Kamis, 12 Oktober 2017

MENDALAMI BAHASA ARAB AL-QUR’AN Disertai Studi Kebahasaan Surat Al-Alaq Ayat 1-5

Al-Qur’an secara bahasa berasal dari bahasa arab, yaitu qara’a-yaqra’u-qur’aanan, artinya membaca.1 Dia adalah Kalam Allah. Kalam berarti bicara atau firman. Kalam Allah itu:
 “Tuntunan, yang merupakan harta terbesar manusia, telah diturunkan kepada umat manusia melalui wahyu ilahi, dan dikomunikasikan kepada seluruh manusia melalui utusan (Rasul) Allah.”2     “Al-Qur’an merupakan kita suci bagi umat Islam yang menjadi petunjuk bagi manusia untuk memperoleh kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat”3
Bila kita gabungkan 2 (dua) definisi di atas  dapatlah kita ambil suatu kesimpulan bahwa Al-Qur’an baru bisa dianggap sebagai harta terbesar yang mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat  ketika Al-Qur’an dijadikan sebagai petunjuk. Di sinilah letak keunikan Al-Qur’an, yang berbeda dari buku-buku atau literatur lain. Bahwa dia harus diimani dan mendekatinya benar-benar untuk dijadikan pedoman dalam menempuh kehidupan.
“Al-Qur’an, menurut Ibnu Khaldun. Turun dengan menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, seluruh masyarakat Arab akan memahami pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an.”4
Pernyataan Ibnu Khaldun itu bisa dijadikan argumen bahwa kemampuan berbahasa Arab menjadi salah satu syarat dalam memahami Al-Qur’an. Selain itu,       Al-Qur’an yang kini berbentuk mushhaf tertulis merupakan fenomena linguistik. Karena itu pula maka bahasa menjadi salah satu fenomena kajian yang sarat dengan multi-interpretasi.
Apa yang disampaikan oleh Ibnu Khaldum bahwa masyarakat Arab akan memahami pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an karena kemampuan bahasa Arab tentulah suatu hal yang naïf. Pernyataan seperti ini ditanggapi oleh H. Ramli Abdil Wahid sebagai berikut:
“ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa arab mengerti isi Al-Qur’an… seperti ini sebenarnya keliru yaitu, sebab banyak orang yang mengerti bahasa Arab tetapi tidak mengerti isi Al-Qur’an…. Misalnya orang bisa  memahami ayat yang artinya “ke mana saja kamu berpaling maka di sana wajah Allah” (Q.S. ke-2: 115) sebagai dasar tidak wajibnya menghadap kiblat dalam segala shalat.”5
Kiblat seorang muslim dalam shalat adalah Ka’bah yang ada di Mekah. Ketika orang yang memahami bahasa arab bahwa di mana saja kita berada, di sana wajah Allah – tanpa memahami sunnah Rasulullah SAW – akan memahaminya dengan tidak perlunya shalat ke arah kiblat, tentu saja ini salah besar.
Al-Qur’an menggunakan bahasa arab. Dalam wacana liberal-sekuler, kedudukan bahasa arab dalam Al-Qur’an selalu dikaitkan untuk memperkuat dalil historisitas Al-Qur’an dan hegemoni Arab (Quraisy) terhadap Islam. Tentunya klaim seperti ini sangat berlebihan. Mengenai tuduhan bahwa Al-Qur’an terhegemoni oleh suku Quraisy dengan mengenyampingkan logat-logat bahasa yang terdapat dalam suku Arab lainnya sehingga kemudian tuduhan pun berlanjut kepada Imam Syafi’i yang telah bekerja keras untuk menegakkan kembali supremasi suku Quraisy  dan akhirnya beliau dituduh sebagai ideology Quraisy tulen.
Namun sesungguhnya bahasa Arab suku Quraisy memiliki keunggulan dari bahasa arab suku-suku lainnya.  Dalam majalah            ‘Al-Minhal’, Rabi’ul awwal – Jumadil Ula 1360 H, terdapat sebuah artikel yang mengupas logat-logat Arab, dan perbedaannya dengan Arab Fushha.
1.      Mengganti huru “jim”, dengan “yaa”. Seperti kata “yaa” yang seharusnya adalah “jaa”. Logat ini digunakan Bani Tamim yang kebanyakan penduduk as-Saahil asy-Syarqi di negara-negara Arab. Mereka biasa mengucapka yaahil wa rayul maksudnya jaahil wa rajul, orang bodoh dan orang laki-laki
2.      Kata ganti untuk orang kedua perempuan ( كِ ) oleh penduduk Nejd dan daerah-daerah yang bersebelahan dengannya, biasanya mereka melafazhkan huruf kaaf ini dengan makhraj yang lebih dekat dengan huruf syiin. Namun oleh suku asli Marrah dilafazhkan lebih dekat dengan syiin (ش ).  Contoh kata:  فَعَيْنَاش (fa’aynaasy)  yang dimaksud adalah   فَعَيْنَاكِ  (fa’aynaaki), maka kedua matamu
3.      Mengubah huruf ta marbuuthah (ة )  dengan ta maftuuhah  (ت ). Seperti yang diucapkan oleh salah seorang raja Himyar (Yaman) kepada salah seorang arab badui      لَيْسَ عِنْدَنَا عَرَبِيَّت. Maksudnya adalah  عَرَبِيَّة  (‘arabiyyah)
4.      Mengganti huruf ‘ain dengan huruf nuun . seperti kata   أَنْطَى  maksudnya      أَعْطَىseperti yang biasa diucapkan penduduk Najd. Sehingga ada beberapa Qurra’, para pembaca Al-Quran,  yang membaca Al-Kautsar dengan     إِنا أنطينا كالكوثر
5.      Mengganti huruf hamzah dengan huruf  ayn seperti kata   المعتمر  yang dimaksud  المؤتمر atau  الهيعة  yang dimaksud  الهيئة 
6.      Mengganti   alif lam at ta’rif, alif lam ( ال )makrifah, dengan alif mim
Seperti pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dengan susunan sanad ‘abdur Razaq, Ma’mar,                al-Zuhri, Safwan ibn ‘Abdillah, Umm al-Darda’, dan Kaab ibn Ashm al-Ash’ari.
ليس من امبر امصيام فى مسفر (لَيْسَ مِنَ الْبِرّ اَلصّيَامُ فِى السّفَرِ) مسند أحمد
Artinya: “bukanlah perkara yang baik berpuasa saat bepergian”  (HR. Ahmad)
Pelafalan tersebut biasa digunakan oleh kaum Asy’ari, Himyar dari negeri Yaman. Mereka terbiasa mengucapkan Mengganti   alif lam at ta’rif, alif lam ( ال )makrifah, dengan alif mim. Kemungkinan kuat, Nabi Muhammad SAW mengucapkan hadits dengan tersebut dengan loghat mereka. Sehingga para perawi hadits meriwayatkannya sesuai ucapan Nabi SAW tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab Quraisy mempunyai kelebihan dibanding dengan logat suku-suku Arab lainnya.6
Al-Qur’an merupakan wahyu Allah. Firman Allah yang pertama turun itu adalah Surat Al-Alaq ayat 1-5. Lima ayat ini diawali diawali oleh kata “iqra’.“iqra’” atau perintah membaca adalah perintah pertama dari wahyu pertama yang diterima nabi Muhammad SAW. kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam wahyu pertama tersebut. Mungkin mengherankan perintah ini ditujukan kepada seseorang yang tidak bisa membaca dan menulis, bahkan tidak mengerti semua bahasa sampai akhirnya. Akhirnya, kita mengerti dan keraguan kita akan sirna ketika kita memahami bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan kepada umatnya, seluruh manusia. Karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembukaan dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kata “iqra’” yang pada mulanya berarti menghimpun. Bila kita merangkai huruf, atau mengucapkan kata, maka sesungguhnya kita telah menghimpun huruf-huruf tersebut, atau dalam bahasa arab disebut  qara’a, yaqra’u, qiraa’athan. Artinya ini menunjukkan bahwa ketika iqra’ , bacalah, tidak mengharuskan adanya teks tertulis di hadapan, tidak pula harus diperdengarkan hingga didengar orang lain. Karenanya kita dapat menemukan dalam kamus-kamus bahasa beragam-ragam artinya. Antara lain menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya dan sebagainya. Semuanya itu dapat dikembalikan kepada hakikat menghimpun yang merupakan arti akar kata tersebut.
Iqra’, bacalah, demikianlah perintah itu turun. Maa aqra’, apakah yang akan kubaca?, demikian jawaban Nabi Muhammad SAW – dalam suatu riwayat – setelah perintah itu berulang-ulang disampaikan oleh Jibril a.s. dimana dia merangkul Nabi SAW.
Sehubungan dengan itu, ada baiknya kita menggali informasi dari Al-Qur’an sehubungan dengan qara’a  yang terulang sebanyak tiga kali, surat ke-17 ayat 14 dan surat ke-96 ayat 1 dan 3. Sedangkan kata kejadiannya, dari akar kata tersebut dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 17 kali selain kata Al-Qur’an yang terulang sebanyak 70 kali.
Jika diamati objek membaca yang menggunakan ayat-ayat dengan akar kata qara’a ditemukan bahwa ia terkadang menyangkut suatu bacaan yang bersumber dari Allah (Al-Qur’an atau kitab suci sebelumnya) – lihat misalnya Surat ke-17 : 45 dan ke-10: 94 – dan terkadang objeknya adalah suatu kitab yang merupakan himpunan karya manusia atau dengan kata lain bukan bersumber dari Allah seperti pada Surat ke-17 : 14
Disini, ditemukan perbedaan membaca dari akar kata qara’a dan membaca dari akar kata talaa, yatluu, tilaawathan, dimana yang terakhir bermakna untuk bacaan-bacaan yang suci dan pasti benar seperti pada Surat ke-2:252 dan ke-5: 27
Di lain segi, dapat dikemukan suatu kaidah bahwa suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut.7
 Dari sini dapat ditarik kesimpulan karena kata qara’a  digunakan dalam arti membaca, menela’ah, menyampaikan, dan sebagainya, karena objeknya tidak disebut maka ia bersifat umum, maka objek kata tersebut mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau baik bacaan suci yang bersumber dari Allah maupun bukan, baik menyangkut ayat-ayat tertulis maupun yang tidak tertulis, sehingga mencakup telaah terhadap jagad raya, masyarakat dan diri sendiri, ayat suci Al-Qur’an, majalah, koran, dll.
Objek qiraat yang demikian luas itu, memang dapat sedikit menyempit apabila dilihat dari dirangkaikannya perintah membaca dengan qalam, baik pada ayat keempat wahyu pertama maupun ayat pertama wahyu kedua (surat Al-Qalam). Namun harus diingat bahwa sekian pakar tafsir kontomporer kata qalam sebagai segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih, dan juga harus diingat bahwa qalam, pena, bukan satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan.
Perintah membaca, menelaah, meneliti dikaitkan dengan kata “bismirabbika” (dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.
Perintah membaca kedua ditemukan sekali lagi pada wahyu pertama. Tatapi kali ini, perintah tersebut dirangkaikan dengan kata warabbukal akram. Ayat ini merupakan dorongan untuk meningkatkan minat baca.
Dalam ayat Al-Qur’an hanya dua kali ditemukan kata al-akram. Ayat ke-3 surat Al-‘Alaq dan ayat ke 13 surat al-Hujurat, yaitu ”inna akramakum ‘indallaahi atqaakum.” Kata akram biasa diterjemahkan dengan “Maha Pemurah” atau “Semuli-mulia.” Untuk memahami lebih jauh arti yang sebenarnya dari kata akram, sewajarnya kita kembali kepada akar katanya yaitu karama yang menurut kamus-kamus bahasa Arab antara lain berarti memberikan dengan mudah dan tanpa pamrih, bernilai tinggi, terhormat, mulia, setia, dan kebangsawanan.
Dalam ditemukan kata kariim terulang sebanyak 27 kali. Kata tersebut menyifati 13 hal yang berbeda-beda seperti qawl (ucapan), rizq (rezeki), zawj (pasangan), malak (malaikat), zhil (naungan), dan sebagainya.
Tentulah pengertian yang dikandung kariim di atas pada ayat-ayat yang berbeda-beda di atas harus disesuaikan dengan subjek yang disifatinya. Kata kariim pada qawl (ucapan) tentu berbeda pengertiannya pada rizq (rezeki) dan zawj (pasangan). Ucapan yang kariim adalah ucapan yang baik, indah terdengar, benar susunan dan kandungannya, mudah dipahami serta menggambarkan segala sesuatu yang ingin disampaikan oleh pembicara. Sedangka kata kariim pada rizq yang dimaksud antara lain adalah banyak, bermanfaat, serta halal. Kalau demikian kita dapat  menyimpulkan bahwa kata karim dan kemudian akram digunakan oleh Al-Qur’an untuk menggambarkan segala sesuatu yang terpuji menyangkut subjek yang disifatinya.
Kembali kepada “rabubbukal akram”, yang disifati di sini adalah “Rabb” (Tuhan pemelihara). Apakah kata akram yang bersifat superlative  ini akan dibatasi pengertiannya dalam suatu hal tertentu? Jawabannya adalah tidak; apalagi ayat ini adalah satu-satunya ayat di dalam Al-Qur’an yang menyifati Tuhan dalam bentuk tersebut dari kata kariim.
“warabubbukal akram” mengandung pengertian bahwa Dia (Tuhan) dapat menganugrahkan puncak dari segala yang terpuji bagi segala hambanya yang membaca.
Kemudian ayat ketiga, “iqra’ warabbukal akram” di sisi lain dari tinjauan bahasa. Bahwa wa yang berarti ‘dan’ secara bahasa Arab berfungsi lil jam’i, untuk mengumpulkan. Maka dalam penerapannya, berkumpulnya hati dengan Allah, atau kesadaran bahwa Allah melihat kita dalam menuntut ilmu (membaca, menelaah, mendiskusikan, dsb.) inilah sesungguhnya yang diinginkan oleh Allah. Yang akhirnya ini pulalah yang menjadikan karam nya Allah dianugrahkan kepada kita dari tidak tahu menjadi tahu yang dinilai sebagai ibadah oleh Allah SWT
Al-Quran berangkat dari kepastian. Kepastian itu berangkat dari 1. Bahwa manusia benar-benar tidak berilmu, 2. Allah membimbing manusia tahu dan berilmu. Sehingga dengan demikian hakikatnya manusia selalu berpadu dengan Allah dan manusia butuh Allah.
“Terjemahan ayat-ayat dari wahyu yang pertama kali diturunkan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW di atas, dengan singkat menggambarkan ketegangan abadi manusia: manusia selalu membutuhkan pengetahuan tentang realitas. Manusia selalu berpadu dengan ilahi. Hanyalah bias, kerumitan, dan salah mengerti yang akan melahirkan frustasi dalam pencapaian, dan akhirnya akan menggelincirkannya dari jalan lurus. Begitu mereka menghadapi kenyataan bahwa kerinduannya pada Ilahi tidak pernah meredakan nuraninya dari letupan-letupan demi letupan, yang tidak akan membiarkannya terdiam di jalan yang menentang-Nya.”8

Suatu kepastian yang cocok disorot oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an menghilangkan keraguan. Al-Qur’an membedakan antara kepastian dan spekulasi. “Bila Al-Quran menyampaikan pendirian-pendirian yang kokoh, maka demikian pula halnya para ilmuwan. Mereka tidak mengakui salah cabang pengetahuan, kecuali jika cabang pengetahuan itu berlandaskan akal yang sehat dan argumen yang kuat, atau pengalaman yang mendalam.” 9

Al-Qur’an senantiasa menjelaskan pengertian suatu kata disertai dengan kata yang berlawanan dengannya. Penjelasan kata “haq” (kebenaran mutlak) juga disertai dengan penjelasan kata “baathil” (kebathilan). Pengetahuan tentang al-Haq (kebenaran mutlak) merupakan anugrah kepada manusia sejak lahir (fithrah). Sehingga tidak bersifat relative dan memerlukan sudut pandang. Demikian pula “shawaab” (kebenaran yang tidak bersifat muthlak) dengan lawannya “khata’” (kekeliruan, kesalahan). Al-Qu’ran juga menjelaskan beberapa terminology serta lawan katanya, sehingga dapat diketahui batasannya dengan jelas. Seperti kata iimaan  vs kufr, ‘adl vs zhulm, hidaayah vs bid’ah.
Kata kufr berarti kekafiran sebagai lawan kata iimaan yang berarti keimanan, mengandung pengertian tertutup/terkunci dari kebenaran. Demikian pula kata zhulm, kezhaliman dan kegelapan, sebagai lawan kata ‘adl, keadilan. Sebab perbuatan zhalim akumulasi dari perbuatan kegelapan (ketiadaan hidayah). Rasulullah menjelaskan bahwa azh-zhulm zhulumaat, kezhaliman itu adalah kegelapan.
A.    Penutup
Al-Qur’an yang berarti bacaan, mulanya berarti menghimpun. Proses membaca pada hakekatnya mengumpulkan segala sesuatu. Menghimpun dari Al-Quran atau dari ciptaan Allah. Diman Al-Qur’an dan ciptaan (khalq) berasal dari Allah SWT.
Catatan kaki:
[1]  Kamus Bahasa Arab Mahmud Yunus
2 Thomas Ballantine Irving dkk,  Al-Qur’an tentang Aqidah & Segala Amal – Ibadah Kita, Buku asli: The al-Qur’an: Basic Teacings diterjemahkan oleh A. Nashir Budiman, Cet. ke-2, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), Hal. 3

3 HM. Ashaf Shaleh, Takwa Makna dan Hikmahnya dalam Al-Qur’an, Editor: Setya Bhawono dan Sayed Mahdi, (Jakarta: Erlangga), Hal. ix

4  Dr. H.U. Syafruddin, Paradigma Tafsir tekstual & Kontekstual Usaha Memaknai Kembali pesan Al-Quran, Penyunting: Saifuddin Zuhri Qudsy, Cet. Pertama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009). Hal. 1
5 Drs. H. Ramli Abdul Wahid, MA,  Ulumul Qur’an,  Ed. Revisi, Cet. ke-4, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), Hal .1

6 Henri Shalahuddin, M.A, Al-Qur’an Dihujat, Penyunting: Nuim Hidayat, Cet. pertama, (Jakarta: Al-Qalam, 2007), Hal. 138-141

7 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Ed. Baru, Cet. ke-3, (Bandung: Mizan, 2009), Hal. 261-264

8  Thomas Hal. 1
9 Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy,  Al-Qur’an tentang Alam Semesta, Cet. ke-3, Penerjemah: Abdul Bar Salim, Judul Asli: On Cosmic Verses in The Qur’an. (Jakarta: Amzah, 2000). Hal. 6


Catatan: Makalah ini disampaikan dalam mata kuliah Bahasa Arab di  Jurusan PAI Pascasarjana IAIN Bukittinggi tanggal 30 September 2017


Diposting oleh HM Farid Wajri RM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar