Al-Qur’an secara bahasa berasal dari bahasa
arab, yaitu qara’a-yaqra’u-qur’aanan, artinya membaca.1 Dia
adalah Kalam Allah. Kalam berarti bicara atau firman. Kalam
Allah itu:
“Tuntunan, yang merupakan harta terbesar
manusia, telah diturunkan kepada umat manusia melalui wahyu ilahi, dan
dikomunikasikan kepada seluruh manusia melalui utusan (Rasul) Allah.”2 “Al-Qur’an
merupakan kita suci bagi umat Islam yang menjadi petunjuk bagi manusia untuk
memperoleh kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat”3
Bila
kita gabungkan 2 (dua) definisi di atas
dapatlah kita ambil suatu kesimpulan bahwa Al-Qur’an baru bisa dianggap
sebagai harta terbesar yang mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di
akhirat ketika Al-Qur’an dijadikan
sebagai petunjuk. Di sinilah letak keunikan Al-Qur’an, yang berbeda dari
buku-buku atau literatur lain. Bahwa dia harus diimani dan mendekatinya
benar-benar untuk dijadikan pedoman dalam menempuh kehidupan.
“Al-Qur’an, menurut Ibnu Khaldun. Turun dengan
menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, seluruh masyarakat Arab akan memahami
pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an.”4
Pernyataan Ibnu Khaldun itu bisa dijadikan
argumen bahwa kemampuan berbahasa Arab menjadi salah satu syarat dalam memahami
Al-Qur’an. Selain itu, Al-Qur’an
yang kini berbentuk mushhaf tertulis merupakan fenomena linguistik. Karena itu
pula maka bahasa menjadi salah satu fenomena kajian yang sarat dengan
multi-interpretasi.
Apa yang disampaikan oleh Ibnu Khaldum bahwa
masyarakat Arab akan memahami pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an karena
kemampuan bahasa Arab tentulah suatu hal yang naïf. Pernyataan seperti ini
ditanggapi oleh H. Ramli Abdil Wahid sebagai berikut:
“ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti
bahasa arab mengerti isi Al-Qur’an… seperti ini sebenarnya keliru yaitu, sebab
banyak orang yang mengerti bahasa Arab tetapi tidak mengerti isi Al-Qur’an….
Misalnya orang bisa memahami ayat yang
artinya “ke mana saja kamu berpaling maka di sana wajah Allah” (Q.S. ke-2: 115)
sebagai dasar tidak wajibnya menghadap kiblat dalam segala shalat.”5
Kiblat seorang muslim dalam shalat adalah
Ka’bah yang ada di Mekah. Ketika orang yang memahami bahasa arab bahwa di mana
saja kita berada, di sana wajah Allah – tanpa memahami sunnah Rasulullah SAW –
akan memahaminya dengan tidak perlunya shalat ke arah kiblat, tentu saja ini
salah besar.
Al-Qur’an menggunakan bahasa arab. Dalam wacana
liberal-sekuler, kedudukan bahasa arab dalam Al-Qur’an selalu dikaitkan untuk
memperkuat dalil historisitas Al-Qur’an dan hegemoni Arab (Quraisy) terhadap
Islam. Tentunya klaim seperti ini sangat berlebihan. Mengenai tuduhan bahwa
Al-Qur’an terhegemoni oleh suku Quraisy dengan mengenyampingkan logat-logat
bahasa yang terdapat dalam suku Arab lainnya sehingga kemudian tuduhan pun
berlanjut kepada Imam Syafi’i yang telah bekerja keras untuk menegakkan kembali
supremasi suku Quraisy dan akhirnya
beliau dituduh sebagai ideology Quraisy tulen.
Namun sesungguhnya bahasa Arab suku Quraisy
memiliki keunggulan dari bahasa arab suku-suku lainnya. Dalam majalah ‘Al-Minhal’, Rabi’ul awwal – Jumadil
Ula 1360 H, terdapat sebuah artikel yang mengupas logat-logat Arab, dan
perbedaannya dengan Arab Fushha.
1. Mengganti
huru “jim”, dengan “yaa”. Seperti kata “yaa” yang seharusnya adalah “jaa”.
Logat ini digunakan Bani Tamim yang kebanyakan penduduk as-Saahil asy-Syarqi di negara-negara
Arab. Mereka biasa mengucapka yaahil wa rayul maksudnya jaahil wa
rajul, orang bodoh dan orang laki-laki
2. Kata
ganti untuk orang kedua perempuan ( كِ ) oleh penduduk Nejd dan daerah-daerah
yang bersebelahan dengannya, biasanya mereka melafazhkan huruf kaaf ini
dengan makhraj yang lebih dekat dengan huruf syiin. Namun oleh suku asli
Marrah dilafazhkan lebih dekat dengan syiin (ش ). Contoh kata: فَعَيْنَاش (fa’aynaasy) yang dimaksud adalah فَعَيْنَاكِ (fa’aynaaki),
maka kedua matamu
3. Mengubah
huruf ta marbuuthah (ة ) dengan ta
maftuuhah (ت ).
Seperti yang diucapkan oleh salah seorang raja Himyar (Yaman) kepada salah
seorang arab badui لَيْسَ عِنْدَنَا عَرَبِيَّت.
Maksudnya adalah عَرَبِيَّة (‘arabiyyah)
4. Mengganti
huruf ‘ain dengan huruf nuun . seperti kata أَنْطَى
maksudnya أَعْطَىseperti yang biasa diucapkan
penduduk Najd. Sehingga ada beberapa Qurra’, para pembaca Al-Quran, yang membaca Al-Kautsar dengan إِنا أنطينا
كالكوثر
5. Mengganti
huruf hamzah dengan huruf ayn
seperti kata المعتمر
yang dimaksud المؤتمر atau الهيعة
yang dimaksud الهيئة
6. Mengganti alif lam at ta’rif, alif lam ( ال
)makrifah, dengan alif mim
Seperti pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dalam musnadnya dengan susunan sanad ‘abdur Razaq, Ma’mar, al-Zuhri, Safwan ibn ‘Abdillah,
Umm al-Darda’, dan Kaab ibn Ashm al-Ash’ari.
ليس
من امبر امصيام فى مسفر (لَيْسَ مِنَ الْبِرّ اَلصّيَامُ فِى السّفَرِ) مسند أحمد
Artinya:
“bukanlah perkara yang baik berpuasa saat bepergian” (HR. Ahmad)
Pelafalan tersebut biasa digunakan oleh kaum
Asy’ari, Himyar dari negeri Yaman. Mereka terbiasa mengucapkan Mengganti alif lam at ta’rif, alif lam ( ال
)makrifah, dengan alif mim. Kemungkinan kuat, Nabi Muhammad SAW
mengucapkan hadits dengan tersebut dengan loghat mereka. Sehingga para perawi
hadits meriwayatkannya sesuai ucapan Nabi SAW tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahasa
Arab Quraisy mempunyai kelebihan dibanding dengan logat suku-suku Arab lainnya.6
Al-Qur’an
merupakan wahyu Allah. Firman Allah yang pertama turun itu adalah Surat Al-Alaq
ayat 1-5. Lima ayat ini diawali diawali oleh kata “iqra’.” “iqra’” atau
perintah membaca adalah perintah pertama dari wahyu pertama yang diterima nabi
Muhammad SAW. kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam
wahyu pertama tersebut. Mungkin mengherankan perintah ini ditujukan kepada
seseorang yang tidak bisa membaca dan menulis, bahkan tidak mengerti semua
bahasa sampai akhirnya. Akhirnya, kita mengerti dan keraguan kita akan sirna
ketika kita memahami bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada Nabi
Muhammad SAW, melainkan kepada umatnya, seluruh manusia. Karena realisasi
perintah tersebut merupakan kunci pembukaan dalam meraih kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Kata “iqra’” yang pada mulanya berarti
menghimpun. Bila kita merangkai huruf, atau mengucapkan kata, maka sesungguhnya
kita telah menghimpun huruf-huruf tersebut, atau dalam bahasa arab disebut qara’a, yaqra’u, qiraa’athan. Artinya
ini menunjukkan bahwa ketika iqra’ , bacalah, tidak mengharuskan adanya
teks tertulis di hadapan, tidak pula harus diperdengarkan hingga didengar orang
lain. Karenanya kita dapat menemukan dalam kamus-kamus bahasa beragam-ragam
artinya. Antara lain menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti,
mengetahui ciri-cirinya dan sebagainya. Semuanya itu dapat dikembalikan
kepada hakikat menghimpun yang merupakan arti akar kata tersebut.
Iqra’, bacalah,
demikianlah perintah itu turun. Maa aqra’, apakah yang akan kubaca?,
demikian jawaban Nabi Muhammad SAW – dalam suatu riwayat – setelah perintah itu
berulang-ulang disampaikan oleh Jibril a.s. dimana dia merangkul Nabi SAW.
Sehubungan dengan itu, ada baiknya kita
menggali informasi dari Al-Qur’an sehubungan dengan qara’a yang terulang sebanyak tiga kali, surat ke-17
ayat 14 dan surat ke-96 ayat 1 dan 3. Sedangkan kata kejadiannya, dari akar
kata tersebut dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 17 kali selain kata
Al-Qur’an yang terulang sebanyak 70 kali.
Jika diamati objek membaca yang menggunakan
ayat-ayat dengan akar kata qara’a ditemukan bahwa ia terkadang
menyangkut suatu bacaan yang bersumber dari Allah (Al-Qur’an atau kitab suci
sebelumnya) – lihat misalnya Surat ke-17 : 45 dan ke-10: 94 – dan terkadang
objeknya adalah suatu kitab yang merupakan himpunan karya manusia atau dengan
kata lain bukan bersumber dari Allah seperti pada Surat ke-17 : 14
Disini, ditemukan perbedaan membaca dari akar
kata qara’a dan membaca dari akar kata talaa, yatluu, tilaawathan,
dimana yang terakhir bermakna untuk bacaan-bacaan yang suci dan pasti benar
seperti pada Surat ke-2:252 dan ke-5: 27
Di lain segi, dapat dikemukan suatu kaidah
bahwa suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan objeknya, maka
objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau
oleh kata tersebut.7
Dari
sini dapat ditarik kesimpulan karena kata qara’a digunakan dalam arti membaca, menela’ah,
menyampaikan, dan sebagainya, karena objeknya tidak disebut maka ia
bersifat umum, maka objek kata tersebut mencakup segala sesuatu yang dapat
dijangkau baik bacaan suci yang bersumber dari Allah maupun bukan, baik
menyangkut ayat-ayat tertulis maupun yang tidak tertulis, sehingga mencakup
telaah terhadap jagad raya, masyarakat dan diri sendiri, ayat suci Al-Qur’an,
majalah, koran, dll.
Objek qiraat yang demikian luas itu,
memang dapat sedikit menyempit apabila dilihat dari dirangkaikannya perintah
membaca dengan qalam, baik pada ayat keempat wahyu pertama maupun ayat
pertama wahyu kedua (surat Al-Qalam). Namun harus diingat bahwa sekian pakar
tafsir kontomporer kata qalam sebagai segala macam alat tulis-menulis
sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih, dan juga harus diingat
bahwa qalam, pena, bukan satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh
pengetahuan.
Perintah membaca, menelaah, meneliti dikaitkan
dengan kata “bismirabbika” (dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini
merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan
bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang
tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.
Perintah membaca kedua ditemukan sekali lagi
pada wahyu pertama. Tatapi kali ini, perintah tersebut dirangkaikan dengan kata
warabbukal akram. Ayat ini merupakan dorongan untuk meningkatkan minat
baca.
Dalam ayat Al-Qur’an hanya dua kali ditemukan
kata al-akram. Ayat ke-3 surat Al-‘Alaq dan ayat ke 13 surat al-Hujurat,
yaitu ”inna akramakum ‘indallaahi atqaakum.” Kata akram biasa
diterjemahkan dengan “Maha Pemurah” atau “Semuli-mulia.” Untuk memahami lebih
jauh arti yang sebenarnya dari kata akram, sewajarnya kita kembali
kepada akar katanya yaitu karama yang menurut kamus-kamus bahasa Arab
antara lain berarti memberikan dengan mudah dan tanpa pamrih, bernilai
tinggi, terhormat, mulia, setia, dan kebangsawanan.
Dalam ditemukan kata kariim terulang
sebanyak 27 kali. Kata tersebut menyifati 13 hal yang berbeda-beda seperti qawl
(ucapan), rizq (rezeki), zawj (pasangan), malak (malaikat),
zhil (naungan), dan sebagainya.
Tentulah pengertian yang dikandung kariim di
atas pada ayat-ayat yang berbeda-beda di atas harus disesuaikan dengan subjek
yang disifatinya. Kata kariim pada qawl (ucapan) tentu berbeda
pengertiannya pada rizq (rezeki) dan zawj (pasangan). Ucapan yang
kariim adalah ucapan yang baik, indah terdengar, benar susunan dan
kandungannya, mudah dipahami serta menggambarkan segala sesuatu yang ingin
disampaikan oleh pembicara. Sedangka kata kariim pada rizq yang
dimaksud antara lain adalah banyak, bermanfaat, serta halal.
Kalau demikian kita dapat menyimpulkan
bahwa kata karim dan kemudian akram digunakan oleh Al-Qur’an
untuk menggambarkan segala sesuatu yang terpuji menyangkut subjek yang
disifatinya.
Kembali kepada “rabubbukal akram”, yang
disifati di sini adalah “Rabb” (Tuhan pemelihara). Apakah kata akram
yang bersifat superlative ini
akan dibatasi pengertiannya dalam suatu hal tertentu? Jawabannya adalah tidak;
apalagi ayat ini adalah satu-satunya ayat di dalam Al-Qur’an yang menyifati
Tuhan dalam bentuk tersebut dari kata kariim.
“warabubbukal akram” mengandung
pengertian bahwa Dia (Tuhan) dapat menganugrahkan puncak dari segala yang
terpuji bagi segala hambanya yang membaca.
Kemudian ayat ketiga, “iqra’ warabbukal
akram” di sisi lain dari tinjauan bahasa. Bahwa wa yang berarti
‘dan’ secara bahasa Arab berfungsi lil jam’i, untuk mengumpulkan. Maka
dalam penerapannya, berkumpulnya hati dengan Allah, atau kesadaran bahwa Allah
melihat kita dalam menuntut ilmu (membaca, menelaah, mendiskusikan, dsb.)
inilah sesungguhnya yang diinginkan oleh Allah. Yang akhirnya ini pulalah yang
menjadikan karam nya Allah dianugrahkan kepada kita dari tidak tahu
menjadi tahu yang dinilai sebagai ibadah oleh Allah SWT
Al-Quran berangkat dari kepastian. Kepastian
itu berangkat dari 1. Bahwa manusia benar-benar tidak berilmu, 2. Allah
membimbing manusia tahu dan berilmu. Sehingga dengan demikian hakikatnya
manusia selalu berpadu dengan Allah dan manusia butuh Allah.
“Terjemahan ayat-ayat dari wahyu yang pertama
kali diturunkan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW di atas, dengan singkat
menggambarkan ketegangan abadi manusia: manusia selalu membutuhkan pengetahuan
tentang realitas. Manusia selalu berpadu dengan ilahi. Hanyalah bias,
kerumitan, dan salah mengerti yang akan melahirkan frustasi dalam pencapaian,
dan akhirnya akan menggelincirkannya dari jalan lurus. Begitu mereka menghadapi
kenyataan bahwa kerinduannya pada Ilahi tidak pernah meredakan nuraninya dari
letupan-letupan demi letupan, yang tidak akan membiarkannya terdiam di jalan
yang menentang-Nya.”8
Suatu kepastian yang cocok disorot oleh
Al-Qur’an. Al-Qur’an menghilangkan keraguan. Al-Qur’an membedakan antara
kepastian dan spekulasi. “Bila Al-Quran menyampaikan pendirian-pendirian yang
kokoh, maka demikian pula halnya para ilmuwan. Mereka tidak mengakui salah
cabang pengetahuan, kecuali jika cabang pengetahuan itu berlandaskan akal yang
sehat dan argumen yang kuat, atau pengalaman yang mendalam.” 9
Al-Qur’an senantiasa menjelaskan pengertian suatu
kata disertai dengan kata yang berlawanan dengannya. Penjelasan kata “haq”
(kebenaran mutlak) juga disertai dengan penjelasan kata “baathil” (kebathilan).
Pengetahuan tentang al-Haq (kebenaran mutlak) merupakan anugrah kepada manusia
sejak lahir (fithrah). Sehingga tidak bersifat relative dan memerlukan
sudut pandang. Demikian pula “shawaab” (kebenaran yang tidak bersifat
muthlak) dengan lawannya “khata’” (kekeliruan, kesalahan). Al-Qu’ran
juga menjelaskan beberapa terminology serta lawan katanya, sehingga dapat
diketahui batasannya dengan jelas. Seperti kata iimaan vs kufr, ‘adl vs zhulm, hidaayah
vs bid’ah.
Kata kufr berarti kekafiran sebagai
lawan kata iimaan yang berarti keimanan, mengandung pengertian
tertutup/terkunci dari kebenaran. Demikian pula kata zhulm, kezhaliman
dan kegelapan, sebagai lawan kata ‘adl, keadilan. Sebab perbuatan zhalim
akumulasi dari perbuatan kegelapan (ketiadaan hidayah). Rasulullah menjelaskan
bahwa azh-zhulm zhulumaat, kezhaliman itu adalah kegelapan.
A.
Penutup
Al-Qur’an yang berarti bacaan, mulanya berarti
menghimpun. Proses membaca pada hakekatnya mengumpulkan segala sesuatu.
Menghimpun dari Al-Quran atau dari ciptaan Allah. Diman Al-Qur’an dan ciptaan (khalq)
berasal dari Allah SWT.
Catatan kaki:
[1] Kamus Bahasa Arab Mahmud Yunus
2 Thomas Ballantine Irving dkk, Al-Qur’an tentang Aqidah & Segala Amal
– Ibadah Kita, Buku asli: The al-Qur’an: Basic Teacings diterjemahkan
oleh A. Nashir Budiman, Cet. ke-2, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), Hal.
3
3 HM. Ashaf Shaleh, Takwa Makna dan Hikmahnya
dalam Al-Qur’an, Editor: Setya Bhawono dan Sayed Mahdi, (Jakarta:
Erlangga), Hal. ix
4 Dr. H.U. Syafruddin, Paradigma Tafsir
tekstual & Kontekstual Usaha Memaknai Kembali pesan Al-Quran,
Penyunting: Saifuddin Zuhri Qudsy, Cet. Pertama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2009). Hal. 1
5 Drs. H. Ramli Abdul Wahid, MA, Ulumul Qur’an, Ed. Revisi, Cet. ke-4, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2004), Hal .1
6 Henri Shalahuddin, M.A, Al-Qur’an Dihujat,
Penyunting: Nuim Hidayat, Cet. pertama, (Jakarta: Al-Qalam, 2007), Hal. 138-141
7 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Ed. Baru, Cet. ke-3,
(Bandung: Mizan, 2009), Hal. 261-264
8 Thomas Hal. 1
9 Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy, Al-Qur’an tentang Alam Semesta, Cet.
ke-3, Penerjemah: Abdul Bar Salim, Judul Asli: On Cosmic Verses in
The Qur’an. (Jakarta: Amzah, 2000). Hal. 6
Catatan: Makalah ini disampaikan dalam mata kuliah
Bahasa Arab di Jurusan PAI Pascasarjana IAIN Bukittinggi tanggal 30 September 2017
Diposting oleh HM Farid Wajri RM