Sabtu, 09 Juni 2018

PENGERTIAN PENDEKATAN DAN MODEL PEMBELAJARAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Sebelum membahas judul makalah ini,  penulis ingin mengetengahkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional di negara Republik Indonesia:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]
Dari kutipan di atas dapat diperoleh bahwa ada 4 fungsi dari pendidikan nasional:
1.      Mengembangkan kemampuan peserta didik
2.      Membentuk watak peserta didik
3.      Membentuk peradaban bangsa yang bermartabat
4.      Mencerdaskan kehidupan bangsa
Dan juga dapat diperoleh ada 11 tujuan dari pendidikan nasional:
1.      Berkembangnya potensi peserta didik
2.      Menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa
3.      Menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
4.      Berakhlak mulia
5.      Sehat
6.      Berilmu
7.      Cakap
8.      Kreatif
9.      Mandiri
10.  Menjadi warga negara yang demokratif
11.  Menjadi warga negara yang bertanggung jawab
Tujuan pendidikan nasional diturunkan ke dalam prakteknya di lembaga-lembaga pendidikan. Pada lembaga pendidikan berbentuk visi dan misi lembaga dan dalam Proses Belajar Mengajar dituangkan dalam tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran direncanakan oleh pendidik dicantumkan secara tertulis pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Dengan demikian pembelajaran dilakukan oleh guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Maka oleh karena itu kualitas pembelajaran ditentukan oleh sejauh mana tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Semakin tinggi tingkat ketercapaian semakin tinggi pula kualitas pembelajaran tersebut. Sebaliknya jika semakin rendah tingkat ketercapaian semakin rendah pula kualitas pembelajaran itu.
Karena secara komponen sasaran pencapaian pada peserta didik itu ada 3, yaitu ranah koginitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Kemudian masing-masingnya itu memiliki beragam macam dan variasi peserta didik maka sangat diperlukan perlakuan yang variatif dan inovatif dalam pembelajaran dengan pendekatan dan model pembelajaran yang tepat.
Martinis Yamin menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah sebuah alat, perkakas, syarat,  atau bahan untuk melaksanakan perubahan. “Model pembelajaran adalah sebuah metodologi atau piranti untuk melaksanakan perubahan[2].
Maka oleh karena itu sangatlah penting kiranya membahas apakah pendekatan pembelajaran? dan apakah model pembelajaran?

B.  Rumusan Masalah
Penulis ingin membuatkan rumusan masalah yang ingin dijawab dalam makalah ini yang selaras dengan judul di atas. Rumusan itu ada 2 macam, yaitu:
1.   Apakah pengertian pendekatan pembelajaran?
2.   Apakah pengertian model pembelajaran?



BAB II
PEMBAHASAN

Pembelajaran dipandang sebagai upaya memengaruhi siswa agar belajar. Dengan kata lain dapat dikatakan secara singkat bahwa pembelajaran sebagai upaya membelajarkan siswa. Dalam kegiatan pelaksanannya dapat dilakukan melalui pendekatan dan model pembelajaran.
A.  Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran ini merupakan suatu penjelas mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum, guru perlu melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari perencanaan, menentukan strategi, pemilihan materi dan metode pembelajaran, sampai pada penilaian. Irpan Harahap menyatakan bahwa serangkaian kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut sering disebut dengan pendekatan  yang dilakukan oleh guru atau pendekatan pembelajaran.[3]
Sedangkan pendekatan pembelajaran menurut Syaiful Sagala merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional.[4] Pendekatan pembelajaran merupakan aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran, apakah guru akan menjelaskan suatu pengajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan tertentu, ataukah dengan menggunakan materi yang terkait  satu dengan yang lainnya  dalam tingkatan kedalaman yang berbeda, atau bahkan merupakan materi yang terintegrasi dalam suatu kesatuan multi disiplin ilmu.

Wina Sanjaya mengungkapkan bahwa pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran[5].  Proses pembelajaran yang berlangsung dari awal sampai akhir yaitu sampai terjadinya penilaian.
Desi Wulandari menyimpulkan tentang arti kandungan pendekatan pembelajaran  setelah dia mempelajari pendapat-pendapat para ahli. Dia menyebutkan: pendekatan pembelajaran merupakan cara kerja mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran dan membelajarkan siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[6]
Dari definisi-definisi di atas ada 3 item utama yang dikemukakan yaitu:
1.      Sudut pandang
2.      Proses pembelajaran
3.      Tujuan pembelajaran
Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran itu adalah sudut pandang yang digunakan dalam kegiataan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Ditinjau berdasarkan peranan guru dan siswa dalam pengelolaan pembelajaran, pada umumnya orang mengemukakan ada dua jenis pendekatan pembelajaran, yaitu[7]:
1.       Pembelajaran yang berpusat pada guru
2.       Pembelajaran yang berpusat pada siswa


Senada dengan hal di atas Roy Killen mencatat juga menyatakan bahwa ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches)[8].
Jadi, secara umum pendekatan pembelajaran itu ada dua yaitu pendekatan yang berpusat pada guru dan pendekatan yang berpusat pada siswa.


Gambar Pendekatan Pembelajaran[9]




Gambar Pendekatan Pembelajaran [10]

Perbedaan antara dua pendekatan ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
NO

Teacher-Centred Approaches (pendekatan yang berpusat pada guru)


Student-Centred Approaches (pendekatan yang berpusat pada siswa)
1
Pengelolaan pembelajaran ditentukan sepenuhnya oleh guru
Pengelolaan pembelajaran ditentukan oleh siswa
2
Siswa hampir tidak memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas sesuai dengan minat dan keinginannya
Siswa memiliki kesempatan yang terbuka untuk melakukan aktivitas sesuai dengan minat dan keinginannya
3.
Strategi pembelajaran langsung (direct instruction), deduktif, dan ekspositori
Discovery, inkuiri, dan induktif.
4
Filsafat realism dan psikologi behaviorisme
Filsafat  pragmatisme, eksistensialisme, dan konstruksitivisme


Bila didalami lebih lanjut akan didapati keunikan-keunikan tersendiri pada masing-masing hal yang menonjol dalam tiap pendekatan. Sehingga para ahli membagi dan mengelompokkan pendekatan-pendekatan tersebut.
E. Mulyasa mengungkapkan  lima pendekatan pembelajaran yang perlu dipahami guru untuk dapat mengajar dengan baik, yaitu:[11]
1.   Pendekatan kompetensi
Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran, kompetensi menunjukkan kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifiasi tertentu dalam proses belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan kompetensi merupakan indicator yang menunjukkan kepada perbuatan yang  bisa diamati, dan sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh.
2.   Pendekatan keterampilan proses
Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang menekanakn pada proses belajar, aktivitas, kreativitas siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian tersebut termasuk di antaranya keterlibatan fisik, mental, dan sosial siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan.
Pendekatan keterampilan proses bertolak dari suatu pandangan bahwa setiap siswa memiliki potensi yang berbeda, dan dalam situasi yang normal, mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Oleh karena itu tugas guru adalah memberikan kemudahan kepada siswa dengan menciptakan lingkungan yang kondusif agar semua siswa dapat berkembang secara optimal. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mendorong aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam pembelajaran antara lain: diskusi, pengamatan, penelitian, praktikum, tanya jawab, karya wisata, studi kasus, bermain peran, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.
3.   Pendekatan lingkungan
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan.
Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti siswa mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Dalam hal ini siswa dapat menanyakan sesuatu yang ingin diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu tentang masalah yang dihadapi.
4.   Pendekatan kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga para siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran kontekstual ini tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa, dengan menyediakan berbagai sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan.
Pembelajaran kontekstual ini juga mendorong siswa memahami hakekat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka untuk rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar bahkan kecanduan belajar.
5.   Pendekatan tematik
Pendekatan tematik merupakan pendekatan pembelajaran untuk mengadakan hubungan yang erat dan serasi antara berbagai aspek yang mempengaruhi siswa dalam proses belajar. Oleh karena itu pendekatan tematik sering juga disebut pendekatan terpadu.
Pendekatan tematik atau pendekatan terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menyatupadukan serangkaian pengalaman belajar sehingga terjadi saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Pendekatan tematik dapat dilaksanakan oleh seorang guru, jadi semua bahan pelajaran menjadi tanggung jawabnya. Dapat pula dilaksanakan oleh beberapa orang guru secara kolektif, namun harus dilandasi kelancaran komunikasi, semangat kerja sama, dan mengadakan koordinasi yang baik di antara mereka.
Guru yang professional tidak hanya menguasai sejumlah materi pembelajaran, namun penguasaan pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat  dan sesuai mutlak diperlukan. Untuk itu perlu kiranya para guru mampu menggunakan pendekatan dan metode yang tepat agar pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain membagi pendekatan pembelajaran ini pada tiga bagian, yaitu:[12]
1.   Pendekatan individu
Dalam sebuah ruangan kelas terdapat berbagai macam jenis keperibadian peserta didik yang berbeda-beda, hal ini mesti diperhatikan oleh seorang guru agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Perbedaan individu siswa memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pembelajaran harus memperhatikan perbedaan siswa pada aspek individual ini.
Pendekatan individual ini mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentigan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Dalam pemilihan metode juga seorang guru tidak bisa sembarangan dalam pendekatan individu, sehingga seorang guru dalam proses kegiatan pembelajaran harus memperhatikan individual yang dihadapinya.
2.   Pendekatan kelompok
Dalam kegiatan pembelajaran terkadang guru juga memerlukan pendekatan kelompok. Pendekatan  kelompok ini diperlukan sewaktu membina dan mengembangkan sikap sosial siswa. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuhkembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap siswa.
Ketika guru ingin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus mempertimbangka bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas, metode dan bahan yang diberikan. Dalam pengelolaan kelas terutama berhubungan dengan penempatan siswa pendekatan kelompok sangat diperlukan. Perbedaan individual siswa dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan pendekatan kelompok.
3.   Pendekatan bervariasi
Dalam belajar siswa mempunya motivasi yang berbeda-beda, pada satu sisi siswa mempunya motivasi yang rendah, tapi pada saat yang lain siswa mempunyai motivasi yang tinggi. Dalam mengajar, guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu yang relatif lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali.
Pendekatan bervariasi ini bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam belajar bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus.
4.   Pendekatan edukatif
Apapun yang dilakukan guru dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan mendidik, bukan karena motif-motif lain. Dalam pendekatan edukatif ini tujuannya adalah untuk membina watak siswa dengan pendidikan yang bersifat positif.
Fadhilah Suralaga menyatakan bahwa berbagai strategi pembelajaran perlu dijabarkan ke dalam beberapa pendekatan yang signifikan. [13]
1.   Berkaitan dengan model pembelajaran, bisa dibedakan menjadi :
a.   Expository Teaching-Receptive Learning, yaitu pembelajaran berlangsung melalui ‘penyampaian’ materi oleh guru dan siswa ‘menerima’ materi tersebut. Metode yang digunakan dengan pendekatan ini adalah metode ceramah yang berarti pembelajaran berpusat pada guru.
b.   Active Learning ( belajar aktif ), yaitu system pembelajaran yang berpusat pada siswa . Guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dan salah satu sumber belajar, selebihnya guru memfasilitasi berbagai situasi, kondisi, dan sarana agar siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang baik.
c.   Interactive Learning ( pembelajaran interaktif ), yaitu system pembelajaran yang mengkondisikan situasi interaktif antara guru dan siswa serta lingkungannya, yang bias berlangsung dua arah atau multi-arah, antara guru-siswa guru antar siswa.
d.   Inquiry-Discovery-Problem Solving, yaitu system pembelajaran yang memacu siswa untuk melakukan upaya pencairan, penemuan, dan pemecahan masalahnya.
2.   Berkaitan dengan pengolahan kelas yang bisa dibedakan menjadi :
a.   Pendekatan klasikal
b.   Pendekatan kelompok
c.   Pendekatan individual
3. Berkaitan dengan sasaran belajar yang meliputi berbagai hal, seperti diantaranya adalah pengalaman, pembiasaan, emosional, rasional, fungsional, dan keteladanan.
a.   Pendekatan pengalaman, yaitu memberikan pengalaman kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan;
b.   Pendekatan pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya dan berakhlak baik;
c.   Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini,memahami, dan menghayati akidah Islam serta memberikan motivasi agar siswa ikhlas mengamalkan ajaran agamanya, khususnya yang terkait dengan akhlak karimah;
d.   Pendekatan rasional, yaitu usaha untuk memberikan peranan kepada rasio ( akal ) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran Islam;
e.   Pendekatan fungsional, yakni usaha untuk menyajikan ajaran agama dengan menekankan kepada segi kemanfaatannya bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya
f.   Pendekatan keteladanan, yaitu menyuguhkan keteladanan, baik secara langsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antarpersonal sekolah, perilaku guru/pendidik maupun tidak langsung melalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah keteladanan.
B.    Pengertian Model Pembelajaran
Martinis Yasmin menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah sebuah metodologi atau piranti untuk melaksanakan perubahan[14]. Pembelajar (Guru, pen.) adalah seorang profesionalis yang menjalankan fungsi-fungsinya dengan menggunakan metodologi untuk membelajarkan peserta didik dengan cara tidak konstan, artinya pembelajar harus berinovasi dan mencipta perubahan yang baik pada dirinya maupun pada diri peserta didik dan meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru pembelajaran.[15]
Trianto mengungkapkan bahwa “Secara kaffah model dimaknakan sebagai suatu objek atau konsep yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu hal.”[16] Karena dia merepresentasikan suatu hal maka dia sebagai sesuatu yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensif. Sebagai contoh model pesawat terbang, yang terbuat dari kayu, plastik, dan lem adalah model nyata dari pesawat terbang. Contoh lain adalah model matematika gerak parabola, model matematika gerak jatuh bebas, dan sebagainya.

Model pembelajaran menurut Joyce & Weil adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum dan pembelajaran  jangka panjang, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau di luar kelas[17]
Dari definisi-definisi di atas dapat dirangkum pada 2 hal utama tentang model, yaitu:
1.      Pola
2.      Pembelajaran
Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola-pola pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud yaitu mulai dari awal sampai akhir yang masih dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu suatu model pembelajaran hendaknya mengandung tujuan, tahap-tahap, gambaran suasana dan kondisi, serta peralatan yang dibutuhkan agar dapat ditiru/digunakan oleh orang lain dalam pembelajarannya.
Selanjutnya pendekatan dan model pembelajaran memiliki kaitan yang erat. Kaitan itu digambarkan dalam pada gambar di bawah ini:






                         Gambar Kaitan antara Model dan Pendekatan Pembelajaran
Gambar ini menunjukkan bahwa setiap dalam setiap model pembelajaran aka nada pendekatan pembelajaran di dalamnya. Dan tidaklah dalam setiap pendekatan pembelajaran terdapat model pembelajaran.
BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran itu adalah sudut pandang yang digunakan dalam kegiataan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dan secara ringkas model pembelajaran adalah pola-pola pembelajaran.
Dari dua pendekatan pembelajaran di atas maka pendekatan yang berpusat pada siswa lebih diutamakan bila dibandingkan dengan pendekatan yang berpusat pada guru. Kita meyakini bahwa siswa adalah makhluk individual. Ia adalah pribadi yang ingin menjadi dirinya sendiri (memiliki tujuannya sendiri), memiliki berbagai bakat dan kemampuannya sendiri. Ki Hadjar Dewantara menyebutkan bahwa siswa/anak adalah makhluk yang bebas dan memiliki kodrat alamnya sendiri.[18] Guru hendaknya mendorong siswa belajar secara mandiri. Namun, pendidik tidak dapat sepenuhnya membiarkan siswa mencari dan memilih nilai-nilainya sendiri agar tidak menyimpang dari dasar dan tujuan pendidikan/pembelajaran yang diharapkan. Karenanya, berbarengan dengan itu (pembelajaran yang berpusat pada siswa), guru pun harus memiliki peranan untuk memberikan teladan, bimbingan, dan arahan sesuai dengan dasar dan tujuan pendidikan / pembelajaran.
B.     Penutup
Penulis mengakui bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh sebab itu kritik dan saran sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah ini.


  

Diposkan oleh HM Farid Wajri RM


CATATAN KAKI:

[1] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3
[2]  Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press Jakarta, 2011). Cet. ke-1. h. 1
[3] Irpan Harahap, Pendekatan Guru dalam Proses Pembelajaran dalam https://irpan1990.wordpress.com/2011/08/11/pendekatan-guru-dalam-proses-pembelajaran/
Diakses tanggal 8 Maret 2018

[4] Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2009). h. 68.
[5] Wina Sanjaya.. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (Jakarta: Prenada Media Group, 2010). Cet. ke-3.  h. 295
[6] Desi Wulandari. Definisi Pendekatan  Pembelajaran Menurut Para Ahli. Dalam http://mtk2012unindra.blogspot.co.id/2012/10/definisi-pendekatan-pembelajaran.html
Ditemukan tanggal 7 Maret 2018


[7] Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013). Cet. ke-3. h. 196
[8] Ibid.
[9] Yani Pinta. Model Pembelajaran. Dalam Up Grading Guru YPI Raudhatul Jannah Payakumbuh. Tanggal  7 April 2017.
[10] Darman. Model-model Pembelajaran Inovatif. Dalam Bimtek PKT-INOBEL  tanggal 27-29 Juli 2016 di Jakarta.
[11] E. Mulyasa. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008). h. 96-106.
[12] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rineka Cipta, 2006). h. 54-69.
[13] Santinah, Konsep Strategi Pembelajaran dan Aplikasinya.
 Holistik: Journal For Islamic Social Sciences 1(1) : h. 18-19
Ditemukan tanggal 6 Maret 2018
[14]  Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press Jakarta, 2011). Cet. ke-1. h. 1
[15] Ibid.
[16] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2011), cet. Ke-4, h 21
[17] Rusman. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013). Ed. ke-2. Cet. ke-6. h. 2.
[18] h. 197
[19] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3
[20]  Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press Jakarta, 2011). Cet. ke-1. h. 1
[21] Irpan Harahap, Pendekatan Guru dalam Proses Pembelajaran dalam https://irpan1990.wordpress.com/2011/08/11/pendekatan-guru-dalam-proses-pembelajaran/
Diakses tanggal 8 Maret 2018

[22] Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2009). h. 68.
[23] Wina Sanjaya.. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (Jakarta: Prenada Media Group, 2010). Cet. ke-3.  h. 295
[24] Desi Wulandari. Definisi Pendekatan  Pembelajaran Menurut Para Ahli. Dalam http://mtk2012unindra.blogspot.co.id/2012/10/definisi-pendekatan-pembelajaran.html
Ditemukan tanggal 7 Maret 2018

 [25] Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013). Cet. ke-3. h. 196
[26] Ibid.
[27] Yani Pinta. Model Pembelajaran. Dalam Up Grading Guru YPI Raudhatul Jannah Payakumbuh. Tanggal  7 April 2017.
[28] Darman. Model-model Pembelajaran Inovatif. Dalam Bimtek PKT-INOBEL  tanggal 27-29 Juli 2016 di Jakarta.
[29] E. Mulyasa. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008). h. 96-106.
[30] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rineka Cipta, 2006). h. 54-69.
[31] Santinah, Konsep Strategi Pembelajaran dan Aplikasinya.
 Holistik: Journal For Islamic Social Sciences 1(1) : h. 18-19
Ditemukan tanggal 6 Maret 2018
[32]  Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press Jakarta, 2011). Cet. ke-1. h. 1
[33] Ibid.
[34] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2011), cet. Ke-4, h 21
[35] Rusman. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013). Ed. ke-2. Cet. ke-6. h. 2.
[36] h. 197


DAFTAR PUSTAKA

B.  Uno, Hamzah. 2011. Model Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Martinis Yamin. Paradigma Baru Pembelajaran. (Jakarta: GP Press Jakarta, 2011). Cet. ke-1
Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Rusman. 2013. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Ed. ke-2. Cet. ke-6
Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Santinah, Konsep Strategi Pembelajaran dan Aplikasinya.   Holistik: Journal For Islamic Social Sciences 1(1) :
     Diakses tanggal 6 Maret 2018
Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta: Prenada Media
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Yamin, Martinis. 2011. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: GP Press Jakarta. Cet. ke-1.

Darman. Model-model Pembelajaran Inovatif. Dalam Bimtek PKT-INOBEL  tanggal 27-29 Juli 2016 di Jakarta.
Pinta, Yani. Model Pembelajaran. Dalam Up Grading Guru YPI Raudhatul Jannah Payakumbuh. Tanggal  7 April 2017. 
Harahap, Irpan, Pendekatan Guru dalam Proses Pembelajaran dalam https://irpan1990.wordpress.com/2011/08/11/pendekatan-guru-dalam-proses-pembelajaran/
     Diakses tanggal 8 Maret 2018