Minggu, 07 Januari 2018

PARKIR JAM GADANG*

“Andai saja ada tulisan dilarang parkir di pinggir jalan taman, tentulah Farde tidak akan memarkir sepeda motornya di sana. Dia bisa tampil saat ada pemanggilan tadi.” Vina menyampaikan alasan keterlambatan penyair hebat di hadapan para penonton.
Sesungguhnya Vina sangat kesal. Sebagai anak asuh di sanggar sastra yang dikelola oleh Farde, dia  hadir jauh dari Payakumbuh untuk menyaksikan penampilan sang guru. Mengajak serta teman-temannya yang punya hobi yang sama. Dia pergi atas kemauan sendiri. Bukan ditawari ikut oleh gurunya. Dia antusias ingin melihat langsung di panggung resmi di Jam Gadang. Yang jarang dia dapatkan selain hanya di ruang sanggar.
Farde bukan tidak mau mengajak Vina. Namun waktu pelaksanaan acara publik selalu bersamaan dengan jam Vina membantu orang tuanya. Entah mengapa dan bagaimana di Jam Gadang ini, Vina bisa sampai ke sini.
Vina sengaja memohon kepada sang guru agar naik ke panggung berdua. Vina memiliki maksud terselubung, curhat kepada penonton. Dan dalam pandangan Farde ini kesempatan emas bagi Vina menunjukkan bakat yang selama ini sudah dia asah.
Tentu saja vina bukan main girangnya tatkala nama guru terdaftar di urut pertama. Dia membaca pemberitahuan tersebut tidak sengaja hanya karena secara iseng dia membuka akun facebooknya. Para penyair yang akan membacakan puisi masing-masing di jam gadang. Sebuah acara Baca Puisi  yang akan diikuti para penyair Sumatera Barat bahkan akan hadir pula penyair dari luar ranah Minang.
Jam Gadang. Puisi. Penyair Sumbar, Riau, bahkan Aceh. Pikiran Vina berkecamuk. Dadanya bergemuruh. Menerima pesan dalam rindu yang menggebu. Mulai Jumat dia mengangsur pekerjaannya. Dia kontak teman-teman yang akan menemani. Satu, dua, tiga, sampai 6 temannya dapat dia ajak. Rekreasi sekali gus studi. Itulah pikir mereka.
Vina lebih memilih duduk di samping Vera yang menyetir mobil. Di depan. Pilihannya di depan dengan alasan lebih leluasa melihat alam terkembang. Alam takambang jadi guru. Itulah filosofi budaya Minang. Mungkin banyak yang dapat dia ambil dan tuliskan. Terlintas pulalah dalam benaknya di mana parkir mobil Vera nanti. Maklum ini hari Sabtu. Hari yang ramai buat orang berakhir pekan di kota wisata Bukittinggi.
Vina dan teman-temannya sepakat parkir di dekat masjid Raya. Hingga dapat langsung shalat ashar. Selepas itu lihat situasi lokasi acara. Bagi Vera dan teman lainnya Bukittinggi terutama sekitar Jam Gadang bukan sesuatu yang asing. Berbeda dengan Vina yang baru dua kali dengan sekarang sempat ke sini. Sastra dan belanja bagi mereka tak dapat dipisahkan dan bagi Vina sastra, prestasi, dan orang tua harus prioritas.
Vina sangat santun pada dosen. Walaupun baru semester pertama di sebuah perguruan tinggi, dia sudah kesohor sejak masa plonco. Sebab vokal, berpihak pada objektivitas dan keadilan. Suka menulis.
Sore ini pelataran Jam Gadang sudah lebih ramai dari biasa. Para pengunjung banyak berlalu lalang. Ada pula yang berdiri. Ada juga yang jongkok. Penyair-penyair datang dari Pekan Baru, Rokan Hilir,  Aceh. Selain itu, ada pula datang dari kabupaten dan kota yang di Sumatera Barat. Dari Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan seterusnya. Mereka datang untuk memperindah Bukittinggi nanti malam dengan suara-suara estetis dan bunyi-bunyi eksotis.
Daun-daun bergoyang riang seakan menyambut indah sastra. Bercengkerama dengan semilir angin yang menerpa kardus-kardus yang bergelantung. Diiringi soundtrack dari penjual kaset yang DVD nya terus bernyanyi. Kadang-kadang bunyi klakson mobil dan motor meningkahi. Hiruk-pikuk yang bersahaja dari suara kendaraan berjalan melingkari taman jam gadang. Di sebelahnya berdiri Ramayana dengan megahnya.
Menjelang senja suasana makin ramai. Dinaungi cerahnya langit pertanda hari baik. Pengunjung makin banyak tampak berdiri membaca puisi-puisi yang dikirim penyair. Puisi-puisi yang ditulis di kardus-kardus itu bertemakan Parabek Bukittinggi dan Islam. Pajangan puisi itu mengandung nilai artistik yang amat menarik. Sehingga tak heran, sebagian pengunjung Jam Gadang mengambil kesempatan untuk berfoto berlatarkan kardus-kardus yang berubah nilai.
Vina membaca puisi sang guru. Satu-satu. Dia lafalkan penuh penghayatan. Terkesima. Bagai masuk, berada dalam suasana alam lain. Lupa dia akan teman-temannya. Tatkala sudah berhadapan untuk sesuatu yang dapat mengantarkannya memenuhi dahaga jiwa.
“Vina! Vina! Vina!” sambil menepuk pundak Vina, Vera memanggil-manggilnya. Perlu tiga kali baru Vina menoleh.
“Tuh, disana! Ada yang coba menyapamu,” seru Vera.
“Dimana?” Vina tak melihat.
“Di pagar yang mengililingi jam gadang. Di antara orang yang berjaket biru dan berkaos merah. Tuh, masih senyum. Menatap ke kita.”
“Dia guruku. Untuk alasan dia kita ke tempat ini. Kita kunjungi yuk” Sahut Vina sambung menyambung.
Vina sengan bukan main. Dengan langkah bagai terbang dia berjalan. Teman-temannya mengiringi, ingin berkenalan dengan sang pemilik sanggar yang namanya harum. Catatan tersendiri bagi kawan-kawannya dapat bertemu langsung di arena yang berharga dengan nama yang sering sebagai juri lomba puisi. Sebentar lagi. Ya sebentar lagi. Mereka dapat melihat secara langsung dan belajar langsung cara membaca puisi dari para penyair termasuk sang idola dan itu nomor urut pertama.
Setelah berkenalan dan mendalami tiap-tiap kawan Vina, Farde bertanya:
“Parkir dimana?”
“Di dekat masjid Raya. Kalau Uda**?” Vina balik bertanya
“Lebih dekat dari sini. Di belakang Jam Gadang ini. Tadi Uda sudah bertanya kepada ketua panitia. Katanya disitu.” Jelas Farde.
“Kami telah membaca puisi Uda. Disana,” Vina menunjuk ke arah dia datang tadi.
“Disitu, ya,” jawab sang guru pura-pura tidak tahu.
Selesai kira-kira orang-orang keluar dari masjid, usai menunaikan shalat isya di malam minggu itu, pembawa acara mulai menyapa pengunjung tempat wisata. Menyapa penonton yang berdesakan berdiri. Tali direntang antara tonggak-tonggak membatasi mereka, memisahkan mereka dengan arena utama. Pembawa acara menyapa penyair yang sudah hadir dan menyuruh mereka masuk untuk duduk di atas tikar yang dibentangkan. Di antara penyair ada yang membawa teman sambil bertamasya. Termasuk Farde yang sudah duduk di antara isteri dan putrinya.
Di tengah ada hamparan karpet biru yang diisi oleh dua tonggak mikro. Di antara karpet dan penyair yang duduk, dipasang dua lampu sorot yang sangat terang memperindah penglihatan di depan. Pembawa acara yang suaranya memikat dan di belakangnya tegak berdiri jam gadang Bukittinggi yang dibangun tahun 1926.
Vina dan teman-temannya karena kenal dekat dengan Farde dapat masuk. Mereka menikmati malam. Menikmati alam terbuka di malam minggu yang berarti. Menikmati jernihnya langit. Duduk di dalam malam di alam terbuka yang sesak.
Pembukaan sederhana sedang berlangsung. Selanjutnya pembawa acara mengumumkan bahwa siapa yang memarkir kendaraannya di sekitar taman pelataran Jam Gadang supaya segera  memindahkannya. Pembawa acara memanggil pembaca wahyu ilahi. Acara pembukaan terus berlanjut dengan sambutan panita dan terakhir sambutan dari pihak pemerintah sekali gus membuka secara resmi.
Vina dan teman-temannya sudah mulai gelisah. Sebentar lagi Sang Guru Farde dipanggil dan dia belum kembali. Menyesal pula dia mengapa tadi tidak menemani. Dia mengambil Hand Phone dari dalam tas kecil yang setia menemaninya. Mudah-mudahan nomor Guru Farde masih ada. Alhamdulillah. Hati kecilnya bicara. Segera dia menelepon. Telepon yang anda tuju tidak menjawab. Seorang wanita berbicara.
Benar saja. Dari tempatnya dan Vera berdiri sekarang sayup terdengar suara pembaca acara menyebut nama Farde. Pertanda puisi-puisi sebentar lagi akan mulai dibacakan oleh penciptanya. Dan guru yang dia segani tidak ada. Dia mestinya bisa menunjukkan kepada para penonton yang menyaksikan bahwa itulah gurunya. Angan di pikiran bertolak belakang dengan kenyataan di hadapan.
Apa usahanya. Tempat-tempat parkir mereka sudah datangi. Mau saja dia melabrak sepeda-sepeda motor yang menghambat agar dapat sampai ke lokasi parkir berikut. Tergesa dan tergopoh. Liar mata mereka menatap setiap laki-laki. Terfokus pada yang memakai baju kemeja hitam. Farde menggunakan kostum kemeja hitam.
Dari jauh makin sayup bunyi mikropon menyampaikan pesan. Karena Farde belum juga menaiki pentas, maka penampilan gurunya diundur.
Sesekali Vina menempelkan Hand Phone ke telinganya. Dia telah menghubungi gurunya masuk hitungan kesepuluh. Nada dering jelas berbunyi dengan speaker diaktifkan agar dapat didengar pula oleh Vera. Ada menyambung tapi tidak diangkat. Kesal marah. Dia terus memegang Hand Phonenya. Berharap Guru Farde menelepon balik.
Mereka berdua memilih duduk di trotoar seberang motor-motor yang diparkir. Letih lesu. Harapan pupus. Vina menselonjorkan kaki ke depan. Bertopang tangan yang diletakkan di atas trotoar di bagian belakang.  Vina menengadah ke langit luas. Matanya melihat terang bulan. Hatinya menangkap yang di balik bulan. Hitam kelam. Sesungguhnya dia sedang masygul.
“Sampaikan ke Linda, MC acara ini,  bahwa pentil sepeda motor Uda dicopot. Bannya dikempeskan. Sekarang sedang di bengkel tempel benen.” Instruksi Uda Farde ke Vina sambil menerangkan apa yang terjadi.
“Baik Uda.” Vina menjawab dari balik Hand Phonenya.
Vina melesat sambil menarik tangan Vera mengajaknya pergi. Vera terbengong, tak mengerti apa yang terjadi. Di lokasi parkir Uda Farde tampak pula dua temannya yang lain jalan modar-mandir. Setelah mereka berempat bertemu, Vina membawa mereka menjumpai MC.
“Ibu Linda! Farde sekarang sedang di bengkel tempel benen. Ban hondanya dikempeskan oleh juru parkir.”
“Ya. Terima kasih!” balas Ibu Linda sang MC.
Sesaat kemudian terdengar pemberitahuan darinya kepada penonton usai penyair dari Pekan Baru turun dari pentas pertunjukan seni berpuisi. Tiga temannya yang tadinya mendesak meminta jawaban telah memahami penjelasan Linda tentang apa yang terjadi.
Keras penuh semangat speaker berteriak menyalurkan penjelasan Linda tentang bahwa pernah datang rombongan pemerintah kota yang di Jawa ke Bukittinggi ini dalam rangka studi banding. Di samping itu mereka sempatkan singgah ke lokasi indah Jam Gadang kita ini. Seusai itu, mereka berpesan tak akan pernah datang lagi kalau masalah parkir yang semberawut di sekitar sini tidak ditertibkan.
Bagi sang pembawa acara kebijakan pengempesan ban sepeda motor oleh petugas parkir suatu bentuk pendisiplinan terhadap pengendara. Dia berkoar dan memberikan pujian untuk mendukung program pariwisata ke Bukittinggi. Ada Ngarai Sianok di sini, Lobang Jepang, kebun binatang, Benteng Fort de Kock. Promosi terhadap yang hadir.
Bagi Vina itu merupakan informasi yang memekakkan telinganya. Seakan Guru Farde orang bejat, tak kenal aturan. Tak disiplin. Dia tutup telinganya. Awas! Teman-temannya dan tiga temannya yang lain yang juga menyusul heran dengan ulah Vina. Ada apa Vina sengaja menutup telinganya.
Sementara pengunjung yang yang menonton sudah ada yang meninggalkan lokasi. Mereka anggap ini acara tak beres. Antusias yang menggebu untuk menyaksikan jadi mengendor. Tampil perdana tidak naik panggung. Sebagian yang tadinya ingin kabur, urung, setelah mendengar penjelasan MC. Rupanya masalah parkir yang tidak di tempatnya.
Dari arah Masjid Raya Vina mengamati laki-laki kemeja hitam. Orang-orang masih berlalu lalang. Maklum ini jalur penyeberangan ke Ramayana. Sekali-kali menutupi laki-laki tersebut. Tepuk tangan bergemuruh datang dari arah punggungnya mengapresiasi penampilan penyair Aceh. Tapi itu penghinaan bagi Vina, bagi gurunya.
Di antara lampu jalan dan sinar yang datang dari lokasi serta lampu-lampu kedai pedagang yang tetap bertahan mengais rezeki membelah malam, laki-laki berkemeja hitam mengangkat telapak tangan dan menempelkannya ke telinga.
Benar. Itu dia. Gumam Vina membathin. Kami di tempat parkir awal, Vina memberi tahu.
Uda mau duduk dulu?” Tanya Vina. Sebenarnya dia lebih bersedia memanggil Bapak dari Uda. Namun karena itu sudah jadi sebutan umum dia tak pula hendak mengubahnya.
Dapat tawaran seperti itu Farde tak dapat mengelak. Dia memang capek. Setelah dia tahu bahwa ban sepeda motornya dikempeskan dan sadar akan dipanggil beberapa saat lagi, Farde langsung menanyakan lokasi menambah angin ban. Sekarang waktu menunjukkan 20.40  WIB. Kalau ditunggu, dia khawatir pekerjanya menutup rezeki. Maka tanpa pikir panjang dia hidupkan motornya, lalu mengendarai ke arah yang ditunjukkan.
Apa daya. Maksud hati hanya menambah angin. Karena dikendarai dalam keadaan tidak berangin berakibat banyak yang bocor. 4 bolong. Dia sadar tadi menaikinya terlalu kencang. Menguras isi saku juga. Dia mau marah, marah pada siapa. Siapakah yang salah?
Biarlah ini pelengkap sejarah hidupnya sebagai pencipta dan pembaca syair. Untuk dia ceritakan tentang koordinasi yang selalu saja sering tak terjadi antara orang-orang yang berkompeten. Petugas parkir yang sok berkuasa setelah diberitahu ketua panitia atau ketua panitia yang sok pintar dan tak mau bertanya. Entahlah! Ini  akan jadi bahan puisi spesial.
Tak lama setelah itu pembawa acara mengumumkan kita sambut Farde. Rupanya Vera telah memberi tahu pembawa acara bahwa Guru Farde telah tiba.
Vina ngotot ingin tampil mendampingi. Yang benar harus disampaikan walaupun pahit, katanya membathin. Keenam temannya melongo. Vina tak biasanya bertindak nekat seperti ini.
Pembawa acara memberikan mikro kepada Farde, tapi Vina mengambilnya dengan halus dan sopan. Baginya perlu ada pembelaan terhadap orang yang dia hormati. Gurunya bukan sekali dua kali saja hadir untuk mengisi berbagai acara, bahkan sanggar sastra yang dia kelola sering pula diminta sebagai penyelenggara. Sangat disiplin.
Walaupun Vina menyaksikan gemuruh tepuk tangan dari sang penonton dan dapat ungkapan pujian dari Linda terhadap penampilan Gurunya, namun dia menyayangkan usai berpuisi sang guru tidak memberi komentar atas jawaban dari alasan keterlambatannya.
Laju mobil Avanza hitam makin kencang menuruni jalan dari Bukittinggi ke Payakumbuh. Jalan yang lengang menambah bobot percepatan. Sesekali mobil travel menyelip. Malam yang dingin menggerakkan tangannya untuk menurunkan suhu AC mobilnya. Vera melihat ke depan agak santai. Tidak ada siapa-siapa. Warna gelap melingkup badan gunung Sago di kejauhan.
Semua diam. Teman-temannya tutup mulut. Jujur, mereka terpuaskan oleh acara yang disajikan. Selain kantuk yang mulai menyerang, mereka belum berani bicara. Vina yang mengajak mereka ikut serta, bungkam. Sejak kejadian yang menimpa Guru Farde Vina lebih banyak murung. Meskipun matanya tetap menyala menyaksikan pementasan.
“Mengapa kamu menutup telinga tadi?” tanya Vera kepada Vina memecah kesunyian.
“Kamu kan menyimak. Bagaimana dengan bangganya Linda si MC itu memperkenalkan kebijakan pengempesan ban sepeda motor. Tanpa ada peringatan. Padahal Guru Farde sudah mengikuti prosedur sesuai perintah ketua panitia. Tapi justru itu berefek negatif yang mengesankan dia tak beradab.”
Benar-benar terbalik. Dia sebagai tamu bahkan undangan panitia justru pulang dengan penghinaan.

_______________________________________________________


*     Terinspirasi dari kejadian seorang sahabat yang dikempeskan ban sepeda motornya dalam acara Temu Penyair se-Sumatera Beranda Puisi Jam Gadang 2017 tanggal 11 Februari 2017. Sahabat itu seorang penyair. Padahal dia sudah mengikuti petunjuk panitia dalam memarkir sepeda motornya.
*     Cerpen ini dimuat pada halaman 154 - 164 di dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Prosa Melukis Rasa karya 29 cerpenis Indonesia.terbitan FAM Publishing, November 2017

**   Abang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar