Minggu, 07 Januari 2018

MERANTAU KE AZ-ZULFI

Alasanku sampai di Saudi Arabia ada dua hal, selain mengumpulkan uang untuk biaya S.2 juga mencontoh perjalanan buya Hamka yang umur 19 tahun sudah menunaikan rukun Islam yang kelima, melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Entah mana yang lebih dominan dari keduanya aku pun sulit mengukurnya. Sebab keduanya bagiku adalah cita-cita masa  kecil.
Az-Zulfi baru kuinjak dua hari yang lalu. Sebuah kota yang terletak di Provinsi Riyadh Negara Kerajaan Saudi Arabia. Riyadh itu sendiri merupakan ibukota dari Provinsi Riyadh juga sekaligus sebagai ibu kota Negara. Az-Zulfi berjarak lebih kurang 260 km di Barat laut kota Riyadh.
Malam yang ketiga aku tidur di dipan baruku.  Di atas dipan ada kasur berukuran 5 cm x 90 cm x 180 cm. Kasur itu dialas dengan kain yang tebal dan bagian permukaannya dilapisi beludu.
Sama halnya dengan malam sebelumnya, saat teman Indiaku terlihat sudah tidur dengan pulas, aku terbangun, dan seperti dua malam yang lalu sepuluh jemari dua tanganku mengusap-usap kain beludu. Dan seperti biasa aku tidak dapatkan hal yang basah, namun terasa bagai beku atau es. Aku kembali tidur, namun dinginnya beludu menembus rompi yang kupakai tidur dan tiga lapis kain sebelum sampai di kulitku membangunkanku. Malam yang panjang
Desember-Januari merupakan puncak musim dingin di daerah ini. Suhu mencapai 6 derjat Celcius. Jaket yang tebal tak mampu menahan dingin. Bahkan ketika mengeluarkan nafas pun udara di depan mulut memperlihatkan putih salju atau titik air di udara yang ikut berhembus.
Beruntung aku dapat majikan yang memberikan pinjaman. Uang itu dimanfaatkan untuk biaya pengurusan administrasi di Jakarta, tiket pesawat berangkat, dan uang saku awal sesampai di sini yang nanti aku ganti dengan potongan gaji selama 7 bulan pertama.
Dengan uang saku itulah aku beli sepasang pakaian kaus, celana panjang dan baju panjang lengan yang disebut dengan libas monkey. Setelah memperoleh itu ada pula teman majikanku yang memberiku rompi tebal – kain berbahan wol dan bagian dalamnya berbulu, juga sweater yang dalam sampai ke mata kakiku. Yang paling menempel di kulitku celana dalam dan singlet, kemudian celana dan baju monkey, kemudian baju kemeja panjang lengan dan celana katun panjang, seterusnya rompi tebal, dan bagian luar sweater. Totalnya lima lapis. Dan terakhir kepala ditutupi dengan kain syimag yang dipakaikan seperti penutup kepala Tuanku Imam Bonjol.
***
Aku merasa beruntung dapat mengenyam tinggal di bumi syariat Allah ini. Sebagai muslim sejati, aku dapat melihat langsung bagaimana praktek pelaksanaan hukum Islam dalam kehidupan.  Konon, penerapan aturan syariat berguna untuk kesejahteraan warga secara menyeluruh.
Waktu yang 24 jam oleh masyarakat disini dibagi 3;  ada waktu untuk bekerja, saat beribadah, dan ketika kumpul dengan keluarga. Rata-rata toko buka pukul 08.00 waktu Saudi. Dan bila azan zhuhur berkumandang semua tutup untuk melaksanakan shalat fardhu zhuhur berjamaah di masjid. Selesai shalat zhuhur, masing-masing pulang ke keluarga di rumah, berkumpul untuk makan siang, bercengkrama dan istirahat. Kemudian shalat ashar berjamaah dan toko dibuka kembali sampai larut malam pukul 21.00, 22.00, 23.00 dan sebagainya serta ada yang hanya sampai azan Isya seperti tokoku.
Aku dan kawan-kawan sepekerja selalu berangkat bersama menaiki mobil pra Mitsubishi atau L 300 tertutup. Kami berjumlah 11 orang, 4 orang Nepal, 6 orang India, dan 1 orang Indonesia. Tentu saja, orang Indonesia itu adalah aku. Dan sedikit aku bangga setidaknya kehormatan negaraku terjaga di rantau orang itu disebabkan oleh kemampuanku dalam berbahasa arab dan skill komputer. Bahasa Arab untuk melayani pelanggan dan pembeli dan komputer untuk meng-input barang-barang di meja kasir.
Tugasku berupa melayani tamu majikanku yang hampir datang tiap hari ke toko untuk bersilaturrahim, melakukan transaksi sebagai kasir, melaksanakan penjualan. Teristimewa menyuruh orang-orang Nepal dan India untuk membuat meja sesuai pesanan, memasangkan karpet di rumah-rumah pembeli, memuat lemari-lemari dan karpet ke mobil, memerintahkan mereka mengantarkan ke alamat pelanggan.
Walaupun demikian di mata majikan, aku tetaplah pekerja, tidak dapat duduk sama rendah tegak sama tinggi. Bagiku hanya satu, mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji dan membawa pundi untuk kuliah nanti.
***
Shuf, shuf, as-sariq, as-sariq1” ucap bocah kecil di depanku. Sambil melihat ke abi-nya dan melirik ke arahku sementara jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke pintu masuk.
Uskut, uskut2” jawab ayahnya dengan mimik tidak suka.
Sepintas seorang laki-laki masuk. Kubuktikan lengan baju tangan kanannya melambai-lambai tiap kali dia bergerak. Kuteruskan penglihatan ke bawah, tidak tampak jarinya, tidak ada tangannya. Potong tangan bagi pencuri telah tereksekusi padanya. Dia tersebut pencuri.
Aku tersadar, pantas saja bawang-bawang  bombai dan cabe di pasar yang tersingkap semalam hanya ditutup dengan kain. Dan pemiliknya meninggalkan saja  tergeletak di lapangan terbuka. Tanpa risau. Untuk mencuri orang berpikir 1001 kali, mengambil keuntungan sesaat atau akan kehilangan lengan  sepanjang hidup.
Kejahatan sangat kecil di Negara Islam ini. Untuk membunuh, orang berpikir dulu sebab dia pun akan dibunuh setelah itu. Sebagaimana yang diceritakan oleh Kamal, kawan India kamarku, bahwa dua tahun lalu telah dilakukan hukum pancung di alun-alun masjid Al-Ghannam. Itu dikarenakan dia telah membunuh dan ahli waris korban tidak mau memaafkan, maka mahkamah syariah memutuskan qishash padanya.
Berbeda dengan aku, Kamal memiliki beban berat keluarga. Umur yang masih relatif muda menanggung seorang isteri dan 4 anak. Maka bila dibandingkan dengan pekerja lain, dia lebih berhati-hati tatkala mengangkat mebel terutama yang berkaca seperti toilet untuk berhias, argementasinya hanya satu kalau jatuh dan pecah siap saja potong gaji.
Usyfii qaal3” tanyanya padaku dalam bahasa Arab pasaran yang tak tentu mana subjek, prediket, atau objek. Aku yang mempelajari bahasa Arab mengerti makna khutbah yang disampaikan waktu Jumat. Dan Kamal, nyaman bila duduk dekatku agar tiap kali informasi ada dia dapat bertanya padaku.
Kali ini selesai shalat Jumat ada muthawwa’, ulama yang memberikan pengumuman tentang adanya tindak pidana yang telah dilakukan dan akan dilangsungkan hukuman dera di halaman masjid. Usai shalat sunnah 2 rakaat, aku, Kamal dan jamaah lain buru-buru keluar untuk menyaksikan pengeksekusian.
Dari dalam kerangkeng mobil, keluarlah 3 orang yang berseragam polisi dan 1 orang yang berbadan besar memakai pakaian serba putih mulai dari bawah sampai ke kepala. Di kepalanya tergantung lepas syimag putih sebagaimana biasanya orang Arab memakainya.
Dua orang polisi memegang kedua lengan terpidana, membawanya ke depan mobil dengan perut menyentuh bagian depan mobil jeep milik polisi. Tangan kanan polisi yang satu memegang rotan, dan tangan kirinya menyentuh pinggul terpidana. Dalam pengawalan dua polisi, terpidana disuruh lagi ke dalam ternyata pakaian di pinggul itu lebih dari dua lapis.
Kemudian muthawwa’, membacakan berita acara pelaksanaan eksekusi. Tiap kali pukulan rotan menyentuh pinggul, tiap itu pula terpidana meringis, dan hal yang sama juga terjadi pada Kamal seakan dia merasakan sakitnya pukulan. 65 dera berlangsung cepat dan sekuat tenaga.
Ruh! Ruh!4” kata pembeli padaku saat aku mencoba mendekati wanita lambaian hitam. Wanita lambaian hitam ini hanyalah penamaan bagiku yang merasa asing dengan budaya lokal Az-Zulfi  yang sangat jauh berbeda dengan perempuan-perempuan Indonesia. Tiap wanita yang keluar rumah selalu menutup dirinya tepatnya seluruh tubuhnya dari ujung kuku kaki sampai ke ujung rambut dengan pakaian hitam. Wajahnyapun tersembunyi di balik cadar hitam, ya, yang tampak hanyalah matanya. Tak ada bedanya majikan perempuan, anak-anak perempuan mereka, atau bahkan TKW yang bekerja di sini.
Namun aku menghormati ulama yang mengabdikan hidup dan ilmunya berkiprah di Buraydah, ibu kota Provinsi Al-Qashim. Di tempat ini fatwa-fatwanya keluar dan dia adalah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kewibawaannya dirasakan sampai ke Az-Zulfi.
Sedetik aku terkejut oleh suara keras pembeli laki-laki tadi. Padahal jarak aku dan perempuan lambaian hitam itu ada 80 cm, dianya aja yang terlalu jauh atau membiarkan wanitanya lebih dulu masuk. Aku sebagai penjual tentu harus profesional, berusaha melayani pembeli sebaik mungkin, sedapat mungkin memberikan informasi yang dibutuhkannya. Berbicara pun antara penjual dan pembeli itu suatu hal yang tabu.
***
Lisy anta ma fii sajjal?5” lagi bahasa pasaran aku dengar dan keluar dari mulut Kamal. Bagiku itu suatu hal yang memusingkan namun bagaimana lagi, ketika aku coba menggunakan bahasa Arab dengan kaedah yang benar sesuai yang ada dalam Al-Qur’an tidak ada yang paham. Bahkan orang Arab pun jika tidak terpelajar tak memahami.
Ketika aku berbahasa dengan ketentuan yang benar, bila didengar oleh orang Arab mereka kagum kepadaku maka ungkapan-ungkapan masya Allah. Anta quwaisy. Barakallahu lak keluar dari mulut mereka menunjukkan kagum kepada sebagai pekerja yang terpelajar.
Ana khasarah6” Kamal tegas mengulang dan bersungut sambil melihat-lihat uang upah atas pekerjaan dalam sebulan ini. Aku lupa menambahkan gajinya sebagai biaya lembur 4 riyal. Satu jam lebih dari jadwal biasa yang dihitung sejak selesai shalat fardhu Isya, majikan menghargai pekerjanya dengan 1 riyal.
Lembur terjadi karena bawahanku memasang lemari Italia yang rada sulit, karpet turki yang tebalnya mencapai 10 mm, atau memperbaiki mebel-mebel yang rusak di rumah penduduk.
Aku segera mengeluarkan uang dari dompetku sebanyak 4 riyal. Aku ganti uangnya sebab bukankah bila dia terzhalimi aku akan dapat azab Tuhanku.
Syukron7” katanya masih memandang padaku manakala uang itu sudah masuk saku.
***
Orang Indonesia yang bekerja di daerah ini mencapai 50 orang, ini adalah mereka yang dapat aku jumpai ketika kegiatan sepak bola dilakukan. Dan tentu para Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia juga ramai, dan adalah suatu hal mustahil mengenal mereka. Ada yang satu hari, seminggu, sebulan, bahkan ada yang sudah 10 tahun. Ekonomi di kampung sulit.
Bagi para majikan makin lama bekerja makin menguntungkan. Mempertahankan yang lama lebih menjanjikan daripada mencari yang baru. Ada yang tiap tahun itu diberi pasongan 250 riyal dan diberikan ketika mereka akan pulang ke tanah air.
Namun bila yang lama tidak bertambah keterampilannya maka akan jadi beban bagi majikan. Sebab dia tidak dapat menurunkan keterampilan kepada tenaga-tenaga kerja lain. Produktivitas penjualan bisa menurun.
---
“Hal ra’aytal ‘ummal alladzina yasytaghilun fi makanin akhar?8” tanya majikanku di sela waktu kosong pembeli. Berbicara dengan majikan, menyenangkanku karena ia membangun susun pikirku dalam bahasa indah Arab.
Tapi kali ini pertanyaannya pelik. Seingatku baru kali ini.
Sami’tu Kamal yasytaghil fi baqalatir Riyadh.9” Jawabku “Lakinni lam aro10lanjutku.
Teman-teman Nepal pernah menyatakan padaku bahwa Kamal perlu menambah kegiatan kerjanya di tempat lain. Dia butuh pemasukan yang lebih dikarenakan anak-anaknya dalam waktu yang bersamaan masuk sekolah tingkat SLTP dan SLTA.
Gejala-gejala demikian menunjukkan kebenarannya. Daya kerjanya akhir-akhir loyo. Tidak bersemangat. Padahal sebelumnya dia menyelesaikan tiap suruhanku dengan cepat dan tuntas. Hingga banyak pelanggan yang meminta padaku agar mengutus Kamal untuk memperbaiki perabot rumah tangga mereka. Dengan demikian banyak pulalah dia dapat uang lembur.
Hanya saja dalam pikiranku mengapa dia tak pernah bercerita, ya! Tapi apa pula pikiranku dengan majikan yang bertanya tak biasa. Aku tak ambil peduli.
***
“Shiddiq! Jika kamu lihat satu atau beberapa orang di antara mereka, kamu beritahu aku jam berapa biasanya dan di mana lokasinya. ”Ungkap majikanku manakala dia belum menerima sesuatu respon dariku. “U’thika khomsina riyal bisababih11lanjutnya
“Na’am ya kafil12” jawabku. Ingin ku bertanya lanjut ‘mengapa’ tapi aku urung sebab mendalami urusan orang lain sesuatu yang tidak beradab. Apalagi aku orang asing merantau.
Hanya dengan sekedar memberikan informasi aku akan dapat uang 50 riyal atau 100 ribu rupiah lebih. Aku pikir mendapatkan uang yang tidak sulit. Mencari informasi mudah. Satu orang dari anak buahku selesai kerja selalu berperilaku aneh. Langsung menghilang, sementara lainnya masak dan makan baru berkeliaran atau membaca Al-Qur’an sampai larut malam.
Orangnya kurus. Kurus yang menunjukkan adanya kekuatan. Dengan otot-otot yang keluar dari dalam lengannya, dengan matanya yang selalu liar tatkala bicara, menunjukkan bagiku semangat yang tidak pudar. Yang memiliki tekad membaja.
Dialah Kamal. Orang India. Empat tahun lebih awal dariku sebagai pencari kerja di bumi padang pasir ini. Jika aku memiliki impian dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang S.2,  maka dia mempunyai cita-cita dapat menyekolahkan 3 orang anak-anaknya sampai perguruan tinggi.
Bila aku menandatangani kontrak yang jelas bahwa aku bekerja untuk kesuksesan penjualan sang majikan, maka kupikir dia pun juga begitu sebelum sampai di sini. Maka sesungguhnya tatkala ada kegiatan yang mengabdi untuk sesuatu yang lain apalagi itu bisa merugikan sang majikan, tentu saja suatu sikap yang tak dapat dibenarkan.
Jadwal kegiatanku mulai mengalami pergeseran. Tatkala sebelumnya aku asyik mempelajari shahih bukhari sekarang memata-matai bawahanku. Ketika dulu dapat bercengkerama dan bersilaturrahim dengan teman-teman sesama TKI, sekarang aku berjalan kedinginan di luar mengintip-intip tiap kedai harian kalau-kalau ada anggotaku yang menambah pundi-pundi riyal.
Toko tempatku beraktivitas sudah tutup pukul 08.00 waktu Arab Saudi atau usai menunaikan shalat Isya. Sebagai toko mebel dan karpet agaknya cukup baiklah mengakhiri aktivitas lebih awal untuk memberikan waktu pemasangannya di rumah-rumah penduduk. Sisa waktu setelah shalat Isya sampai kira-kira pukul 11.00 waktu Arab Saudi inilah yang merupakan peluang untuk kerja paruh waktu.
Tiba-tiba aku memukul keningku dengan telapak tanganku. Penat mataku keliling, rupanya dialah si Kamal, yang bekerja di kedai harian ‘Riyadh’ yang tak jauh dari lokasi tinggalku yang aku selalu berlangganan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Wahai majikan! Apakah engkau tahu kedai harian ‘Riyadh’ yang berada di sebelah rumah yang engkau sewakan bagi kami?” tanyaku suatu waktu sambil memberikan info secara tak langsung bahwa aku berhasil memperoleh mangsa.
“Ia! Manajernya orang India, namun aku tak tahu siapa namanya!” tanggap majikanku langsung menunjukkan keterbatasannya.
“Namanya Muhammad Tajuddin. Biasa dipanggil Taj. Aku lihat Kamal malam tadi sekitar pukul 10.00 bekerja di situ.”
“Apakah kamu lihat dengan mata kepalamu sendiri? Sudah berapa kali?” majikanku menyelidik.
“Ya. Saya menyaksikannya bekerja di sana sebanyak 3 kali pada jam yang sama. Dan malam tadi sudah yang keempat.”
Syukran” jawabnya berterima kasih.
Bagi majikanku makin lama pekerja dengannya, maka satu sisi dia dibebani dengan memberikan reward separuh gaji per satu tahun. Ketika orang yang seperti Kamal sudah bekerja selama 6 tahun maka ini memberatkan, apalagi sekarang kualami akhir-akhir ini langganan agak sepi.
Maka berbuat sedikit nakal, itu menguntungkan sebab dapat menghindarkan pengeluaran yang sesungguhnya merupakan kewajiban tiap majikan membayarkan tiket kembali ke tanah air.
Keesokan harinya kerongkonganku tercekat. Tiba-tiba, tiga orang polisi Saudi datang ke tokoku. Walaupun tampilan mereka ramah namun pasti ada kaitannya dengan pekerja yang aku adukan kepada majikan kemaren.
Ketiganya mengucapkan salam dan menyalami erat telapak tanganku.  Sambil menyapaku sebagai orang Indonesia mereka senyum bersahabat. Ketika sudah kubalas dengan senyum tulusku, mereka berlalu masuk ruangan majikan.
“Shiddiq! Kemarilah!” panggil majikanku tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.
“Panggilkan Kamal bagiku!” perintahnya berwibawa penuh kemenangan
Setelah Kamal tiba, majikanku langsung memerintahkan kepadanya naik ke atas mobil polisi. Dan sirine mobil polisi bergema.
Akhirnya kuketahui bahwa Kamal, temanku itu dan pemilik kedai harian “Riyadh” yang juga orang India di sidang di pengadilan dan mereka membayar denda ribuan riyal.
Aku berpikir majikanku bukanlah nakal. Tapi pemerintahnya memberikan perlindungan kepada penduduknya sampai kepada kontrak bisnis yang berlangsung antara orang Saudi dengan pekerja asing.
Aku bergumam. Negaraku?



Penjelasan:
       1.  Lihat! Lihat! Pencuri! Pencuri!
       2. Diamlah! Diamlah!
       3. Apa yang dia katakan?
       4. Segera menjauh! Segera menjauh!
       5. Mengapa engkau tidak mencatatkan?
       6. Saya rugi.
       7. Terima kasih.
       8. Apakah engkau melihat para pekerja yang bekerja di tempat lain?
       9. Saya telah mendengar bahwa Kamal bekerja di kedai harian “Riyadh.
      10. Tapi saya belum melihatnya.
      11. Saya akan beri kamu 50 riyal
      12.  Ya, wahai majikan!


Catatan: 
- Cerpen ini diangkat dari true story (kisah nyata).
- Cerpen ini dimuat dalam buku "Buah Sebuah Pilihan". Sebuah buku kumpulan puisi dan cerpen siswa dan guru SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh Sumatera Barat karya: Akhlakqul Imam, HM Farid Wajri RM, dan Rahadatul Aisy. Diterbitkan pertama kali pada Maret 2017 oleh Goresan Pena. 


Diposkan oleh HM Farid Wajri RM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar