DARI PIKIRAN KE HATI PEMBACA
Selasa, 14 Mei 2019
Sabtu, 09 Juni 2018
PENGERTIAN PENDEKATAN DAN MODEL PEMBELAJARAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sebelum
membahas judul makalah ini, penulis
ingin mengetengahkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional di negara Republik
Indonesia:
Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.[1]
Dari
kutipan di atas dapat diperoleh bahwa ada 4 fungsi dari pendidikan nasional:
1.
Mengembangkan
kemampuan peserta didik
2.
Membentuk
watak peserta didik
3.
Membentuk
peradaban bangsa yang bermartabat
4.
Mencerdaskan
kehidupan bangsa
Dan juga dapat diperoleh ada 11 tujuan
dari pendidikan nasional:
1.
Berkembangnya
potensi peserta didik
2.
Menjadi
manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa
3.
Menjadi
manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
4.
Berakhlak
mulia
5.
Sehat
6.
Berilmu
7.
Cakap
8.
Kreatif
9.
Mandiri
10. Menjadi warga negara yang demokratif
11. Menjadi warga negara yang bertanggung jawab
Tujuan pendidikan nasional diturunkan ke
dalam prakteknya di lembaga-lembaga pendidikan. Pada lembaga pendidikan berbentuk
visi dan misi lembaga dan dalam Proses Belajar Mengajar dituangkan dalam tujuan
pembelajaran. Tujuan pembelajaran direncanakan oleh pendidik dicantumkan secara
tertulis pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Dengan demikian pembelajaran dilakukan
oleh guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Maka oleh karena
itu kualitas pembelajaran ditentukan oleh sejauh mana tercapainya tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Semakin tinggi tingkat ketercapaian semakin
tinggi pula kualitas pembelajaran tersebut. Sebaliknya jika semakin rendah
tingkat ketercapaian semakin rendah pula kualitas pembelajaran itu.
Karena secara komponen sasaran
pencapaian pada peserta didik itu ada 3, yaitu ranah koginitif, ranah afektif,
dan ranah psikomotorik. Kemudian masing-masingnya itu memiliki beragam macam
dan variasi peserta didik maka sangat diperlukan perlakuan yang variatif dan
inovatif dalam pembelajaran dengan pendekatan dan model pembelajaran yang
tepat.
Martinis Yamin menyebutkan bahwa model pembelajaran
adalah sebuah alat, perkakas, syarat,
atau bahan untuk melaksanakan perubahan. “Model pembelajaran adalah
sebuah metodologi atau piranti untuk melaksanakan perubahan”[2].
Maka oleh karena itu sangatlah penting kiranya
membahas apakah pendekatan pembelajaran? dan apakah model pembelajaran?
B. Rumusan
Masalah
Penulis
ingin membuatkan rumusan masalah yang ingin dijawab dalam makalah ini yang
selaras dengan judul di atas. Rumusan itu ada 2 macam, yaitu:
1. Apakah
pengertian pendekatan pembelajaran?
2. Apakah
pengertian model pembelajaran?
BAB II
PEMBAHASAN
Pembelajaran dipandang sebagai
upaya memengaruhi siswa agar belajar. Dengan kata lain dapat dikatakan secara
singkat bahwa pembelajaran sebagai upaya membelajarkan siswa. Dalam kegiatan
pelaksanannya dapat dilakukan melalui pendekatan dan model pembelajaran.
A. Pengertian
Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran ini merupakan suatu
penjelas mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga
mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru dengan
memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan dalam kurikulum, guru perlu melakukan serangkaian kegiatan
pembelajaran mulai dari perencanaan, menentukan strategi, pemilihan materi dan
metode pembelajaran, sampai pada penilaian. Irpan Harahap menyatakan bahwa serangkaian
kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut sering
disebut dengan pendekatan yang dilakukan oleh guru atau pendekatan
pembelajaran.[3]
Sedangkan pendekatan pembelajaran menurut
Syaiful Sagala merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam
mencapai tujuan instruksional.[4] Pendekatan pembelajaran
merupakan aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran, apakah guru akan
menjelaskan suatu pengajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun
dalam urutan tertentu, ataukah dengan menggunakan materi yang terkait
satu dengan yang lainnya dalam tingkatan kedalaman yang berbeda, atau
bahkan merupakan materi yang terintegrasi dalam suatu kesatuan multi disiplin
ilmu.
Wina Sanjaya
mengungkapkan bahwa pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran[5]. Proses pembelajaran yang berlangsung dari awal
sampai akhir yaitu sampai terjadinya penilaian.
Desi Wulandari menyimpulkan tentang
arti kandungan pendekatan
pembelajaran setelah dia mempelajari pendapat-pendapat para
ahli. Dia menyebutkan: pendekatan pembelajaran merupakan cara kerja mempunyai sistem untuk
memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran dan membelajarkan siswa guna
membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[6]
Dari definisi-definisi di atas ada 3 item utama yang
dikemukakan yaitu:
1. Sudut
pandang
2. Proses
pembelajaran
3. Tujuan
pembelajaran
Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa
pendekatan pembelajaran itu adalah sudut pandang yang digunakan dalam kegiataan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Ditinjau berdasarkan peranan guru dan siswa dalam
pengelolaan pembelajaran, pada umumnya orang mengemukakan ada dua jenis
pendekatan pembelajaran, yaitu[7]:
1.
Pembelajaran
yang berpusat pada guru
2.
Pembelajaran
yang berpusat pada siswa
Senada dengan hal di atas Roy Killen mencatat juga
menyatakan bahwa ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang
berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang
berpusat pada siswa (student-centred approaches)[8].
Jadi, secara umum pendekatan pembelajaran itu ada
dua yaitu pendekatan yang berpusat pada guru dan pendekatan yang berpusat pada
siswa.
Gambar
Pendekatan Pembelajaran[9]
Gambar
Pendekatan Pembelajaran [10]
Perbedaan
antara dua pendekatan ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
|
NO
|
Teacher-Centred
Approaches
(pendekatan yang berpusat pada guru)
|
Student-Centred
Approaches (pendekatan
yang berpusat pada siswa)
|
|
1
|
Pengelolaan
pembelajaran ditentukan sepenuhnya oleh guru
|
Pengelolaan
pembelajaran ditentukan oleh siswa
|
|
2
|
Siswa hampir
tidak memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas sesuai dengan minat dan
keinginannya
|
Siswa memiliki
kesempatan yang terbuka untuk melakukan aktivitas sesuai dengan minat dan
keinginannya
|
|
3.
|
Strategi
pembelajaran langsung (direct instruction), deduktif, dan ekspositori
|
Discovery,
inkuiri, dan induktif.
|
|
4
|
Filsafat
realism dan psikologi behaviorisme
|
Filsafat pragmatisme, eksistensialisme, dan
konstruksitivisme
|
Bila
didalami lebih lanjut akan didapati keunikan-keunikan tersendiri pada
masing-masing hal yang menonjol dalam tiap pendekatan. Sehingga para ahli
membagi dan mengelompokkan pendekatan-pendekatan tersebut.
E. Mulyasa
mengungkapkan lima pendekatan pembelajaran yang perlu dipahami guru untuk
dapat mengajar dengan baik, yaitu:[11]
1. Pendekatan kompetensi
Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran,
kompetensi menunjukkan kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi
spesifiasi tertentu dalam proses belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan
kompetensi merupakan indicator yang menunjukkan kepada perbuatan yang bisa diamati, dan sebagai konsep yang
mencakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta
tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh.
2. Pendekatan keterampilan proses
Pendekatan keterampilan proses merupakan
pendekatan pembelajaran yang menekanakn pada proses belajar, aktivitas,
kreativitas siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap,
serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian tersebut
termasuk di antaranya keterlibatan fisik, mental, dan sosial siswa dalam proses
pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan.
Pendekatan keterampilan proses bertolak dari
suatu pandangan bahwa setiap siswa memiliki potensi yang berbeda, dan dalam
situasi yang normal, mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Oleh
karena itu tugas guru adalah memberikan kemudahan kepada siswa dengan
menciptakan lingkungan yang kondusif agar semua siswa dapat berkembang secara
optimal. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mendorong aktivitas dan
kreativitas peserta didik dalam pembelajaran antara lain: diskusi, pengamatan,
penelitian, praktikum, tanya jawab, karya wisata, studi kasus, bermain peran,
dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menunjang tercapainya tujuan
pembelajaran.
3. Pendekatan lingkungan
Pendekatan lingkungan merupakan suatu
pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa
melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini
berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian jika apa yang
dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan
dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan.
Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti
siswa mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri
apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, baik di lingkungan rumah maupun di
lingkungan sekolah. Dalam hal ini siswa dapat menanyakan sesuatu yang ingin
diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu tentang
masalah yang dihadapi.
4. Pendekatan kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep
pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan
dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga para siswa mampu menghubungkan dan
menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran kontekstual ini tugas guru
adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa, dengan menyediakan berbagai
sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran
yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang
memungkinkan siswa belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan
sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaran secara
keseluruhan.
Pembelajaran kontekstual ini juga mendorong
siswa memahami hakekat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan
mereka untuk rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar bahkan kecanduan
belajar.
5. Pendekatan tematik
Pendekatan tematik merupakan pendekatan
pembelajaran untuk mengadakan hubungan yang erat dan serasi antara berbagai
aspek yang mempengaruhi siswa dalam proses belajar. Oleh karena itu pendekatan
tematik sering juga disebut pendekatan terpadu.
Pendekatan tematik atau pendekatan terpadu
merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menyatupadukan serangkaian
pengalaman belajar sehingga terjadi saling berhubungan satu dengan yang
lainnya. Pendekatan tematik dapat dilaksanakan oleh seorang guru, jadi semua
bahan pelajaran menjadi tanggung jawabnya. Dapat pula dilaksanakan oleh
beberapa orang guru secara kolektif, namun harus dilandasi kelancaran
komunikasi, semangat kerja sama, dan mengadakan koordinasi yang baik di antara
mereka.
Guru yang professional tidak hanya menguasai
sejumlah materi pembelajaran, namun penguasaan pendekatan dan metode
pembelajaran yang tepat dan sesuai
mutlak diperlukan. Untuk itu perlu kiranya para guru mampu menggunakan
pendekatan dan metode yang tepat agar pembelajaran aktif, inovatif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain membagi
pendekatan pembelajaran ini pada tiga bagian, yaitu:[12]
1. Pendekatan individu
Dalam sebuah ruangan kelas terdapat berbagai
macam jenis keperibadian peserta didik yang berbeda-beda, hal ini mesti
diperhatikan oleh seorang guru agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan
baik. Perbedaan individu siswa memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi
pembelajaran harus memperhatikan perbedaan siswa pada aspek individual ini.
Pendekatan individual ini mempunyai arti yang
sangat penting bagi kepentigan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan
pendekatan individual ini. Dalam pemilihan metode juga seorang guru tidak bisa
sembarangan dalam pendekatan individu, sehingga seorang guru dalam proses
kegiatan pembelajaran harus memperhatikan individual yang dihadapinya.
2. Pendekatan kelompok
Dalam kegiatan pembelajaran terkadang guru
juga memerlukan pendekatan kelompok. Pendekatan
kelompok ini diperlukan sewaktu membina dan mengembangkan sikap sosial
siswa. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuhkembangkan rasa
sosial yang tinggi pada diri setiap siswa.
Ketika guru ingin menggunakan pendekatan
kelompok, maka guru harus mempertimbangka bahwa hal itu tidak bertentangan
dengan tujuan, fasilitas, metode dan bahan yang diberikan. Dalam pengelolaan kelas
terutama berhubungan dengan penempatan siswa pendekatan kelompok sangat
diperlukan. Perbedaan individual siswa dijadikan sebagai pijakan dalam
melakukan pendekatan kelompok.
3. Pendekatan bervariasi
Dalam belajar siswa mempunya motivasi yang berbeda-beda,
pada satu sisi siswa mempunya motivasi yang rendah, tapi pada saat yang lain
siswa mempunyai motivasi yang tinggi. Dalam mengajar, guru yang hanya
menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif
dalam waktu yang relatif lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit
menormalkannya kembali.
Pendekatan bervariasi ini bertolak dari
konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam belajar
bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai
motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus.
4. Pendekatan edukatif
Apapun yang dilakukan guru dalam pendidikan
dan pengajaran dengan tujuan mendidik, bukan karena motif-motif lain. Dalam
pendekatan edukatif ini tujuannya adalah untuk membina watak siswa dengan
pendidikan yang bersifat positif.
Fadhilah
Suralaga menyatakan bahwa berbagai strategi pembelajaran perlu dijabarkan ke
dalam beberapa pendekatan yang signifikan. [13]
1. Berkaitan dengan model pembelajaran, bisa dibedakan menjadi :
a. Expository Teaching-Receptive Learning, yaitu pembelajaran berlangsung
melalui ‘penyampaian’ materi oleh guru dan siswa ‘menerima’ materi tersebut.
Metode yang digunakan dengan pendekatan ini adalah metode ceramah yang berarti
pembelajaran berpusat pada guru.
b. Active Learning ( belajar aktif ), yaitu system
pembelajaran yang berpusat pada siswa . Guru hanya berfungsi sebagai
fasilitator dan salah satu sumber belajar, selebihnya guru memfasilitasi
berbagai situasi, kondisi, dan sarana agar siswa dapat melakukan aktivitas
belajar yang baik.
c. Interactive Learning ( pembelajaran interaktif ),
yaitu system pembelajaran yang mengkondisikan situasi interaktif antara guru
dan siswa serta lingkungannya, yang bias berlangsung dua arah atau multi-arah,
antara guru-siswa guru antar siswa.
d. Inquiry-Discovery-Problem Solving, yaitu system pembelajaran yang
memacu siswa untuk melakukan upaya pencairan, penemuan, dan pemecahan
masalahnya.
2. Berkaitan dengan pengolahan kelas yang bisa
dibedakan menjadi :
a. Pendekatan klasikal
b. Pendekatan kelompok
c. Pendekatan individual
3.
Berkaitan dengan sasaran belajar yang meliputi berbagai hal, seperti
diantaranya adalah pengalaman, pembiasaan, emosional, rasional, fungsional, dan
keteladanan.
a. Pendekatan pengalaman, yaitu memberikan
pengalaman kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan;
b. Pendekatan pembiasaan, yaitu memberikan
kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya dan
berakhlak baik;
c. Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk
menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini,memahami, dan menghayati
akidah Islam serta memberikan motivasi agar siswa ikhlas mengamalkan ajaran
agamanya, khususnya yang terkait dengan akhlak karimah;
d. Pendekatan rasional, yaitu usaha untuk
memberikan peranan kepada rasio ( akal ) dalam memahami dan menerima kebenaran
ajaran Islam;
e. Pendekatan fungsional, yakni usaha untuk
menyajikan ajaran agama dengan menekankan kepada segi kemanfaatannya bagi siswa
dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya
f. Pendekatan keteladanan, yaitu menyuguhkan
keteladanan, baik secara langsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang
akrab antarpersonal sekolah, perilaku guru/pendidik maupun tidak langsung
melalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah keteladanan.
B. Pengertian
Model Pembelajaran
Martinis Yasmin menyebutkan bahwa model pembelajaran
adalah sebuah metodologi atau piranti untuk melaksanakan perubahan[14].
Pembelajar (Guru, pen.) adalah seorang profesionalis yang menjalankan
fungsi-fungsinya dengan menggunakan metodologi untuk membelajarkan peserta
didik dengan cara tidak konstan, artinya pembelajar harus berinovasi dan
mencipta perubahan yang baik pada dirinya maupun pada diri peserta didik dan
meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru pembelajaran.[15]
Trianto mengungkapkan
bahwa “Secara kaffah model dimaknakan sebagai suatu objek atau konsep
yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu hal.”[16]
Karena dia merepresentasikan suatu hal maka dia sebagai sesuatu yang nyata dan
dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensif. Sebagai contoh model
pesawat terbang, yang terbuat dari kayu, plastik, dan lem adalah model nyata
dari pesawat terbang. Contoh lain adalah model matematika gerak parabola, model
matematika gerak jatuh bebas, dan sebagainya.
Model pembelajaran
menurut Joyce & Weil adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan
untuk membentuk kurikulum dan pembelajaran
jangka panjang, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing
pembelajaran di kelas atau di luar kelas[17]
Dari
definisi-definisi di atas dapat dirangkum pada 2 hal utama tentang model, yaitu:
1. Pola
2. Pembelajaran
Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa model pembelajaran
adalah pola-pola pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud yaitu mulai dari awal
sampai akhir yang masih dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh
karena itu suatu model pembelajaran hendaknya mengandung tujuan, tahap-tahap,
gambaran suasana dan kondisi, serta peralatan yang dibutuhkan agar dapat
ditiru/digunakan oleh orang lain dalam pembelajarannya.
Selanjutnya pendekatan dan model pembelajaran
memiliki kaitan yang erat. Kaitan itu digambarkan dalam pada gambar di bawah
ini:
Gambar Kaitan antara Model dan
Pendekatan Pembelajaran
Gambar ini menunjukkan bahwa setiap dalam setiap
model pembelajaran aka nada pendekatan pembelajaran di dalamnya. Dan tidaklah
dalam setiap pendekatan pembelajaran terdapat model pembelajaran.
BAB
III
KESIMPULAN
DAN PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa
pendekatan pembelajaran itu adalah sudut pandang yang digunakan dalam kegiataan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dan secara ringkas model
pembelajaran adalah pola-pola pembelajaran.
Dari dua pendekatan pembelajaran di atas maka
pendekatan yang berpusat pada siswa lebih diutamakan bila dibandingkan dengan
pendekatan yang berpusat pada guru. Kita meyakini bahwa siswa adalah makhluk
individual. Ia adalah pribadi yang ingin menjadi dirinya sendiri (memiliki
tujuannya sendiri), memiliki berbagai bakat dan kemampuannya sendiri. Ki Hadjar
Dewantara menyebutkan bahwa siswa/anak adalah
makhluk yang bebas dan memiliki kodrat alamnya sendiri.[18]
Guru hendaknya mendorong siswa belajar secara mandiri. Namun, pendidik tidak
dapat sepenuhnya membiarkan siswa mencari dan memilih nilai-nilainya sendiri
agar tidak menyimpang dari dasar dan tujuan pendidikan/pembelajaran yang
diharapkan. Karenanya, berbarengan dengan itu (pembelajaran yang berpusat pada
siswa), guru pun harus memiliki peranan untuk memberikan teladan, bimbingan,
dan arahan sesuai dengan dasar dan tujuan pendidikan / pembelajaran.
B. Penutup
Penulis mengakui bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh
sebab itu kritik dan saran sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Diposkan oleh HM Farid Wajri RM
CATATAN KAKI:
[1] Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB
II Pasal 3
[2]
Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press
Jakarta, 2011). Cet. ke-1. h. 1
[3]
Irpan Harahap, Pendekatan Guru dalam Proses Pembelajaran dalam https://irpan1990.wordpress.com/2011/08/11/pendekatan-guru-dalam-proses-pembelajaran/
Diakses
tanggal 8 Maret 2018
[5]
Wina Sanjaya.. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (Jakarta: Prenada Media Group,
2010). Cet. ke-3. h. 295
[6]
Desi Wulandari. Definisi Pendekatan
Pembelajaran Menurut Para Ahli.
Dalam http://mtk2012unindra.blogspot.co.id/2012/10/definisi-pendekatan-pembelajaran.html
Ditemukan tanggal 7 Maret 2018
[7] Tim
Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2013). Cet. ke-3. h. 196
[8] Ibid.
[9] Yani Pinta. Model
Pembelajaran. Dalam Up Grading Guru YPI Raudhatul Jannah Payakumbuh.
Tanggal 7 April 2017.
[10] Darman. Model-model
Pembelajaran Inovatif. Dalam Bimtek PKT-INOBEL tanggal 27-29 Juli 2016 di Jakarta.
[11] E.
Mulyasa. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008). h. 96-106.
[12] Syaiful
Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta:
Rineka Cipta, 2006). h. 54-69.
[13] Santinah, Konsep
Strategi Pembelajaran dan Aplikasinya.
Holistik: Journal For Islamic Social Sciences
1(1) : h. 18-19
Ditemukan
tanggal 6 Maret 2018
[14]
Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press
Jakarta, 2011). Cet. ke-1. h. 1
[15] Ibid.
[16] Trianto, Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2011), cet.
Ke-4, h 21
[17] Rusman. Model-Model
Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2013). Ed. ke-2. Cet. ke-6. h. 2.
[18]
h. 197
[19] Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB
II Pasal 3
[20]
Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press
Jakarta, 2011). Cet. ke-1. h. 1
[21]
Irpan Harahap, Pendekatan Guru dalam Proses Pembelajaran dalam https://irpan1990.wordpress.com/2011/08/11/pendekatan-guru-dalam-proses-pembelajaran/
Diakses
tanggal 8 Maret 2018
[23]
Wina Sanjaya.. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (Jakarta: Prenada Media Group,
2010). Cet. ke-3. h. 295
[24]
Desi Wulandari. Definisi Pendekatan
Pembelajaran Menurut Para Ahli.
Dalam http://mtk2012unindra.blogspot.co.id/2012/10/definisi-pendekatan-pembelajaran.html
Ditemukan tanggal 7 Maret 2018
[25] Tim
Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2013). Cet. ke-3. h. 196
[26] Ibid.
[27] Yani Pinta. Model
Pembelajaran. Dalam Up Grading Guru YPI Raudhatul Jannah Payakumbuh.
Tanggal 7 April 2017.
[28] Darman. Model-model
Pembelajaran Inovatif. Dalam Bimtek PKT-INOBEL tanggal 27-29 Juli 2016 di Jakarta.
[29] E.
Mulyasa. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008). h. 96-106.
[30] Syaiful
Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta:
Rineka Cipta, 2006). h. 54-69.
[31] Santinah, Konsep
Strategi Pembelajaran dan Aplikasinya.
Holistik: Journal For Islamic Social Sciences
1(1) : h. 18-19
Ditemukan
tanggal 6 Maret 2018
[32]
Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press
Jakarta, 2011). Cet. ke-1. h. 1
[33] Ibid.
[34] Trianto, Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2011), cet.
Ke-4, h 21
[35] Rusman. Model-Model
Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2013). Ed. ke-2. Cet. ke-6. h. 2.
[36]
h. 197
DAFTAR
PUSTAKA
B.
Uno,
Hamzah. 2011. Model Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain.
2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Martinis Yamin. Paradigma
Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press Jakarta, 2011). Cet. ke-1
Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru
Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung:
Remaja Rosdakarya
Rusman. 2013. Model-Model
Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada. Ed. ke-2. Cet. ke-6
Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan
Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Santinah, Konsep Strategi
Pembelajaran dan Aplikasinya. Holistik: Journal For Islamic Social Sciences
1(1) :
Diakses tanggal 6 Maret 2018
Trianto. 2011. Mendesain
Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya
pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta: Prenada Media
Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Yamin, Martinis.
2011. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: GP Press Jakarta. Cet. ke-1.
Darman. Model-model
Pembelajaran Inovatif. Dalam Bimtek PKT-INOBEL tanggal 27-29 Juli 2016 di Jakarta.
Pinta, Yani. Model
Pembelajaran. Dalam Up Grading Guru YPI Raudhatul Jannah Payakumbuh.
Tanggal 7 April 2017.
Harahap,
Irpan, Pendekatan Guru dalam Proses Pembelajaran dalam https://irpan1990.wordpress.com/2011/08/11/pendekatan-guru-dalam-proses-pembelajaran/
Diakses tanggal 8 Maret 2018
Langganan:
Postingan (Atom)


