Alasanku
sampai di Saudi Arabia ada dua hal, selain mengumpulkan uang untuk biaya S.2
juga mencontoh perjalanan buya Hamka yang umur 19 tahun sudah menunaikan rukun
Islam yang kelima, melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Entah mana yang lebih
dominan dari keduanya aku pun sulit mengukurnya. Sebab keduanya bagiku adalah
cita-cita masa kecil.
Az-Zulfi
baru kuinjak dua hari yang lalu. Sebuah kota yang terletak di Provinsi Riyadh
Negara Kerajaan Saudi Arabia. Riyadh itu sendiri merupakan ibukota dari Provinsi
Riyadh juga sekaligus sebagai ibu kota Negara. Az-Zulfi berjarak lebih kurang
260 km di Barat laut kota Riyadh.
Malam
yang ketiga aku tidur di dipan baruku. Di atas dipan ada kasur berukuran 5 cm x 90 cm
x 180 cm. Kasur itu dialas dengan kain yang tebal dan bagian permukaannya
dilapisi beludu.
Sama
halnya dengan malam sebelumnya, saat teman Indiaku terlihat sudah tidur dengan
pulas, aku terbangun, dan seperti dua malam yang lalu sepuluh jemari dua
tanganku mengusap-usap kain beludu. Dan seperti biasa aku tidak dapatkan hal
yang basah, namun terasa bagai beku atau es. Aku kembali tidur, namun dinginnya
beludu menembus rompi yang kupakai tidur dan tiga lapis kain sebelum sampai di
kulitku membangunkanku. Malam yang panjang
Desember-Januari
merupakan puncak musim dingin di daerah ini. Suhu mencapai 6 derjat Celcius.
Jaket yang tebal tak mampu menahan dingin. Bahkan ketika mengeluarkan nafas pun
udara di depan mulut memperlihatkan putih salju atau titik air di udara yang
ikut berhembus.
Beruntung
aku dapat majikan yang memberikan pinjaman. Uang itu dimanfaatkan untuk biaya
pengurusan administrasi di Jakarta, tiket pesawat berangkat, dan uang saku awal
sesampai di sini yang nanti aku ganti dengan potongan gaji selama 7 bulan
pertama.
Dengan
uang saku itulah aku beli sepasang pakaian kaus, celana panjang dan baju
panjang lengan yang disebut dengan libas
monkey. Setelah memperoleh itu ada pula teman majikanku yang memberiku
rompi tebal – kain berbahan wol dan bagian dalamnya berbulu, juga sweater yang dalam sampai ke mata
kakiku. Yang paling menempel di kulitku celana dalam dan singlet, kemudian
celana dan baju monkey, kemudian baju
kemeja panjang lengan dan celana katun panjang, seterusnya rompi tebal, dan
bagian luar sweater. Totalnya lima
lapis. Dan terakhir kepala ditutupi dengan kain syimag yang dipakaikan seperti penutup kepala Tuanku Imam Bonjol.
***
Aku
merasa beruntung dapat mengenyam tinggal di bumi syariat Allah ini. Sebagai
muslim sejati, aku dapat melihat langsung bagaimana praktek pelaksanaan hukum
Islam dalam kehidupan. Konon, penerapan
aturan syariat berguna untuk kesejahteraan warga secara menyeluruh.
Waktu
yang 24 jam oleh masyarakat disini dibagi 3; ada waktu untuk bekerja, saat beribadah, dan
ketika kumpul dengan keluarga. Rata-rata toko buka pukul 08.00 waktu Saudi. Dan
bila azan zhuhur berkumandang semua tutup untuk melaksanakan shalat fardhu
zhuhur berjamaah di masjid. Selesai shalat zhuhur, masing-masing pulang ke
keluarga di rumah, berkumpul untuk makan siang, bercengkrama dan istirahat. Kemudian
shalat ashar berjamaah dan toko dibuka kembali sampai larut malam pukul 21.00,
22.00, 23.00 dan sebagainya serta ada yang hanya sampai azan Isya seperti
tokoku.
Aku
dan kawan-kawan sepekerja selalu berangkat bersama menaiki mobil pra Mitsubishi atau L 300 tertutup. Kami berjumlah 11 orang, 4 orang Nepal, 6 orang
India, dan 1 orang Indonesia. Tentu saja, orang Indonesia itu adalah aku. Dan
sedikit aku bangga setidaknya kehormatan negaraku terjaga di rantau orang itu
disebabkan oleh kemampuanku dalam berbahasa arab dan skill komputer. Bahasa Arab untuk melayani pelanggan dan pembeli
dan komputer untuk meng-input
barang-barang di meja kasir.
Tugasku
berupa melayani tamu majikanku yang hampir datang tiap hari ke toko untuk
bersilaturrahim, melakukan transaksi sebagai kasir, melaksanakan penjualan.
Teristimewa menyuruh orang-orang Nepal dan India untuk membuat meja sesuai
pesanan, memasangkan karpet di rumah-rumah pembeli, memuat lemari-lemari dan
karpet ke mobil, memerintahkan mereka mengantarkan ke alamat pelanggan.
Walaupun
demikian di mata majikan, aku tetaplah pekerja, tidak dapat duduk sama rendah
tegak sama tinggi. Bagiku hanya satu, mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah
haji dan membawa pundi untuk kuliah nanti.
***
“Shuf, shuf, as-sariq, as-sariq1”
ucap bocah kecil di depanku. Sambil melihat ke abi-nya dan melirik ke arahku
sementara jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke pintu masuk.
“Uskut, uskut2” jawab ayahnya
dengan mimik tidak suka.
Sepintas
seorang laki-laki masuk. Kubuktikan lengan baju tangan kanannya melambai-lambai
tiap kali dia bergerak. Kuteruskan penglihatan ke bawah, tidak tampak jarinya,
tidak ada tangannya. Potong tangan bagi pencuri telah tereksekusi padanya. Dia
tersebut pencuri.
Aku
tersadar, pantas saja bawang-bawang
bombai dan cabe di pasar yang tersingkap semalam hanya ditutup dengan
kain. Dan pemiliknya meninggalkan saja
tergeletak di lapangan terbuka. Tanpa risau. Untuk mencuri orang
berpikir 1001 kali, mengambil keuntungan sesaat atau akan kehilangan
lengan sepanjang hidup.
Kejahatan
sangat kecil di Negara Islam ini. Untuk membunuh, orang berpikir dulu sebab dia
pun akan dibunuh setelah itu. Sebagaimana yang diceritakan oleh Kamal, kawan
India kamarku, bahwa dua tahun lalu telah dilakukan hukum pancung di alun-alun
masjid Al-Ghannam. Itu dikarenakan dia telah membunuh dan ahli waris korban
tidak mau memaafkan, maka mahkamah syariah memutuskan qishash padanya.
Berbeda
dengan aku, Kamal memiliki beban berat keluarga. Umur yang masih relatif muda
menanggung seorang isteri dan 4 anak. Maka bila dibandingkan dengan pekerja
lain, dia lebih berhati-hati tatkala mengangkat mebel terutama yang berkaca
seperti toilet untuk berhias, argementasinya hanya satu kalau jatuh dan pecah
siap saja potong gaji.
“Usyfii qaal3” tanyanya padaku
dalam bahasa Arab pasaran yang tak tentu mana subjek, prediket, atau objek. Aku
yang mempelajari bahasa Arab mengerti makna khutbah yang disampaikan waktu Jumat.
Dan Kamal, nyaman bila duduk dekatku agar tiap kali informasi ada dia dapat
bertanya padaku.
Kali
ini selesai shalat Jumat ada muthawwa’, ulama yang memberikan pengumuman
tentang adanya tindak pidana yang telah dilakukan dan akan dilangsungkan
hukuman dera di halaman masjid. Usai shalat sunnah 2 rakaat, aku, Kamal dan
jamaah lain buru-buru keluar untuk menyaksikan pengeksekusian.
Dari
dalam kerangkeng mobil, keluarlah 3 orang yang berseragam polisi dan 1 orang
yang berbadan besar memakai pakaian serba putih mulai dari bawah sampai ke
kepala. Di kepalanya tergantung lepas syimag
putih sebagaimana biasanya orang Arab memakainya.
Dua
orang polisi memegang kedua lengan terpidana, membawanya ke depan mobil dengan
perut menyentuh bagian depan mobil jeep
milik polisi. Tangan kanan polisi yang satu memegang rotan, dan tangan kirinya
menyentuh pinggul terpidana. Dalam pengawalan dua polisi, terpidana disuruh
lagi ke dalam ternyata pakaian di pinggul itu lebih dari dua lapis.
Kemudian
muthawwa’, membacakan berita acara pelaksanaan eksekusi. Tiap kali
pukulan rotan menyentuh pinggul, tiap itu pula terpidana meringis, dan hal yang
sama juga terjadi pada Kamal seakan dia merasakan sakitnya pukulan. 65 dera
berlangsung cepat dan sekuat tenaga.
“Ruh! Ruh!4” kata pembeli
padaku saat aku mencoba mendekati wanita lambaian hitam. Wanita lambaian hitam
ini hanyalah penamaan bagiku yang merasa asing dengan budaya lokal
Az-Zulfi yang sangat jauh berbeda dengan
perempuan-perempuan Indonesia. Tiap wanita yang keluar rumah selalu menutup
dirinya tepatnya seluruh tubuhnya dari ujung kuku kaki sampai ke ujung rambut
dengan pakaian hitam. Wajahnyapun tersembunyi di balik cadar hitam, ya, yang
tampak hanyalah matanya. Tak ada bedanya majikan perempuan, anak-anak perempuan
mereka, atau bahkan TKW yang bekerja di sini.
Namun
aku menghormati ulama yang mengabdikan hidup dan ilmunya berkiprah di Buraydah,
ibu kota Provinsi Al-Qashim. Di tempat ini fatwa-fatwanya keluar dan dia adalah
Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Kewibawaannya dirasakan sampai ke Az-Zulfi.
Sedetik
aku terkejut oleh suara keras pembeli laki-laki tadi. Padahal jarak aku dan
perempuan lambaian hitam itu ada 80 cm, dianya aja yang terlalu jauh atau
membiarkan wanitanya lebih dulu masuk. Aku sebagai penjual tentu harus
profesional, berusaha melayani pembeli sebaik mungkin, sedapat mungkin
memberikan informasi yang dibutuhkannya. Berbicara pun antara penjual dan
pembeli itu suatu hal yang tabu.
***
“Lisy anta ma fii sajjal?5”
lagi bahasa pasaran aku dengar dan keluar dari mulut Kamal. Bagiku itu suatu
hal yang memusingkan namun bagaimana lagi, ketika aku coba menggunakan bahasa Arab
dengan kaedah yang benar sesuai yang ada dalam Al-Qur’an tidak ada yang paham.
Bahkan orang Arab pun jika tidak terpelajar tak memahami.
Ketika
aku berbahasa dengan ketentuan yang benar, bila didengar oleh orang Arab mereka
kagum kepadaku maka ungkapan-ungkapan masya Allah. Anta quwaisy. Barakallahu lak keluar dari mulut mereka menunjukkan
kagum kepada sebagai pekerja yang terpelajar.
“Ana khasarah6” Kamal tegas
mengulang dan bersungut sambil melihat-lihat uang upah atas pekerjaan dalam
sebulan ini. Aku lupa menambahkan gajinya sebagai biaya lembur 4 riyal. Satu
jam lebih dari jadwal biasa yang dihitung sejak selesai shalat fardhu Isya,
majikan menghargai pekerjanya dengan 1 riyal.
Lembur
terjadi karena bawahanku memasang lemari Italia yang rada sulit, karpet turki
yang tebalnya mencapai 10 mm, atau memperbaiki mebel-mebel yang rusak di rumah
penduduk.
Aku
segera mengeluarkan uang dari dompetku sebanyak 4 riyal. Aku ganti uangnya
sebab bukankah bila dia terzhalimi aku akan dapat azab Tuhanku.
“Syukron7” katanya masih
memandang padaku manakala uang itu sudah masuk saku.
***
Orang
Indonesia yang bekerja di daerah ini mencapai 50 orang, ini adalah mereka yang
dapat aku jumpai ketika kegiatan sepak bola dilakukan. Dan tentu para Tenaga
Kerja Wanita (TKW) Indonesia juga ramai, dan adalah suatu hal mustahil mengenal
mereka. Ada yang satu hari, seminggu, sebulan, bahkan ada yang sudah 10 tahun.
Ekonomi di kampung sulit.
Bagi
para majikan makin lama bekerja makin menguntungkan. Mempertahankan yang lama
lebih menjanjikan daripada mencari yang baru. Ada yang tiap tahun itu diberi
pasongan 250 riyal dan diberikan ketika mereka akan pulang ke tanah air.
Namun
bila yang lama tidak bertambah keterampilannya maka akan jadi beban bagi
majikan. Sebab dia tidak dapat menurunkan keterampilan kepada tenaga-tenaga
kerja lain. Produktivitas penjualan bisa menurun.
---
“Hal ra’aytal ‘ummal alladzina yasytaghilun fi makanin akhar?8” tanya majikanku di sela waktu kosong pembeli. Berbicara dengan
majikan, menyenangkanku karena ia membangun susun pikirku dalam bahasa indah Arab.
Tapi
kali ini pertanyaannya pelik. Seingatku baru kali ini.
“Sami’tu Kamal yasytaghil fi baqalatir
Riyadh.9” Jawabku “Lakinni
lam aro10” lanjutku.
Teman-teman
Nepal pernah menyatakan padaku bahwa Kamal perlu menambah kegiatan kerjanya di
tempat lain. Dia butuh pemasukan yang lebih dikarenakan anak-anaknya dalam
waktu yang bersamaan masuk sekolah tingkat SLTP dan SLTA.
Gejala-gejala
demikian menunjukkan kebenarannya. Daya kerjanya akhir-akhir loyo. Tidak
bersemangat. Padahal sebelumnya dia menyelesaikan tiap suruhanku dengan cepat
dan tuntas. Hingga banyak pelanggan yang meminta padaku agar mengutus Kamal
untuk memperbaiki perabot rumah tangga mereka. Dengan demikian banyak pulalah
dia dapat uang lembur.
Hanya
saja dalam pikiranku mengapa dia tak pernah bercerita, ya! Tapi apa pula
pikiranku dengan majikan yang bertanya tak biasa. Aku tak ambil peduli.
***
“Shiddiq!
Jika kamu lihat satu atau beberapa orang di antara mereka, kamu beritahu aku
jam berapa biasanya dan di mana lokasinya. ”Ungkap majikanku manakala dia belum
menerima sesuatu respon dariku. “U’thika
khomsina riyal bisababih11”lanjutnya
“Na’am ya kafil12” jawabku.
Ingin ku bertanya lanjut ‘mengapa’ tapi aku urung sebab mendalami urusan orang
lain sesuatu yang tidak beradab. Apalagi aku orang asing merantau.
Hanya
dengan sekedar memberikan informasi aku akan dapat uang 50 riyal atau 100 ribu
rupiah lebih. Aku pikir mendapatkan uang yang tidak sulit. Mencari informasi
mudah. Satu orang dari anak buahku selesai kerja selalu berperilaku aneh.
Langsung menghilang, sementara lainnya masak dan makan baru berkeliaran atau
membaca Al-Qur’an sampai larut malam.
Orangnya
kurus. Kurus yang menunjukkan adanya kekuatan. Dengan otot-otot yang keluar
dari dalam lengannya, dengan matanya yang selalu liar tatkala bicara,
menunjukkan bagiku semangat yang tidak pudar. Yang memiliki tekad membaja.
Dialah
Kamal. Orang India. Empat tahun lebih awal dariku sebagai pencari kerja di bumi
padang pasir ini. Jika aku memiliki impian dapat melanjutkan pendidikan ke
jenjang S.2, maka dia mempunyai
cita-cita dapat menyekolahkan 3 orang anak-anaknya sampai perguruan tinggi.
Bila
aku menandatangani kontrak yang jelas bahwa aku bekerja untuk kesuksesan
penjualan sang majikan, maka kupikir dia pun juga begitu sebelum sampai di
sini. Maka sesungguhnya tatkala ada kegiatan yang mengabdi untuk sesuatu yang
lain apalagi itu bisa merugikan sang majikan, tentu saja suatu sikap yang tak
dapat dibenarkan.
Jadwal
kegiatanku mulai mengalami pergeseran. Tatkala sebelumnya aku asyik mempelajari
shahih bukhari sekarang memata-matai
bawahanku. Ketika dulu dapat bercengkerama dan bersilaturrahim dengan
teman-teman sesama TKI, sekarang aku berjalan kedinginan di luar
mengintip-intip tiap kedai harian kalau-kalau ada anggotaku yang menambah
pundi-pundi riyal.
Toko
tempatku beraktivitas sudah tutup pukul 08.00 waktu Arab Saudi atau usai
menunaikan shalat Isya. Sebagai toko mebel dan karpet agaknya cukup baiklah
mengakhiri aktivitas lebih awal untuk memberikan waktu pemasangannya di
rumah-rumah penduduk. Sisa waktu setelah shalat Isya sampai kira-kira pukul
11.00 waktu Arab Saudi inilah yang merupakan peluang untuk kerja paruh waktu.
Tiba-tiba
aku memukul keningku dengan telapak tanganku. Penat mataku keliling, rupanya
dialah si Kamal, yang bekerja di kedai harian ‘Riyadh’ yang tak jauh dari
lokasi tinggalku yang aku selalu berlangganan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
“Wahai
majikan! Apakah engkau tahu kedai
harian ‘Riyadh’ yang berada di sebelah rumah yang engkau sewakan bagi
kami?” tanyaku suatu waktu sambil memberikan info secara tak langsung bahwa aku
berhasil memperoleh mangsa.
“Ia!
Manajernya orang India, namun aku tak tahu siapa namanya!” tanggap majikanku
langsung menunjukkan keterbatasannya.
“Namanya
Muhammad Tajuddin. Biasa dipanggil Taj. Aku lihat Kamal malam tadi sekitar
pukul 10.00 bekerja di situ.”
“Apakah
kamu lihat dengan mata kepalamu sendiri? Sudah berapa kali?” majikanku
menyelidik.
“Ya.
Saya menyaksikannya bekerja di sana sebanyak 3 kali pada jam yang sama. Dan
malam tadi sudah yang keempat.”
“Syukran” jawabnya berterima kasih.
Bagi
majikanku makin lama pekerja dengannya, maka satu sisi dia dibebani dengan
memberikan reward separuh gaji per satu tahun. Ketika orang yang seperti Kamal
sudah bekerja selama 6 tahun maka ini memberatkan, apalagi sekarang kualami
akhir-akhir ini langganan agak sepi.
Maka
berbuat sedikit nakal, itu menguntungkan sebab dapat menghindarkan pengeluaran
yang sesungguhnya merupakan kewajiban tiap majikan membayarkan tiket kembali ke
tanah air.
Keesokan
harinya kerongkonganku tercekat. Tiba-tiba, tiga orang polisi Saudi datang ke
tokoku. Walaupun tampilan mereka ramah namun pasti ada kaitannya dengan pekerja
yang aku adukan kepada majikan kemaren.
Ketiganya
mengucapkan salam dan menyalami erat telapak tanganku. Sambil menyapaku sebagai orang Indonesia
mereka senyum bersahabat. Ketika sudah kubalas dengan senyum tulusku, mereka
berlalu masuk ruangan majikan.
“Shiddiq!
Kemarilah!” panggil majikanku tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.
“Panggilkan
Kamal bagiku!” perintahnya berwibawa penuh kemenangan
Setelah
Kamal tiba, majikanku langsung memerintahkan kepadanya naik ke atas mobil
polisi. Dan sirine mobil polisi bergema.
Akhirnya
kuketahui bahwa Kamal, temanku itu dan pemilik kedai harian “Riyadh” yang juga
orang India di sidang di pengadilan dan mereka membayar denda ribuan riyal.
Aku
berpikir majikanku bukanlah nakal. Tapi pemerintahnya memberikan perlindungan
kepada penduduknya sampai kepada kontrak bisnis yang berlangsung antara orang
Saudi dengan pekerja asing.
Aku
bergumam. Negaraku?
Penjelasan:
1. Lihat!
Lihat! Pencuri! Pencuri!
2. Diamlah!
Diamlah!
3. Apa
yang dia katakan?
4. Segera
menjauh! Segera menjauh!
5. Mengapa
engkau tidak mencatatkan?
6. Saya
rugi.
7. Terima
kasih.
8. Apakah
engkau melihat para pekerja yang bekerja di tempat lain?
9. Saya
telah mendengar bahwa Kamal bekerja di kedai harian “Riyadh.
10. Tapi saya belum melihatnya.
11. Saya akan beri kamu 50 riyal
12. Ya, wahai majikan!
Catatan:
- Cerpen ini diangkat dari true story (kisah nyata).
- Cerpen ini dimuat dalam buku "Buah Sebuah Pilihan". Sebuah buku kumpulan puisi dan cerpen siswa dan guru SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh Sumatera Barat karya: Akhlakqul Imam, HM Farid Wajri RM, dan Rahadatul Aisy. Diterbitkan pertama kali pada Maret 2017 oleh Goresan Pena.
Diposkan oleh HM Farid Wajri RM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar