inderawi, yang merupakan langkah pertama menuju
ilmu. Golongan terpelajar bisa yakin hanya melalui pembuktian.
Makna keesaan Tuhan tercermin pada prinsip
Al-Quran: "Tiada Tuhan selain Dia.” Sangkalan terhadap adanya tuhan-tuhan lain di sini dianggap sebagai makna
tambahan penegasan tentang keesaan Tuhan." Apa yang akan
terjadi kalau Tuhan lebih dari satu? Dunia akan hancur: satu
tuhan akan lebih berkuasa atas yang lain, atau tuhan-tuhan yang lain akan berupaya menggulingkan kekuasaan tuhan itu."
Penciptaan merupakan tindakan Tuhan. Dia
menciptakan dunia secara terencana, bukan secara
kebetulan. Dia menata dunia dengan baik dan berada dalam keteraturan yang sempurna.
Hal ini membuktikan eksistensi Sang Pencipta yang
bijak.
Sebab akibat
merupakan syarat penciptaan. Seluruh hujjah ibn Rusyd menyangkal pembuktian bahwa tiada sesuatu pun muncul
tanpa sebab, dan sebab-sebab itu
banyak jumlahnya dan bersumber pada satu
Sebab Utama. Dia berkata: "Orang yang dalam hal-hal artifisial, menyangkal atau tidak dapat memahami hasil
dari sebab, tentu tidak memiliki pengetahuan tentang ciptaan
atau pencipta; begitu pula, orang yang menyangkal bahwa
eksistensi di dunia ini bertumpu pada
efek-efek sebab, dia tentu akan menyangkal adanya Sang
Pencipta yang bijak."
Teori
sebab akibat Ibnu Rusyd berkembang dan meluas pada pikiran para filosof.
Sebagaimana Ufuk Ozen mengungkapkan tentang 3 karakteristik kausalitas3:
”The first
characteristic of causal relation is being non-anthropomorphic. Causal relation
is the name given to the order of a certain type of events, “not a name for an
activity of an agency behind events.” When referring to causal correlations,
desire, wish and purpose are not mentioned. Another characteristic of causal
relations is uniformity. Causal relations are explanations of uniformity or
unchanging peculiarities between facts. Uniformities of causal relations are
not about the universe as a whole, but are about special processes under
certain limited conditions. There is no causal relation between an infinite
whole and its parts. A causal relation can only exist between one part and
another part of a whole. The third characteristic is determinism. Causal
relations are deterministic in that cause and effect involve connected
relation.”
Kutipan
di atas menunjukkan bahwa karakteristik sebab akibat itu adalah Pertama, Hubungan
kausal adalah nama yang diberikan pada urutan jenis peristiwa tertentu,
"bukan nama untuk aktivitas agen di belakang kejadian." Dengan arti
kata tiap peristiwa memiliki urutan peristiwa walaupun tidak ada sebab akibat yang
mempunyai kaitan langsung. Kedua, Hubungan kausal adalah penjelasan
tentang keseragaman atau kekhasan yang tidak berubah antar fakta. Keseragaman
hubungan kausal bukanlah tentang alam semesta secara keseluruhan, namun
menyangkut proses khusus dalam kondisi terbatas tertentu. Tidak ada hubungan
kausal antara keseluruhan tak terbatas dan bagian-bagiannya. Ketiga, Hubungan
kausal hanya bisa ada di antara satu bagian dan bagian lain dari keseluruhan.
Karakteristik ketiga adalah determinisme. Hubungan kausal deterministik dalam
sebab dan akibat tersebut melibatkan hubungan yang terhubung.
Dari
tiga karakteristik kausalitas di atas maka poin ketiga-lah yang lebih
dominan dari maksud pikiran Ibnu Rusyd. Inilah pulalah yang dipahami secara
umum oleh masyarakat.
b.
Tentang Nabi
Bukti pengutusan nabi-nabi itu berdasarkan dua prinsip utama yang termaktub di dalam Al-Quran. Yang pertama, manusia-manusia semacam itu adalah manusia-manusia yang menjelaskan hukum-hukum lewat wahyu Tuhan, bukan lewat
belajar. Tugas seorang nabi yaitu
menjelaskan hukum-hukum, yang jika dipatuhi
akan membuat orang yang patuh itu senantiasa bahagia. Yang kedua, orang yang mampu melaksanakan tugas
semacam itu adalah nabi. Sebagaimana tugas seorang dokter yaitu
menyembuhkan tubuh, dan orang yang bisa menyembuhkan itu
ialah dokter. Para ahli teologi berpendapat bahwa keimanan kita kepada kebenaran para nabi dikarenakan oleh keimanan
kita kepada tata-tindak mukjizat mereka yang alami. Tapi AlQuran tidak menerima cara ini yang lazim dianut oleh agama-agama sebelumnya. Ketika orang-orang berkata kepada Muhammad bahwa mereka tidak mau mempercayainya kecuali bila beliau
bisa membuat sebuah mata air di tanah tandus, beliau menjawab lewat wahyu Tuhan: "Aku hanya seorang
manusia, seorang utusan." Satu-satunya mukjizat Islami yaitu Al-Quran, yang berisi
hukum-hukum yang diperlukan bagi kesejahteraan manusia.
Karena
itu, dalam Islam, tak ada yang bersifat alami, sebab segalanya berjalan di atas hukum-hukum islam yang berasal dari adanya
hubungan erat antara sebab dan akibat.
Takdir merupakan suatu masalah yang sangat pelik, yang membuat para ahli pikir Muslim terombang-ambing di antara
dualisme mutlak dan kehendak bebas mutlak. Fatalisme menghapus kebebasan manusia, dan karena itu menghapus pula tanggung-jawab manusia.
Golongan Mu'tazilah membenarkan pendapat tentang kehendak bebas ini yang menjadi dasar tanggung
jawab
manusia atas perbuatan-perbuatan baik dan buruknya. Jika pendapat ini dibenarkan, maka berarti Tuhan tidak punya sangkutpaut dengan perbuatan manusia, karena manusia
meniadakan pencipta
perbuatan-perbuatan sendiri. Dan, bila demikian, berarti ada pencipta-pencipta lain selain Sang
Pencipta.
Golongam Asy'ariah
bersikap menengah dengan mengatakan bahwa asal manusia telah
ditentukan, walau begitu dia juga diberi kemampuan untuk berbuat. Inilah ajaran termasyhur mereka tentang kemampuan (al-kasb). Tapi cara pemecahan masalah
seperti ini, dalam pandangan ibn
Rusyd, merupakan suatu pertentangan diri. Manusia tidak diarahkan kepada fatalisme atau kehendak bebas. Tapi dia ditentukan. Ketentuan merupakan
hasil aksi sesuai dengan sebab-sebab
aksi itu. Sebab-sebab bisa bersifat dari eksternal ataupun internal. Aksi-aksi kita ditimbulkan oleh kehendak kita dan juga kesesuaian dari kejadian-kejadian
eksternal. Kehendak manusia ditentukan
oleh dorongan luar yang tunduk kepada
keteraturan serta keselarasan sesuai dengan kehendak universal Tuhan. Aksi-aksi kita bukan hanya ditentukan
oleh sebab-sebab dari luar, tapi juga
oleh sebab-sebab dari dalam diri kita sendiri.
Kesenantiasateraturan sebab-sebab eksternal dan internal itulah yang disebut takdir." Pengetahuan Tuhan
tentang sebab-sebab ini dan akibat dari sebab-sebab itu merupakan bukti
kemaujudan sebab-akibat.
Tuhan
itu adil, dan tak pernah tidak adil terhadap manusia sebagaimana dinyatakan di dalam Al-Quran. Sifat manusia tidak sepenuhnya baik, meski yang baik itu yang
dominan. Sebagian besar manusia itu
baik. Tuhan telah menciptakan kebaikan secara
hakiki dan menciptakan keburukan secara tidak harmonis bagi yang baik itu.
Baik dan buruk itu serupa dengan api yang mendatangkan
manfaat dalam banyak hal, tapi juga bisa mendatangkan bahaya. Teori ibn
Rusyd ini menopang sikap optimis yang merajai dunia.
Semua
agama sama sepakat mengenai realitas kebangkitan. Perbedaannya hanyalah
terletak pada masalah apakah realitas kebangkitan itu berbentuk ruhani atau
jasmani. Kebangkitan ruhani merupakan
ketidakmatian ruh setelah terpisah dari tubuh. Keyakinan akan
kebangkitan jasmani lebih sesuai bagi pikiran yang tidak memahami kekekalan
ruh.
2.
Jalan menuju pengetahuan
Pengetahuan manusia tidak boleh dikacaukan dengan pengetahuan Tuhan, sebab manusia menyerap individu lewat indera dan menyerap hal-hal yang maujud lewat akalnya. Sebab persepsi manusia berubah dikarenakan berubahnya hal-hal
yang diserapnya, dan kemajemukan persepsi mengisyaratkan kemajemukan
obyek. Mustahil bila pengetahuan Tuhan sama dengan pengetahuan
kita, sebab "pengetahuan kita merupakan akibat dari segala yang maujud, sedangkan pengetahuan Tuhan
merupakan sebab dari adanya segala suatu itu." Kedua macam pengetahuan itu sama sekali berbeda satu sama lain dan saling
bertentangan. Pengetahuan Tuhan itu kekal,
sedang pengetahuan manusia itu sementara. "Pengetahuan
Tuhanlah yang menyebabkan segala kemaujudan, dan bukanlah segala kemaujudan itu yang menyebabkan Dia tahu."
Sejauh ini, telah kita lihat bahwa ada
pengetahuan yang bersifat individual, dan ada juga yang
bersifat universal. Yang pertama merupakan basil dari perasaan dan
imajinasi, sedang yang kedua merupakan basil dari akal. Tindakan akal
ialah menyerap gagasan, konsep yang bersifat universal dan
yang hakiki.
Akal memiliki tiga kerja dasar: mengabstraksi,
mengkombinasikan dan menilai. Kalau kita menyerap suatu gagasan
yang bersifat universal, kita mengabstraksikannya dari
materi. Hal ini lebih jelas pada sesuatu yang dilepaskan dan jauh
dari materi, seperti titik dan garis."
Akal tidak hanya mengabstraksikan pengertian-pengertian
dari materi, tapi ia juga mengkombinasikan pengertian-pengertian
tersebut dan menilai sebagian dari mereka. Bila sebagian yang lain
dinyatakan sebagai benar, bisa berarti
benar atau salah. Yang pertama dari
kerja-kerja ini disebut penyerapan
(intelligere dalam istilah Latin) dan yang kedua disebut pembenaran
(credulitas). Jadi kita memiliki tiga kerja berurutan. Pertama,
kita mendapatkan di dalam akal satu gagasan atau maksud tunggal
yang sepenuhnya terabstraksi dari materi, dan kerja inilah yang disebut sebagai abstraksi. Kedua,
dengan mengkombinasikan dua maksud atau lebih, kita
mendapatkan konsep seperti konsep
tentang manusia yang terdiri atas hewaniah dan rasionalitas, genus dan
differentia. Dan ini membentuk esensi sesuatu. Dengan begitu maka suatu esensi yang
lengkap adalah membentuk pula
definisinya. Ketiga, karena konsep tidak benar atau tidak salah, bila dibenarkan atau disangkal
dalam suatu proposisi, maka kita mempunyai suatu penilaian."
Akal itu bersifat teoritis dan praktis. Akal
praktis lazim & dimiliki oleh semua orang. Unsur ini merupakan asal daya cipta manusia, yang diperlukan dan bermanfaat bagi
kemaujudannya. Hal-hal yang dapat diakali secara praktis
dihasilkan lewat pengalaman yang didasarkan pada perasaan dan
imajinasi. Konsekuensinya, akal praktis dapat rusak karena
kemaujudan hal-hal yang terakali bergantung kepada perasaan dan
imajinasi. Maka mereka berkembang bila persepsi dan gambaran
berkembang, dan rusak bila
hal-hal ini rusak.
Lewat akal praktisnya manusia mencinta dan
membenci, hidup bermasyarakat, dan berteman. Kebajikan
adalah, hasil akal praktis. Kemaujudan kebajikan tak lebih dari kemaujudan gambaran, yang dari situ kita menuju tindakan-tindakan yang baik secara benar; seperti, berani pada tempat dan waktunya serta sesuai dengan
ukuran yang benar."
3. Jalan menuju ilmu
Ilmu, agama, dan filsafat merupakan tiga
bidang yang berbeda. Manusia didesak untuk mendapatkan cara tertentu untuk menyelaraskan
aspek kultural ini yang terdapat pada masyarakat tempat ia tinggal. Kalau tidak, maka kepribadiannya akan hancur. Ilmu diperlukan
untuk menyejahterakan kehidupan semua orang dalam masyarakat beradab.
Kemaujudan bendawi mereka bergantung dan terikat pada tingkat pengetahuan ilmiah. Dalam
masyarakat manusia, agama malah lebih mendasar.
C.
Al-Ghazali
Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali
lahir pada tahun 1059 M di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di dekat
Tusdi Khurasan. Di masa mudanya ia belajar di Naisapur, juga di
Khurasan, yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. la
kemudian menjadi murid Imam al-Haramain al-Jjuwaini,
Guru Besar di Madrasah al-Nizamiah Naisapur. Di antara mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini adalah ilmu kalam, hukum Islam, filsafat,
logika, sufisme, dan lain-lain.
Dengan perantaraan al-Juwaini, al-Ghazali berkenalan dengan Nizam al-Muluk, Perdana Menteri Sultan Saljuk Malik Syah. Nizam al-Muik adalah pendiri dari Madrasah Nizan-dah. Di tahun 1091 M. al-Ghazali diangkat menjadi guru di Madrasah al-Nizainiah Baghdad.
AI-Ghazali dalam sejarah Fi1safat Islam dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap
segala-galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul
dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam atau teologi yang diperolehnya
dari al-Juwaini. Sebagaimana diketahui dalam
ilmu kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbullah
pertanyaan dalam diri alGhazali, aliran
manakah yang betul-betul benar di antara semua aliran itu?
Seperti dijelaskan al-Ghazali dalam kitabnya al-Munqiz min al-Dhalah (penyelamat dari kesesatan), ia ingin
mencari kebenaran yang sebenarnya, yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran, seperti kebenaran sepuluh lebih banyak daripada tiga.
Maftukhin menuliskan ungkapan al-Ghazali4: “sekiranya ada orang yang
mengatakan bahwa tiga lebih banyak dari sepuluh dengan argumentasi bahwa
tongkat dapat dijadikan ular, dan hal itu memang betul ia laksanakan, saya akan
kagum melihat kemampuannya, tetapi sungguhpun demikian keyakinan saya bahwa
sepuluh lebih banyak dari tiga tidak akan goyah.”
Pada mulanya pengetahuan seperti itu dijumpai al-Ghazali
dalam hal-hal yang ditangkap dengan panca indera, tetapi baginya kemudian
ternyata bahwa panca indera juga berdusta. Contoh:
a.
Bayangan (rumah) kelihatannya tak bergerak, tetapi akhirnya ternyata
berpindah tempat.
b.
Bintang-bintang di langit kelihatannya kecil tetapi perhitungannya sa menyatakan
bahwa bintang-bintang itu lebih besar daripada bumi.
Karena tidak percaya pada panca indera lagi, ia kemudian
meletakkan kepercayaannya pada akal. Tetapi akal juga tidak dapat dipercayai.
Demikianlah al-Ghazali tidak dapat mempercayai akal.
Bagi al-Ghazali, argumen-argumen yang diajukan oleh para
filosof tidak kuat. Dia meyakini ada yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap filsafat. Ia mengarang bukunya
yang bernama Maqasid al-Falasifah (pemikiran kaum filosof) yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tahun 1145 M oleh Dominicus Gundissalimus
di Toledo dengan judul Logica et Philosophia Algazelis Arabis. Buku itu
dikarang untuk mengkritiki dan menghancurkan filasafat. Kritikan itu datang
dalam bentuk buku yaitu Tahafut al-Falasifah (kekacauan pikiran para
filosof atau The Incoherence of The Philofopher).
Abul Faraj ‘Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya
beliau dalam kitab Ats-Tsabat ‘Indal Mamat, menukil cerita Ahmad
(saudaranya), “pada shubuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat,
lalu berkata, ‘Bawa ke mari kain kafan
saya.’ Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua
matanya, dan dan berkata, ‘Saya patuh dan taat dan menghadap kiblat. Beliau
meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari).”5 Beliau
wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H.
D. Al-Ghazali dan Filsafat
Al-Ghazali tidak puas dengan ajaran-ajaran para filosof itu. Dia
menyerang mereka dalam bukunya Tahafut al-Falasifah (Ketidaklogisan Para Filosof) dan menuduh mereka sebagai
kafir (kufr) atas tiga hal. Al-Ghazali mempersoalkan pikiran dan pemikiran
para filosof pada dua puluh hal.
Kefasihan al-Ghazali dalam berbicara, pengetahuannya yang dalam tentang
seni berdebat dan berargumentasi serta pengetahuannya yang luas dalam
berbagai studi, membuatnya termasyhur sehingga dia dianggap sebagai hujjat
al-Islam.
Al-Ghazali menyangkal hubungan sebab akibat. Alasan
sesungguhnya mengapa al-Ghazali menyangkal hubungan sebab-akibat itu adalah bahwa "pada penyangkalannya bertumpu
kemungkinan penegasan keberadaan keajaiban-keajaiban yang
menyela perjalanan biasa alam, seperti mengubah seutas tali menjadi seekor ular."
Al-Ghazali mendudukkan tentang itu begini: "Menurut kami, hubungan antara apa yang biasa
dianggap sebagai sebab dan apa yang dianggap
sebagai akibat bukanlah merupakan suatu
hubungan yang mesti, kedua hal itu masing-masing memiliki individualitasnya sendiri dan bukan individualitas yang lain . . . pemuasan dahaga tidak mengisyaratkan perminuman.
atau hubungan yang membakar dengan api. . . sebab
hubungan yang ada pada hal ini berdasarkan kekuatan utama
Tuhan untuk menciptakan mereka secara
berurutan, meski bukan karena hubungan ini mesti dengan
sendirinya."
Di dalam Tahafut al-Falasifah,
al-Ghazali
menyalahkan filosof-filosof dalam
pendapat-pendapat berikut:
1.
Tuhan tidak mempunyai sifat.
2.
Tuhan mempunyai substansi basit (sederhana; simple) dan
tidak mempunyai mahiah (hakikat, quiddity).
3.
Tuhan tidak
mengetahui juz'iyat (perincian, particulars).
4.
Tuhan tidak dapat diberi sifat al fins (jenis; genus) dan al-fasl (differentia).
5.
Planet-planet adalah binatang yang bergerak dengan kemauan.
6.
Jiwa planet-planet mengetahui semua juz'iyat.
7.
Hukum alam tidak dapat berubah. Pembangkitan
jasmani tidak ada.
9.
Alam ini tidak bermula.
10.
Alam ini kekal.
Tiga dari kesepuluh pendapat di atas, menurut al-Ghazali, membawa kepada kekufuran, yaitu sebagai berikut:
1.
Alam kekal dalam arti tidak bermula.
Imam Al-Ghazali menuliskan6 (yang terjemahannya):
“ada
atau tidak adanya (sesuatu) sesuai kehendak al-Qadir. Apabila Allah SWT
menghendaki, (sesuatu) jadi ada. Dan bila Dia kehendaki, (sesuatu) jadi tidak
ada. (Pen. maksudnya Allah menghendaki tidak ada). Dan ini bermakna keadaan-Nya
– Mahasuci Dia – adalah sebagai orang yang ber-Kuasa secara sempurna. Dengan
demikian secara keseluruhan, (alam itu) tidaklah berubah dengan sendirinya,
hanya saja pekerjaanlah yang berubah.”
Kemudian Imam Al-Ghazali melanjutkan7 (yang terjemahannya):
“Maka jika
kamu katakan: sesungguhnya dia itu (maksudnya alam) tidak ada memiliki sesuatu.
Maka bagaimana (mungkin) akan muncul darinya)
Kami katakana: dan dia (yang sebenarnya) tidak ada memiliki
sesuatu, maka bagaimana teraplikasi?! Dan tidak adalah makna munculnya darinya
kecuali bahwa apa yang telah teraplikasi disandarkan/tersandar kepada
kekuasaan-NYa.”
2.
Tuhan tidak mengetahui perincian dari segala yang terjadi di alam.
3.
Pembangkitan jasmani tidak ada.
E. Pembelaan Ibnu Rusyd
Filsafat tidak dapat berdiri di atas akal
sehat. Empirisme itu bermanfaat untuk tujuan yang praktis, bukan untuk ilmu-ilmu pasti.
Empirisme praktis didasarkan pada akal sehat dan pengetahuan ilmiah mempercayai
hubungan sebab-akibat, hanya saja yang disebut pertama itu kurang meyakinkan, sedang
yang disebut kedua lebih kuat. Bersifat ilmiah berarti mampu
meramalkan apa yang akan terjadi di kemudian hari bila suatu
sebab telah diketahui. Mempercayai
ilmu dan kekuatannya disebabkan oleh kemampuan kita untuk meramal atas
dasar hubungan sebab-akibat. Ilmu modern tetap mempercayai hubungan sebab-akibat
bukan dalam bentuk lama hubungan sebab-akibat, tapi dalam
urutan dan struktur hubungan sebab-akibatnya. Ibn Rusyd telah menyempurnakan
keimanan kepada alam ini, dan menyatakan bahwa segala suatu di
dunia ini terjadi menurut keteraturan sempurna yang dapat dipahami sebagai hukum sebab-akibat.
Ini membuat kita melihat dunia fisik
sebagaimana dilihat oleh ibn
Rusyd, dan begitulah hal itu dapat dikenali secara ilmiah. Dunia ini merupakan suatu rangkaian benda dan orang yang saling berkaitan
dikarenakan adanya hubungan sebab-akibat. Dua prinsip disyaratkan, meski tidak
diungkapkan: yang pertama, yaitu benda dan yang kedua yaitu
hukum sebab-akibat. Dua dalil ini merupakan hasil asumsi metafisik
yang berasal dari Aritoteles, yaitu gagasan mengenai substansi dan
gagasan mengenai empat sebab. AlGhazali mengingkari dua prinsip itu.
Al-Ghazali mengatakan: "Tidak ada keberatan (bagiku) untuk
mengakui bahwa apa pun mungkin bagi
Tuhan." Contoh tentang kemungkinan ini yaitu keajaiban Ibrahim ketika dia dilemparkan ke dalam nyala api dan tidak terbakar. Api, dengan kehendak Tuhan,
kehilangan sifat membakarnya, Penyebab sesungguhnya yaitu Tuhan, yang
melalui kehendak dan kekuasaan-Nya,
memberikan sifat kepada benda-benda.
Maka, tak ada alasan mengapa mereka tidak bisa bertentangan dengan
sifat mereka yang sesungguhnya.
Untuk menghadapi argumentasi ini, ibn Rusyd
melihat masalah dari sudut pandang filosofis yang telah disebutkan di atas. Kekekalan benda membuat kita dapat mencapai hakikat suatu benda.
definisinya, dan memberinya nama. "Sebab sudah terbukti dengan sendirinya bahwa semua benda itu memiliki esensi dan
sifat-sifat yang menentukan
fungsi-fungsi khusus masing-masing benda itu dan, yang lewat esensi dan
sifat-sifat itu, definisi dan nama-nama dibeda-bedakan.
Jika sebuah benda tidak memiliki sifat khusus, maka ia tidak akan memiliki satu nama atau definisi khusus, dan segala
suatu akan menjadi sama saja."
Mengenai dalil kedua hubungan sebab-akibat, "semua kejadian memiliki empat sebab: agen, bentuk, materi dan
akhir." Pikiran manusia menyerap
hal-hal dan membayangkan sebab-sebab mereka. Dan, "intelegensi hanyalah
persepsi segala hal beserta sebab sebab
mereka, dan dalam hal ini ia membedakan dirinya sendiri dari semua daya penyerapan yang lain; dan orang
yang mengingkari sebab-sebab, berarti
ia mengingkari akal. Logika mengisyaratkan keberadaan sebab dan akibat, dan pengetahuan tentang akibat hanya
dapat menjadi sempurna lewat pengetahuan tentang sebab. Pengingkaran akan sebab
mengisyaratkan pengingkaran akan pengetahuan."8
Secara keseluruhan, jalan menuju ilmu dimulai dengan keimanan yang merupakan dasar ketentuan. Para penganut skeptisisme dan agnotisme tidak mendapatkan tempat di bidang
ilmu. Dengan bersenjatakan keimanan akan kemaujudan dunia
semacam itu, akal menemukan sebab-sebab segala suatu. Pengetahuan
ilmiah adalah pengetahuan tentang hal-hal beserta
sebab-sebab keberadaan hal-hal itu.
Jawaban
Ibnu Rusyd tentang Agama dan Filsafat
Ibn Rusyd membuka risalahnya -dalam bukunya Fashl al-Maqal fi ma bainal Hikmah was-Syari'ah minal-Ittishal- dengan mengajukan pertanyaan tentang apakah filsafat itu sah, dilarang, dianjurkan,
atau diharuskan dalam Syari’ah (Hukum Islam). Jawabannya, sejak dini,
bahwa filsafat diwajibkan atau paling tidak dianjurkan dalam agama (agama dalam
pengertian ini dianggap sama dengan Syari’at, terutama Islam). Sebab fungsi
filsafat hanyalah membuat spekulasi atas yang
maujud dan memikirkannya selama membawa kepada pengetahuan akan Sang Pencipta
dan Al-Quran memerintahkan manusia
untuk berpikir dalam banyak ayat.
Sejauh ini, agama sejalan dengan filsafat. Tujuan dan
tindakan filsafat sama dengan tujuan dan
tindakan agama. Tinggal masalah
keselarasan keduanya dalam metode dan permasalahan materi. Jika yang tradisional itu (al-manqul) ternyata
bertentangan dengan yang rasional (al-ma'qul), maka yang
tradisional harus ditafsirkan sedemikian rupa supaya selaras
dengan yang rasional.9
Jawaban
Ibn Rusyd tentang 3 hal yang dipermasalahkan oleh al-Ghazali
Ibn
Rusyd mengadakan pembelaan terhadap para filosof, dengan membuat kritik terhadap
al-Ghazali.10 Jawaban Ibn Rusyd
terhadap kritik al-Ghazali memuat tiga hal, yaitu: ucapan mereka tentang
qadimnya alam, bahwa Tuhan tidak
mengetahui juziyat dan membatalkan pendapat mereka bahwa mereka mengingkari adanya hari kebangkitan jasmani.
1.
Masalah Alam Qadim
Al-Ghazali
berpendapat bahwa alam ini bersifat baru,
alam diciptakan dari tiada sama sekali (creatio ex
nib i1o). Ibn Rusyd mengkritik al-Ghazali bahwa argumen al-Ghazali
tidak tepat yaitu menyamakan adat kebiasaan dengan sebab-sebab alami. Selanjutnya ia menegaskan bahwa argumen al-Ghazali adalah
argumen ahl zahir." Di samping itu Ibn Rusyd menunjukkan ayat-ayat al-Qur'an (11:7; 41:11,30) yang
menurutnya alam ini.
2.
Masalah Tuhan
Tidak Mengetahui yang Juz'iyat Mengenai
tuduhan al-Ghazali bahwa filosof berpendapat
bahwa Tuhan tidak mengetahui juziyat
Ibn Rusyd menjawab bahwa para filosof tidak mungkin berpendapat demikian. Oleh karena itu Ibn Rusyd beranggapan
bahwa al-Ghazali keliru dalam menyimpulkan pendapat para
filosof. Karena yang demikian itu tidak pernah dikatakan oleh para filosof. Yang dikatakan oleh para filosof, menurut
Ibn Rusyd adalah bahwa pengetahuanTuhan tentang perincian yang terjadi
di alam ini tidak sama dengan pengetahuan manusia tentang perincian itu.
3.
Masalah Tuduhan
bahwa Para Filosof Mengingkari Adanya Hari Kebangkitan Jasmani
Ibn Rusyd balas menuduh al-Ghazali telah mengatakan
hal-hal yang saling bertentangan. Di dalam Tahafut al-Falasifah, tidak
ada orang Islam yang mengatakan bahwa
kebangkitan akan terjadi hanya dalam
bentuk rohani. Pernyataan ini, menurut Ibn Rusyd, bertentangan dengan
beliau tidak menyebutkan nama buku/kitab
yang dimaksudkan. Dalam buku itu al-Ghazali menyebut bahwa kebangkitan bagi kaum sufi, akan terjadi hanya dalam
bentuk rohani dan tidak dalam bentuk
jasmani. Oleh karena itu tidak terdapat
ijma' ulama tentang kebangkitan di hari kiamat. Dengan demikian,
kaum filosof yang berpendapat bahwa pembangkitan jasmani itu tidak ada
tidaklah dapat dikafirkan.
Jawaban
Ibn Rusyd tentang tongkat menjadi ular
Menurut ibn Rusyd, keajaiban-keajaiban
itu tidak boleh dipermasalahkan atau diteliti oleh para filosof. "Orang yang meragukannya pantas
dihukum." Bagaimanapun keajaiban
Islam tidak terletak pada keajaiban seperti mengubah seutas tali menjadi
seekor ular, melainkan pada AI-Quran, "yang keberadaannya tidak menyela perjalanan alam sebagaimana diduga . . . . tapi keajaibannya diakui oleh setiap
manusia lewat persepsi dan pemikiran . . . Dan keajaiban ini jauh lebih hebat
dibandingkan yang lain."
BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dan
uraian di atas penulis menyimpulkan:
1.
Dunia memiliki fakta adanya sebab akibat. Seperti tertuang dalam surat
Al-Qur’an11
2.
Alam semesta adalah baru. Yang Qadim adalah Allah, Zat Yang Menciptakan
alam semesta
3.
Kebangkitan itu juga termasuk ruh dan jasad. Sebab kulit merasakan
sakitnya rasa sakit seperti yang tersirat / tertuang dalam Al-Qur’an12
B.
Penutup
Penulis mengakui bahwa makalah
ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh sebab itu kritik dan saran sangat
diharapkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Catatan kaki:
Syarif, MM. Para Filosof Muslim. Penyunting:
Ilyas Hasan. (Bandung: Mizan. 1996) hal. 200
Ibid. 202
Ufuk Ozen, Causality in
Philosophy of Science: From Hume to Today, (International Journal of Humanities
and Social Science, Agustus 2011) Vol. 1, No. 11, Hal. 191-197
Maftukhin,
Filsafat Islam, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2012), Cet. I, Hal.132-133
Abd. Rachman Assegaf, Aliran
Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), Cet.
I, Hal. 104
Imam
al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Tahqiq: Sulaiman Dunya, (Mesir: Darul
Ma’arif,1966), Cet. IV, Hal. 131
Ibid
MM. Syarif,. Para Filosof Muslim. Penyunting: Ilyas
Hasan. (Bandung: Mizan, 1996), Cet. VIII, Hal. 224-225
10 Maftukhin.. Filsafat
Islam. Editor: Ngainun Naim. (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2012), Cet. I,
Hal. 196-198
11 Lihat Q.S Al-Kahfi (18) : 84, 85, 99, dan 92
2 Lih. Q.S. An-Nisa
(4) : 56
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Ghazali,
Imam, (1966), Tahafut al-Falasifah, Tahqiq: Sulaiman Dunya, (Mesir:
Darul Ma’arif), Cet. IV
Assegaf, Abd.
Rachman, (2013), Aliran Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada), Cet. I.
Beavers, Tedd D,
(2001), Paradigma Filsafat Pendidikan
Islam Kontribusi Filosof Muslim, Penerjemah: Deny Hamdani, Judul Asli: Arabic
Contributions to Educational Thought, (Jakarta: Penerbit Riora Cipta), Cet.
I.
Dahlan, Abdul
Aziz. (2003). Pemikiran Falsafi dalam Islam. (Jakarta: Djambatan
Drajat, Amroeni.
(2006). Filsafat Islam Buat yang
Pengen Tahu. Editor: Sayed Mahdi. Cet. ke-11. (Jakarta: Erlangga)
Ozen, Ufuk,
(2011), Causality in Philosophy of Science: From Hume to Today, International
Journal of Humanities and Social Science, Vol. 1, No. 11.
Madkour,
Ibrahim. (2002). Aliran dan Teori Filsafat Islam. Penerjemah: Drs.
Yudian Wahyudi Asmin. Judul Asli: Fi al-Falsafah al-Islamiyyah: Manhaj wa
Tatbiqub al-Juz’ al-Sani. Editor: Drs. H. Zarkasyi A. Salam. (Jakarta: Bumi
Aksara)
Maftukhin.
(2012). Filsafat Islam. Editor: Ngainun Naim. (Yogyakarta: Penerbit
Teras), Cet. I
Nasution, Ahmad
Bangun dan Rayani Hanum Siregar, M.H.
(2013). Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman, dan Pengaplikasiannya Disertai
Biografi dan Tokoh-Tokoh Sufi. Ed. ke-1. Cet. ke-1. (Jakarta: RajaGrafindo
Persada)
Rusli, Ris’an,
(2013), Tasauf dan Tarekat Studi Pemikiran dan Pengalaman Sufi, (Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada), Cet. I
Syarif, MM.
(1996). Para Filosof Muslim. Penyunting: Ilyas Hasan. (Bandung: Mizan),
Cet. VIII.
Supiana dan M.
Karman, (2004), Materi Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya), Cet. IV.
Tholkhah, Imam dan
Ahmad Barizi (2004) . Membuka Jendela Pendidikan Mengurai Akar Tradisi dan
Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Cet. ke-1. (Jakarta: RajaGrafindo
Persada)
Diposkan
oleh HM Farid Wajri RM