“Andai saja ada tulisan dilarang parkir
di pinggir jalan taman, tentulah Farde tidak akan memarkir sepeda motornya di sana.
Dia bisa tampil saat ada pemanggilan tadi.” Vina menyampaikan alasan
keterlambatan penyair hebat di hadapan para penonton.
Sesungguhnya Vina sangat kesal. Sebagai
anak asuh di sanggar sastra yang dikelola oleh Farde, dia hadir jauh dari Payakumbuh untuk menyaksikan
penampilan sang guru. Mengajak serta teman-temannya yang punya hobi yang sama.
Dia pergi atas kemauan sendiri. Bukan ditawari ikut oleh gurunya. Dia antusias
ingin melihat langsung di panggung resmi di Jam Gadang. Yang jarang dia
dapatkan selain hanya di ruang sanggar.
Farde bukan tidak mau mengajak Vina.
Namun waktu pelaksanaan acara publik selalu bersamaan dengan jam Vina membantu
orang tuanya. Entah mengapa dan bagaimana di Jam Gadang ini, Vina bisa sampai
ke sini.
Vina sengaja memohon kepada sang guru
agar naik ke panggung berdua. Vina memiliki maksud terselubung, curhat
kepada penonton. Dan dalam pandangan Farde ini kesempatan emas bagi Vina menunjukkan
bakat yang selama ini sudah dia asah.
…
Tentu saja vina bukan main girangnya
tatkala nama guru terdaftar di urut pertama. Dia membaca pemberitahuan tersebut
tidak sengaja hanya karena secara iseng dia membuka akun facebooknya. Para
penyair yang akan membacakan puisi masing-masing di jam gadang. Sebuah acara
Baca Puisi yang akan diikuti para
penyair Sumatera Barat bahkan akan hadir pula penyair dari luar ranah Minang.
Jam Gadang. Puisi. Penyair Sumbar, Riau,
bahkan Aceh. Pikiran Vina berkecamuk. Dadanya bergemuruh. Menerima pesan dalam
rindu yang menggebu. Mulai Jumat dia mengangsur pekerjaannya. Dia kontak
teman-teman yang akan menemani. Satu, dua, tiga, sampai 6 temannya dapat dia
ajak. Rekreasi sekali gus studi. Itulah pikir mereka.
Vina lebih memilih duduk di samping Vera
yang menyetir mobil. Di depan. Pilihannya di depan dengan alasan lebih leluasa
melihat alam terkembang. Alam takambang jadi guru. Itulah filosofi
budaya Minang. Mungkin banyak yang dapat dia ambil dan tuliskan. Terlintas
pulalah dalam benaknya di mana parkir mobil Vera nanti. Maklum ini hari Sabtu. Hari
yang ramai buat orang berakhir pekan di kota wisata Bukittinggi.
Vina dan teman-temannya sepakat parkir di
dekat masjid Raya. Hingga dapat langsung shalat ashar. Selepas itu lihat
situasi lokasi acara. Bagi Vera dan teman lainnya Bukittinggi terutama sekitar
Jam Gadang bukan sesuatu yang asing. Berbeda dengan Vina yang baru dua kali
dengan sekarang sempat ke sini. Sastra dan belanja bagi mereka tak dapat
dipisahkan dan bagi Vina sastra, prestasi, dan orang tua harus prioritas.
Vina sangat santun pada dosen. Walaupun
baru semester pertama di sebuah perguruan tinggi, dia sudah kesohor sejak masa
plonco. Sebab vokal, berpihak pada objektivitas dan keadilan. Suka menulis.
Sore ini pelataran Jam Gadang sudah lebih
ramai dari biasa. Para pengunjung banyak berlalu lalang. Ada pula yang berdiri.
Ada juga yang jongkok. Penyair-penyair datang dari Pekan Baru, Rokan
Hilir, Aceh. Selain itu, ada pula datang
dari kabupaten dan kota yang di Sumatera Barat. Dari Padang, Padang Panjang,
Bukittinggi, Payakumbuh dan seterusnya. Mereka datang untuk memperindah
Bukittinggi nanti malam dengan suara-suara estetis dan bunyi-bunyi eksotis.
Daun-daun bergoyang riang seakan
menyambut indah sastra. Bercengkerama dengan semilir angin yang menerpa
kardus-kardus yang bergelantung. Diiringi soundtrack dari penjual kaset yang
DVD nya terus bernyanyi. Kadang-kadang bunyi klakson mobil dan motor
meningkahi. Hiruk-pikuk yang bersahaja dari suara kendaraan berjalan melingkari
taman jam gadang. Di sebelahnya berdiri Ramayana dengan megahnya.
Menjelang senja suasana makin ramai.
Dinaungi cerahnya langit pertanda hari baik. Pengunjung makin banyak tampak
berdiri membaca puisi-puisi yang dikirim penyair. Puisi-puisi yang ditulis di
kardus-kardus itu bertemakan Parabek Bukittinggi dan Islam. Pajangan puisi itu
mengandung nilai artistik yang amat menarik. Sehingga tak heran, sebagian
pengunjung Jam Gadang mengambil kesempatan untuk berfoto berlatarkan
kardus-kardus yang berubah nilai.
Vina membaca puisi sang guru. Satu-satu.
Dia lafalkan penuh penghayatan. Terkesima. Bagai masuk, berada dalam suasana
alam lain. Lupa dia akan teman-temannya. Tatkala sudah berhadapan untuk sesuatu
yang dapat mengantarkannya memenuhi dahaga jiwa.
“Vina! Vina! Vina!” sambil menepuk pundak
Vina, Vera memanggil-manggilnya. Perlu tiga kali baru Vina menoleh.
“Tuh, disana! Ada yang coba menyapamu,”
seru Vera.
“Dimana?” Vina tak melihat.
“Di pagar yang mengililingi jam gadang.
Di antara orang yang berjaket biru dan berkaos merah. Tuh, masih senyum. Menatap
ke kita.”
“Dia guruku. Untuk alasan dia kita ke
tempat ini. Kita kunjungi yuk” Sahut Vina sambung menyambung.
Vina sengan bukan main. Dengan langkah
bagai terbang dia berjalan. Teman-temannya mengiringi, ingin berkenalan dengan
sang pemilik sanggar yang namanya harum. Catatan tersendiri bagi kawan-kawannya
dapat bertemu langsung di arena yang berharga dengan nama yang sering sebagai
juri lomba puisi. Sebentar lagi. Ya sebentar lagi. Mereka dapat melihat secara
langsung dan belajar langsung cara membaca puisi dari para penyair termasuk
sang idola dan itu nomor urut pertama.
Setelah berkenalan dan mendalami
tiap-tiap kawan Vina, Farde bertanya:
“Parkir dimana?”
“Di dekat masjid Raya. Kalau Uda**?”
Vina balik bertanya
“Lebih dekat dari sini. Di belakang Jam
Gadang ini. Tadi Uda sudah bertanya kepada ketua panitia. Katanya disitu.”
Jelas Farde.
“Kami telah membaca puisi Uda. Disana,”
Vina menunjuk ke arah dia datang tadi.
“Disitu, ya,” jawab sang guru pura-pura
tidak tahu.
Selesai kira-kira orang-orang keluar dari
masjid, usai menunaikan shalat isya di malam minggu itu, pembawa acara mulai
menyapa pengunjung tempat wisata. Menyapa penonton yang berdesakan berdiri.
Tali direntang antara tonggak-tonggak membatasi mereka, memisahkan mereka
dengan arena utama. Pembawa acara menyapa penyair yang sudah hadir dan menyuruh
mereka masuk untuk duduk di atas tikar yang dibentangkan. Di antara penyair ada
yang membawa teman sambil bertamasya. Termasuk Farde yang sudah duduk di antara
isteri dan putrinya.
Di tengah ada hamparan karpet biru yang
diisi oleh dua tonggak mikro. Di antara karpet dan penyair yang duduk, dipasang
dua lampu sorot yang sangat terang memperindah penglihatan di depan. Pembawa
acara yang suaranya memikat dan di belakangnya tegak berdiri jam gadang
Bukittinggi yang dibangun tahun 1926.
Vina dan teman-temannya karena kenal
dekat dengan Farde dapat masuk. Mereka menikmati malam. Menikmati alam terbuka
di malam minggu yang berarti. Menikmati jernihnya langit. Duduk di dalam malam
di alam terbuka yang sesak.
Pembukaan sederhana sedang berlangsung.
Selanjutnya pembawa acara mengumumkan bahwa siapa yang memarkir kendaraannya di
sekitar taman pelataran Jam Gadang supaya segera memindahkannya. Pembawa acara memanggil
pembaca wahyu ilahi. Acara pembukaan terus berlanjut dengan sambutan panita dan
terakhir sambutan dari pihak pemerintah sekali gus membuka secara resmi.
Vina dan teman-temannya sudah mulai
gelisah. Sebentar lagi Sang Guru Farde dipanggil dan dia belum kembali.
Menyesal pula dia mengapa tadi tidak menemani. Dia mengambil Hand Phone dari
dalam tas kecil yang setia menemaninya. Mudah-mudahan nomor Guru Farde masih
ada. Alhamdulillah. Hati kecilnya bicara. Segera dia menelepon. Telepon yang
anda tuju tidak menjawab. Seorang wanita berbicara.
Benar saja. Dari tempatnya dan Vera
berdiri sekarang sayup terdengar suara pembaca acara menyebut nama Farde. Pertanda
puisi-puisi sebentar lagi akan mulai dibacakan oleh penciptanya. Dan guru yang
dia segani tidak ada. Dia mestinya bisa menunjukkan kepada para penonton yang
menyaksikan bahwa itulah gurunya. Angan di pikiran bertolak belakang dengan
kenyataan di hadapan.
Apa usahanya. Tempat-tempat parkir mereka
sudah datangi. Mau saja dia melabrak sepeda-sepeda motor yang menghambat agar
dapat sampai ke lokasi parkir berikut. Tergesa dan tergopoh. Liar mata mereka
menatap setiap laki-laki. Terfokus pada yang memakai baju kemeja hitam. Farde
menggunakan kostum kemeja hitam.
Dari jauh makin sayup bunyi mikropon
menyampaikan pesan. Karena Farde belum juga menaiki pentas, maka penampilan
gurunya diundur.
Sesekali Vina menempelkan Hand Phone ke
telinganya. Dia telah menghubungi gurunya masuk hitungan kesepuluh. Nada dering
jelas berbunyi dengan speaker diaktifkan agar dapat didengar pula oleh Vera. Ada
menyambung tapi tidak diangkat. Kesal marah. Dia terus memegang Hand Phonenya.
Berharap Guru Farde menelepon balik.
Mereka berdua memilih duduk di trotoar
seberang motor-motor yang diparkir. Letih lesu. Harapan pupus. Vina
menselonjorkan kaki ke depan. Bertopang tangan yang diletakkan di atas trotoar
di bagian belakang. Vina menengadah ke
langit luas. Matanya melihat terang bulan. Hatinya menangkap yang di balik
bulan. Hitam kelam. Sesungguhnya dia sedang masygul.
“Sampaikan ke Linda, MC acara ini, bahwa pentil sepeda motor Uda dicopot.
Bannya dikempeskan. Sekarang sedang di bengkel tempel benen.” Instruksi Uda
Farde ke Vina sambil menerangkan apa yang terjadi.
“Baik Uda.” Vina menjawab dari
balik Hand Phonenya.
Vina melesat sambil menarik tangan Vera
mengajaknya pergi. Vera terbengong, tak mengerti apa yang terjadi. Di lokasi
parkir Uda Farde tampak pula dua temannya yang lain jalan modar-mandir.
Setelah mereka berempat bertemu, Vina membawa mereka menjumpai MC.
“Ibu Linda! Farde sekarang sedang di
bengkel tempel benen. Ban hondanya dikempeskan oleh juru parkir.”
“Ya. Terima kasih!” balas Ibu Linda sang
MC.
Sesaat kemudian terdengar pemberitahuan
darinya kepada penonton usai penyair dari Pekan Baru turun dari pentas
pertunjukan seni berpuisi. Tiga temannya yang tadinya mendesak meminta jawaban
telah memahami penjelasan Linda tentang apa yang terjadi.
Keras penuh semangat speaker berteriak
menyalurkan penjelasan Linda tentang bahwa pernah datang rombongan pemerintah
kota yang di Jawa ke Bukittinggi ini dalam rangka studi banding. Di samping itu
mereka sempatkan singgah ke lokasi indah Jam Gadang kita ini. Seusai itu,
mereka berpesan tak akan pernah datang lagi kalau masalah parkir yang
semberawut di sekitar sini tidak ditertibkan.
Bagi sang pembawa acara kebijakan
pengempesan ban sepeda motor oleh petugas parkir suatu bentuk pendisiplinan
terhadap pengendara. Dia berkoar dan memberikan pujian untuk mendukung program
pariwisata ke Bukittinggi. Ada Ngarai Sianok di sini, Lobang Jepang, kebun
binatang, Benteng Fort de Kock. Promosi terhadap yang hadir.
Bagi Vina itu merupakan informasi yang
memekakkan telinganya. Seakan Guru Farde orang bejat, tak kenal aturan. Tak
disiplin. Dia tutup telinganya. Awas! Teman-temannya dan tiga temannya yang
lain yang juga menyusul heran dengan ulah Vina. Ada apa Vina sengaja menutup
telinganya.
Sementara pengunjung yang yang menonton
sudah ada yang meninggalkan lokasi. Mereka anggap ini acara tak beres. Antusias
yang menggebu untuk menyaksikan jadi mengendor. Tampil perdana tidak naik
panggung. Sebagian yang tadinya ingin kabur, urung, setelah mendengar
penjelasan MC. Rupanya masalah parkir yang tidak di tempatnya.
Dari arah Masjid Raya Vina mengamati
laki-laki kemeja hitam. Orang-orang masih berlalu lalang. Maklum ini jalur
penyeberangan ke Ramayana. Sekali-kali menutupi laki-laki tersebut. Tepuk
tangan bergemuruh datang dari arah punggungnya mengapresiasi penampilan penyair
Aceh. Tapi itu penghinaan bagi Vina, bagi gurunya.
Di antara lampu jalan dan sinar yang
datang dari lokasi serta lampu-lampu kedai pedagang yang tetap bertahan mengais
rezeki membelah malam, laki-laki berkemeja hitam mengangkat telapak tangan dan
menempelkannya ke telinga.
Benar. Itu dia. Gumam Vina membathin.
Kami di tempat parkir awal, Vina memberi tahu.
“Uda
mau duduk dulu?” Tanya Vina. Sebenarnya dia lebih bersedia memanggil Bapak dari
Uda. Namun karena itu sudah jadi sebutan umum dia tak pula hendak
mengubahnya.
Dapat tawaran seperti itu Farde tak dapat
mengelak. Dia memang capek. Setelah dia tahu bahwa ban sepeda motornya
dikempeskan dan sadar akan dipanggil beberapa saat lagi, Farde langsung menanyakan
lokasi menambah angin ban. Sekarang waktu menunjukkan 20.40 WIB. Kalau ditunggu, dia khawatir pekerjanya
menutup rezeki. Maka tanpa pikir panjang dia hidupkan motornya, lalu
mengendarai ke arah yang ditunjukkan.
Apa daya. Maksud hati hanya menambah
angin. Karena dikendarai dalam keadaan tidak berangin berakibat banyak yang
bocor. 4 bolong. Dia sadar tadi menaikinya terlalu kencang. Menguras isi saku
juga. Dia mau marah, marah pada siapa. Siapakah yang salah?
Biarlah ini pelengkap sejarah hidupnya
sebagai pencipta dan pembaca syair. Untuk dia ceritakan tentang koordinasi yang
selalu saja sering tak terjadi antara orang-orang yang berkompeten. Petugas
parkir yang sok berkuasa setelah diberitahu ketua panitia atau ketua panitia
yang sok pintar dan tak mau bertanya. Entahlah! Ini akan jadi bahan puisi spesial.
Tak lama setelah itu pembawa acara
mengumumkan kita sambut Farde. Rupanya Vera telah memberi tahu pembawa acara
bahwa Guru Farde telah tiba.
Vina ngotot ingin tampil mendampingi.
Yang benar harus disampaikan walaupun pahit, katanya membathin. Keenam temannya
melongo. Vina tak biasanya bertindak nekat seperti ini.
Pembawa acara memberikan mikro kepada Farde,
tapi Vina mengambilnya dengan halus dan sopan. Baginya perlu ada pembelaan
terhadap orang yang dia hormati. Gurunya bukan sekali dua kali saja hadir untuk
mengisi berbagai acara, bahkan sanggar sastra yang dia kelola sering pula
diminta sebagai penyelenggara. Sangat disiplin.
Walaupun Vina menyaksikan gemuruh tepuk
tangan dari sang penonton dan dapat ungkapan pujian dari Linda terhadap
penampilan Gurunya, namun dia menyayangkan usai berpuisi sang guru tidak
memberi komentar atas jawaban dari alasan keterlambatannya.
…
Laju mobil Avanza hitam makin kencang
menuruni jalan dari Bukittinggi ke Payakumbuh. Jalan yang lengang menambah
bobot percepatan. Sesekali mobil travel menyelip. Malam yang dingin
menggerakkan tangannya untuk menurunkan suhu AC mobilnya. Vera melihat ke depan
agak santai. Tidak ada siapa-siapa. Warna gelap melingkup badan gunung Sago di
kejauhan.
Semua diam. Teman-temannya tutup mulut.
Jujur, mereka terpuaskan oleh acara yang disajikan. Selain kantuk yang mulai
menyerang, mereka belum berani bicara. Vina yang mengajak mereka ikut serta,
bungkam. Sejak kejadian yang menimpa Guru Farde Vina lebih banyak murung.
Meskipun matanya tetap menyala menyaksikan pementasan.
“Mengapa kamu menutup telinga tadi?”
tanya Vera kepada Vina memecah kesunyian.
“Kamu kan menyimak. Bagaimana dengan
bangganya Linda si MC itu memperkenalkan kebijakan pengempesan ban sepeda
motor. Tanpa ada peringatan. Padahal Guru Farde sudah mengikuti prosedur sesuai
perintah ketua panitia. Tapi justru itu berefek negatif yang mengesankan dia
tak beradab.”
Benar-benar terbalik. Dia sebagai tamu
bahkan undangan panitia justru pulang dengan penghinaan.
_______________________________________________________
*
Terinspirasi dari kejadian seorang sahabat yang dikempeskan ban sepeda
motornya dalam acara Temu Penyair se-Sumatera Beranda Puisi Jam Gadang 2017
tanggal 11 Februari 2017. Sahabat itu seorang penyair. Padahal dia sudah
mengikuti petunjuk panitia dalam memarkir sepeda motornya.
* Cerpen ini dimuat pada halaman 154 - 164 di dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Prosa Melukis Rasa karya 29 cerpenis Indonesia.terbitan FAM Publishing, November 2017
** Abang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar